Naga Ternyata Nyata

Suasana sebuah kampung Tradisional seperti “Kampung Naga” memang terkadang membuat kita lupa waktu, hamparan hijau pesawahan, uniknya bentuk rumah-rumah warga setempat cukup membuatku terlena, tak terasa jam menunjukan pukul 14.30 dan kini saatnya aku keluar dari “Kampung Naga”.

393 views
0

CERITAMU – Entah siapa, orang tua siapa dan di zaman apa yang memulai kebiasaan ini, menjejali anak dengan berbagai cerita-cerita aneh menjelang tidur. Pun aku di masa kecil di setiap kali menjelang tidur sudah seperti kewajiban orang tua untuk menceritakan sebuah cerita. Mulai dari cerita seekor Kancil dan Buaya, Cerita Anjing dan kucing , Cerita Lutung Kasarung, cerita Seekor Naga mencari cinta bahkan jurus kungfu Naga dianggap ada.

Seiring berjalan nya waktu maka kebiasaan tersebut kini mulai ditinggalkan oleh “Anak Zaman Now”. Mereka lebih tertarik dan asik untuk mengulik berbagai hal melalui Gadget tercanggih saat ini. Bahkan orang tua akan tampak aneh dan ditertawakan jika cerita-cerita mitos masih diceritakan. Tidak usah menyangkal jika “Orang Tua Zaman Now” juga sudah ogah-ogahan untuk meluangkan waktu demi menceritakan berbagai dongeng fiksi itu bukan ?

Sekarang kita masih berada dalam masa yang tidak nyaman yaitu masa covid-19 yang entah kapan akan sirna, akibatnya kini anak-anak kecil dibuat lebih akrab dan intim dengan berbagai Gadget, tidak hanya oleh orang tua bahkan pemerintah pun turut mendukungnya yang tentu saja tujuanya untuk “Belajar Dari Rumah” maka tidak heran jika berbagai provider Telekomunikasi di negeri ini pun berlomba-lomba untuk menggelar berbagai promo kuota. Ternyata Covid-19 ini memberikan peluang bisnis yang baik juga rupanya setidaknya di sektor Telekomunikasi ya.

Kembali ke persoalan cerita masa kecil, aku tergelitik dengan yang namanya “Kampung Naga” sehingga disaat berseluncur di sebuah trip advisor website (tentunya dengan Gadget tercanggih..hehe) nama itu telah membuatku penasaran entah karena nama “Kampung” atau “Naga” nya. Tak perlu banyak menimbang bahkan berhitung untuk pergi kesana toh kampung ini masih ada di Indonesia, masih di Jawa Barat yaitu di Tasik Malaya tepat nya. Tidak jauh dari Jakarta kok ! Buat yang tinggal di Jakarta sepertiku hanya perlu pergi ke terminal Kampung Rambutan, Naik Bis Primajasa jurusan Jakarta – Singaparna jam 12 malam dengan biaya tidak lebih dari Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah), setelah menempuh 7 jam perjalanan tiba lah di “Kampung Naga”, sesederhana itu kok untuk melakukan Travelling.

Tidak ada hal aneh ditemui saat aku turun dari Bis di pagi itu, hanya barisan warung-warung penjaja kopi dan mie instan yang tidak akan membuat isi dompet habis intant kok. Begitupun aku saat mampir warung kopi untuk minum kopi tentunya dan sarapan sekedarnya hanya menghabiskan uang tidak lebih dari Rp.20.000 (dua puluh ribu) saja.

Jam 8.00 pagi saatnya kini aku menjelajah “Kampung Naga” yang tak jauh dari jalan raya utama, tapi setelah masuk Gapura sedikit rasa ragu mulai menggema, bagaimana tidak ! Kampung Naga itu berada dibawah lembah jauh di ujung mata, jika aku sampai kesana apakah aku siap untuk kembali dengan menaiki ratusan anak tangga ?. Setelah menghela nafas dibawah pohon kelapa tentu saja aku putuskan untuk turun ke “Kampung Naga” terlebih suara dentuman tumbukan padi di lesung kampung itu seolah memanggilku ku. Oh ternyata aku tak sendiri rupanya, kelompok-kelompok kecil wisatawan pun menuju kesana. Bahkan sebelum masa pandemic Covid-19 Kampunng Naga menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan dari berbagai negara terutama dari Eropa.

Setibanya di “Kampung Naga” kutemui banyak hal mulai dari tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti yang terjadi di hari itu sekitar jam 10.00 pagi aku melihat semua warga dengan berpakaian adat berbondong-bondong menuju sebuah bangunan besar dengan membawa Nasi Tumpeng berukuran besar lengkap dengan segala lauk pauk dan ornamen yang menarik, tepat jam 12.00 siang mereka membagikan nasi tumpeng secara gratis ke semua pengunjung termasuk aku dan biaya makan siang pun tercoret dari catatan anggaran.

Ada juga tradisi yang masih berlaku sampai saat ini yaitu : Jika ingin hidup dengan bergaya modern silahkan keluar dari kampung ini ! maka tidak heran juga jika di Kampung Naga ini tidak ku temui instalasi listrik dan sudah pasti elektronik seperti televisi dan laptop pun tidak ada. Dan masih banyak cerita tradisi yang belum terungkap bahkan menjadi rahasia.

Suasana sebuah kampung Tradisional seperti “Kampung Naga” memang terkadang membuat kita lupa waktu, hamparan hijau pesawahan, uniknya bentuk rumah-rumah warga setempat cukup membuatku terlena, tak terasa jam menunjukan pukul 14.30 dan kini saatnya aku keluar dari “Kampung Naga”. Setelah menaiki ratusan anak tangga yang membuat jantung berdetak cepat tiba lah aku di jalan raya utama dimana aku turun dari bis tadi pagi dan akupun siap melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Perjalanan singkat ini sungguh memberiku pemahaman baru dimana sesuatu yang tampak kuno dan kolot tidak melulu membosankan dan dibuang, justru kita harus membantu untuk melestarikan karena bagaimanapun bentuknya ini tetaplah sebuah warisan yang sejatinya harus tatap ada. Silahkan anda datang kesana dan rasakan sendiri bagaimana rasanya berdiri diatas Bumi yang tidak mempersoalkan berbagai perbedaan. “Kampung Naga” tidak meminta kita untuk mendatangi tapi kita yang harus sengaja mendatangi karena “Kampung Naga” akan memberikan pelajaran akan arti sebuah sikap “Toleransi” dan inilah sesungguhnya INDONESIA kita.

Komentar kamu?