Benteng Van den Bosch, Wisata Tersembunyi di Ngawi

150 views
0

WartaWisata.ID Benteng Van den Bosch, lebih dikenal sebagai Benteng Pendem adalah sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Lokasinya mudah dijangkau yakni dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi +/- 1 Km arah timur laut. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat dari luar terpendam.

Benteng Pendem merupakan wisata sejarah tersembunyi yang menyimpan sejarah bangsa Indonesia di masa lalu. Meski tampilan bangunan masih kokoh berdiri, ternyata beberapa bagian rusak dan lapuk karena termakan usia. Benteng yang dibangun pada masa penjajahan Hindia Belanda ini berdiri tahun 1839-1845. Namanya Fort of Van Den Bosch atau Benteng Van Den Bosch yang dibangun saat Jendral Johanes Van Den Bosch berkuasa.

Dengan luas tanah lebih dari 18 hektar, Benteng Pendem memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m. Lokasinya mudah dijangkau, yaitu dari di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Menariknya, bangunan ini dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga nama terpendam. Dari letak itulah dikenal dengan nama Benteng Pendem.

Nama Van Den Bosch sendiri di ambil dari pemimpin kolonial Belanda yang menduduki benteng tersebut ketika masa penjajahan dulu.

Bangunan yang kini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi ini dulunya menjadi markas besar Belanda untuk melawan perjuangan Pangeran Diponegoro. Setidaknya, benteng ini dihuni tentara Belanda sebanyak kurang lebih 250 orang yang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri yang dipimpin oleh Jendral Johannes Van Den Bosch. Di dalamnya, terdapat banyak ruangan yang dibatasi oleh tembok. Ada ruang pimpinan, pasukan, dan gudang amunisi.

Pemandangan menarik sudah terlihat dari pintu masuk. Gerbang pembuka memiliki gerigi yang khas tempo dulu. Bentuknya melengkung di bagian atas, seakan-akan membawa ke masa 180 tahun yang lalu. Lebarnya dibangun persegi panjang sehingga menutupi bangunan utama. Di bangunan utama, terdiri dari dua lantai yang memanjang dan berbentuk persegi panjang. Hingga kini bangunan tersebut masih kokoh, meski warnanya kian memudar

Komentar kamu?