Melihat Masjid Seribu Pintu di Tangerang

Selain melihat bangunan masjid, selain salat kebanyakan pengunjung berziarah ke makam Syekh Ami Al Faqir.

778 views
0

WartaWisata.ID – Jika Semarang punya Lawang Sewu, Tangerang punya Masjid Seribu Pintu atau Masjid Sewu. Sudah pernah ke sini?

Masjid Seribu Pintu atau Masjid Agung Nurul Yakin terletak di Kampung Bayur, Priuk Jaya, Kota Tangerang, Banten. Lokasi masjid ini kira-kira 12 Km dari pusat Kota Tangerang, atau 20 menit perjalanan menggunakan motor.

Arsitektur masjid ini sangat unik dan berbeda dengan masjid-masjid besar pada umumnya. detikcom pernah berkunjung ke masjid yang juga disebut Masjid Sewu (seribu) ini dan berjumpa dengan Mahpudin (31) pengurus masjid.

Jika diperhatikan, banyak ruangan dan banyak pintu dimana-mana mengelilingi bangunan masjid. Bahkan karena bentuknya yang berbeda, sampai pernah dituduh masjid ini lokasi penyebaran aliran sesat lho!

Dulu ceritanya, tantangan pembangunan masjid tidak hanya karena wilayah dan dana. Tantangan menyebarkan syiar Islam tambah sulit ketika masjid dituduh tempat menyebarkan aliran sesat.

“Karena bentuk masjidnya yang nggak biasa, beda dari masjid pada umumnya,” jelas Mahpudin.

Di pintu masjid nantinya kita akan menemui peraturan-peraturan dan tata tertib yang harus dipatuhi oleh pengunjung. Jadi kalian bila berkunjung ke sini jangan asal jepret-jepret ya. Harus minta izin dulu sama penjaga masjidnya.

Nantinya kalian akan diminta untuk mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan dengan memasukkan uang ke dalam kotak amal di meja pendaftaran. Setelah itu barulah masuk ke dalam masjid untuk melihat-lihat.

Selain melihat bangunan masjid, selain salat kebanyakan pengunjung berziarah ke makam Syekh Ami Al Faqir. Dia adalah seorang ulama Banten sekaligus pendiri masjid ini.

Pastinya kalian penasaran kan kenapa Masjid ini bernama Masjid Seribu Pintu? Mahpudin menjelaskan masjid ini dinamakan Masjid Seribu Pintu karena terinspirasi dari Asmaul Husna.

“Asal nama seribu pintu dari dari Asmaul Husna, nama-nama Allah. Bisa dilihat di tiang-tiang masjid terdapat angka 999, kemudian dilengkapi seribu dengan pintu. Kenapa bisa seribu, karena tidak bisa dihitung pintu yang berada di masjid ini karena saking banyaknya,” jelas Mahpudin.

Ada cerita unik mengenai Masjid dan Syekh Ami Al Faqir lho. Semasa beliau masih hidup, pengunjung telah datang untung berziarah, tetapi mereka tidak tahu kalau syekh sebenarnya masih hidup. Mereka tidak sadar kalau yang mereka ziarahi adalah pria tua yang menyambut mereka dari luar.

Syekh Ami Al Faqir baru benar-benar meninggal dunia pada Ramadan tahun 2016 lalu. Makam Syekh Ami terletak di dalam komplek Masjid di dekat ruangan salat laki-laki.

Di dalam masjid terdapat beberapa ruangan. Terdapat ruangan salat untuk perempuan, serta ruangan untuk musafir ukurannya 4 x 4 meter. Jika ada musafir yang ingin itikaf di masjid mereka akan diinapkan di ruangan di dekat ruang perempuan. Di masjid juga ada kamar mandi khusus musafir dan dapur serta perlengkapan masak yang bisa digunakan musafir.

Setelah berkunjung ke makam dan ruangan masjid, kalian nanti akan dipandu ke luar masjid yaitu ke Makam Tasbih. Konon di dalam ruangan makam terdapat 99 tasbih seukuran kepala yang bertuliskan Asmaul Husna.

Tetapi sayang sekali detikcom tidak bisa melihat langsung bagaimana Makam tasbih ini. Hanya bisa melihat pintu ruangan dari luar. Karena sesuai kebijakan dari Syekh, makam hanya dibuka pada Isra Miraj saja.

Masjid ini dibangun di tanah pribadi yang cukup luas. Bangunan masjid memang belum utuh dan selesai, masih butuh pembangunan lanjut. Di atas makam tasbih terdapat aula besar.

Aula ini digunakan nantinya untuk kegiatan keagaman dan perayaan hari besar Islam. Nantinya para santri dari berbagai daerah datang dan berkumpul mengikuti rangkaian kegiatan di aula masjid yang terbuka ini.

Ada hal menarik lainnya mengenai Masjid Seribu Pintu ini. Masjid ini dibangun tanpa menggunakan rancangan gambar. Jadi masjid dibangun bertahap-tahap hingga sampai saat sekarang. Syekh Ami juga membangun masjid serupa di Lebak, Bogor dan Gunungkidul, tapi pusatnya ya di Tangerang ini.

Dana yang digunakan untuk pembangunan masjid, berasal dari sumbangan-sumbangan dari peziarah, serta sedekah dari masyarakat serta uang pribadi dari yekh.

Dulunya lokasi masjid ini adalah sawah-sawah alias lahan kosong. Bahkan dulunya awal pembangunan masjid lokasinya digenangi air. Kemudian setelah masjid mulai dibangun barulah ada warga yang membangun rumah di sekitar lokasi masjid.

Ada fakta menarik lagi nih. Jika kita lihat masjid ini dari jauh, bangunan komplek masjid terlihat seperti kapal besar. Memang unik banget!

Nah kalian yang penasaran dengan masjid ini, tahan dulu ya. Nanti berkunjunglah ketika pandemi Corona usai. Tetap jaga kesehatan ya!

 

Komentar kamu?