Konten Lokal Diperkuat sebagai Modal Pengembangan pariwisata Labuan Bajo NTT

Kegiatan yang berlangsung mulai 11-13 September 2020 itu pada hari pertama kegiatan, diawali dengan melakukan diskusi di kantor BOPLBF. Para peserta kemudian diajak melihat kekayaan budaya di Desa Wisata Liang Ndara.

90 views
0

WartaWisata.ID – Pengembangan produk wisata dengan memaksimalkan kekuatan budaya serta konten lokal yang otentik menjadi salah satu strategi yang dijalankan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) dalam menghadirkan destinasi wisata premium di samping pengembangan destinasi serta sarana dan prasarana pendukung lainnya di Labuan Bajo, NTT.

Direktur Utama BOPLBF Shana Fatina saat membuka kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) sejumlah media nasional serta media lokal di Labuan Bajo, Jumat (11/9/2020), mengatakan, pihaknya sedang mendorong inkubasi berbagai kegiatan kreatif seperti seni pertunjukan, seni musik, seni tari, fesyen, juga kuliner dengan melibatkan komunitas-komunitas yang ada.

“Sehingga mereka nanti bisa showcase dan berinteraksi dengan wisatawan. Pekerjaan rumah paling besar saat ini adalah mengaktifkan komunitas itu, meyakinkan masyarakat bahwa konsep premium dalam pengembangan pariwisata di Labuan Bajo dan Flores adalah bagaimana menyuguhkan konten lokal yang otentik kepada wisatawan,” kata Shana Fatina.

Belum lama ini BOPLBF juga gencar memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat agar apa yang mereka kerjakan selama ini dapat memberikan manfaat kesejahteraan dari sisi pariwisata.

“Sebanyak 66 persen masyarakat di Labuan Bajo bukan bekerja di sektor pariwisata. Tapi bagaimana mereka bisa mendapatkan manfaat dari pariwisata, bagaimana mereka menjadi petani yang baik, peternak yang baik dan makmur karena produk yang mereka hasilkan bisa diserap pariwisata,” kata dia.

Ia mengatakan, salah satu critical success factor di wilayah koordinatif BOPLBF adalah bagaimana mengembangkan produk wisata yang harus dimulai dengan mengembangkan sumber daya manusia di dalamnya.

“Sehingga benar-benar bisa memberikan pengalaman bagi wisatawan, mereka merasakan kemewahan yang tidak mereka temukan di tempat lain,” kata Shana.

Di sisi lain, Shana menjelaskan, pengembangan sarana dan prasana pendukung pariwisata di Labuan Bajo juga terus berjalan dengan dukungan dari berbagai kementerian/lembaga. Seperti jalan-jalan utama dengan lebar trotoar sampai 2,5 meter dan dilengkapi dengan pepohonan serta tanaman juga landscape yang baik. Selain itu ada pembangunan jalan yang akan tersambung ke Manggarai serta Tanamori.

“(Pembangunan) Puncak Waringin prosesnya terus berjalan yang diharapkan menjadi view deck pertama di Labuan Bajo dengan pemandangan 360 derajat terutama area pesisir,” ujarnya.

Bersama Dinas Pariwisata, pihak Pelabuhan, Balai Taman Nasional Komodo dan Kepolisian, pihaknya juga tengah mendesain sistem safety and security agar dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Di samping menyiapkan dan menerapkan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru.

Familiarization Trip

Shana Fatina menjelaskan, digelarnya kegiatan famtrip bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi media untuk melihat langsung konsep serta proses pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata premium yang ditetapkan pemerintah.

Kegiatan yang berlangsung mulai 11-13 September 2020 itu pada hari pertama kegiatan, diawali dengan melakukan diskusi di kantor BOPLBF. Para peserta kemudian diajak melihat kekayaan budaya di Desa Wisata Liang Ndara. Berlanjut di hari kedua, para peserta akan diajak hoping island ke Pulau Padar, Long Beach, dan Loh Liang.

Sementara di hari terakhir, para peserta akan melihat langsung progres pembangunan Puncak Waringin sebagai creative hub, sentra suvenir, serta pusat kegiatan perbelanjaan produk khas dan tradisional Labuan Bajo. Daerah itu merupakan wilayah yang diharapkan dapat menjadi pusat perekonomian masyarakat setempat.

“Puncak Waringin akan menjadi sebuah kawasan bergaya arsitektur nusantara, yang tak hanya memberi daya tarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi media riset untuk produk-produk pariwisata yang dihasilkan,” kata Shana.

Komentar kamu?