Tradisi Nyembelih Manusia Bekakak Dusun Cemanggal, Sebuah Adat yang Masih Hidup

Nyembelih Manusia Bekakak Ialah salah satu kegiatan adat masyarakat cemanggal dalam satu ritual upacara adat.

70 views
0

WartaWisata.ID – Dusun Cemanggal merupakan satu daerah atau kawasan pendahulu sebagai kampung tua di gunung ungaran atau dalam bahasa jawa tua yakni winggit. Melihat corak kehidupan warga juga kegiatan adat dan budaya yang sangat agung. Salah satunya adalah kegiatan adat istiadat Nyembelih Manusia Bekakak yaitu Tradisi penyembelihan manusia bekakak. Nyembelih Manusia Bekakak Ialah salah satu kegiatan adat masyarakat cemanggal dalam satu ritual upacara adat.

Yang dilakukan pada hari sabtu pon dalam pada bulan Jumadhil Akhir dalam kalender jawa. Prosesi kegiatan adat ini adalah rangkaian dari kagiatan kadeso atau ruwatan desa. dimana setiap setahun sekali seluruh warga akan berkumpul dihalaman sesepuh desa atau kepala dusun untuk mensyukuri limpahan kesuburan tanah dan hasil bumi. juga segala bentuk rasa syukur masyarakat kepada kehidupan. Lereng Gunung Ungaran. Dusun Cemanggal – Desa Wisata Munding. Sabtu, (6/02 )

Sebelum memulai acara pada pagi hari. seluruh warga cemanggal sudah berkumpul bersama segala macam masakan dan kebutuhan yang akan digunakan dalam upacara Nyembelih bekakak ini. Setelah seluruh warga berkumpul dan segala kebutuhan dan perlengakapan siap. seluruh warga akan berjalan bersama melewati jalan dusun dan melewati lereng gunung ungaran menuju salah satu sumber mata air kramat yang berada disisi sebelah timur gunung ungaran. tepatnya di curug dawang yang berada pada ketinggian sekitar 1500 MDPL gunung ungaran.

Karena banyaknya barang bawaan yang akan digunakan dalam prosesi ini. warga akan memikul secara bergantian ketika membawanya mulai dari nasi ingkung, sayur gecok, ayam bakar, Manusia bekakak juga kebutuhan yang lain dibawa dengan mengunakan senek sebutan warga untuk penampung barang bawaan yang terbuat dari rajutan bambu itu

Juwanto Kepala Dusun Cemanggal manuturkan “Bekakak sendiri adalah salah satu simbol dari upacara adat masyarakat cemanggal. Manusia Bekakak ialah sebuah wajik ketan yang dibuat menyerupai manusia. ia berjenis kelamin laki laki lengkap dengan juroh atau air tape singkong yang di campur dengan gula aren yang disimbolkan seperti darah. kemudian ia ditaruh pada tampah besar dan dibawa ke curug dawang untuk selanjutnya akan dilakukan prosesi upacara adat berupa penyembelihan manusia bekakak ini” Tuturnya

Juwanto juga menambahkan “Bekakak sendiri dahulu adalah manusia yang dipersembahkan untuk disembelih setiap setahun sekali. sebagai bentuk bhakti kehidupan kepada tuhan yang sudah memberi kehidupan berikut alam dan isinya. Tetapi setelah melalui proses dan ritual yang panjang. berikut segala kegiatan adat budaya yang ada terhitung sekitar dalam abad ke 16 manusia bekakak yang disembelih setiap setahun sekali ini digantikan dengan wajik ketan yang dibentuk menyerupai manusia. lengkap dengan darah yang dikalungkan pada leher manusia bekakak ini, jadi ketika di sembelih akan keluar cairan juroh menyerupai darah manusia” Tambah Juwanto

Sementara dalam waktu bersamaan Nukhan Dzu Khalimun Penggiat Literasi dan Kebudayaan yang kebetulan juga salah satu Koordinator Pokdarwis Desa Wisata Munding. memaparakan responnya terhadap penyelengaraan acara yang tetep mempertimbangan kondisi di tengah wabah Covid-19. Berusaha untuk berdamai ditengah kondisi yang demikian. Upacara adat nyembelih manusia bekakak tetap berjalan dengan tetap mengindahkan aturan protokoler kesehatan dan saling menjaga kesadaran. Dari segi jumlah warga ikutpun hanya sekitar 30 persen. Mengigat terkait menghinari kerumunan secara massal

“Kami menyadari benar terkait kondisi dan situasi hari ini, bagaimana kemudian perkembangan wabah covid-19. Tetap memilih untuk menyelengarakan upacara adat yang digelar setiap tahun ini juga bukan tanpa pertimbangan dan alasan. Ada banyak pertimbangan dan juga ada hal ikhwal yang perlu kita lihat lebih mendalam. kita tetap berusaha dan meng-indahkan apa yang menjadi aturan maupun himbauan terkait 3M dan yang lain.

Bahkan berbeda dengan tahun biasanya kali ini hanya sekitar 25 persen dari total masyrakat cemanggal. satu hal yang tidak kalah penting adalah perihal kesadaran masyarakat akan kebudayaan adat/tradisi mereka. Bahwa kesadaran mereka akan wabah covid 19 itu sangat penting. tetapi ada juga kesadaran berbentuk bhakti masyarakat akan sebuah tradisi warisan luhur yang harus tetap dijalankan. Terlaksana secara bersama dan beriringan” papar Nukhan

Pihakhnya juga menambahkan, bahwa upacara adat dan pelaksanaan nyembelih manusia bekak ini bukan hanya perkara kegiatan yang harus dilaksanakan saja. Ada kandungan nilai falsafah hidup juga kaidah budaya yang warga cemanggal harus jalankan. Nyembelih manuisa bekakak adalah bentuk bhakti mereka kepada kehidupan juga terkait upaya mereka untuk menjaga kelesatarian alam dan warisan budaya leluhur

“yang terpenting bagi kita adalah satu kesadaran bersama untuk merespon baik dan bijak. Aspek lain yang perlu digaris bawahi, adat maupun tradisi yang tersebar diseluruh nusantara adalah satu kesatuan dalam pola kehidupan masyarakat didalamnya. satu cermin besar akan kekayaan khasanah bangsa ini. Upacara adat dan kebudayaan adalah bangsal besar untuk menjaga nilai-nilai tradisi sekaligus ia sebagai pertahanan lokalitas budaya.

Tugas kita adalah mengawal agar ia tetap menjadi budaya yang luhur baik berbentuk corak hidup, kesenian, kebudayaan dan tradisi. Sampailah kita pemahaman bahwa covid-19 tetaplah musuh kita bersama tetapi secara bersamaan kita harus tetap bersiasat untuk melawan tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa dengan cara saling menjaga kesadaran” Tandas Nukhan

Komentar kamu?