Guardian of Tradition & Culture (Penjaga Tradisi & Budaya) Seri 2

Sumbawa harus dikunjungi karena penuh dengn tradisi dan budaya yang terjaga.

497 views
0

CERITAMU – Sumbawa harus dikunjungi karena penuh dengn tradisi dan budaya yang terjaga.

1. Istana Dalam loka yaitu tempat saksi sejarah yang menunjukkan kejayaan Kesultanan Sumbawa pada zamannya

Istana dibangun tahun 1885. Istana ini dalam bentuk rumah panggung .Luas bangunan 904 M2.Istana dibangun dengan bahan kayu serta mempunyai filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, artinya ” semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan Tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam”.

2. Kehidupan Tau Samawa masih mempertahankan cara tradisional menumbuk padi menggunakan rantok

Rantok adalah sejenis kayu memanjang yang dilubangi,kedalaman lubang 30-60 cm sebagai tempat menumbuk padi.Cara ini masih banyak dilakukan ibu-ibu pada saat musim panen padi selesai.Menumbuk padi dilakukan secara bersama-sama. Padi yang sudah mengering , dipetik bersama batangnya dan dimasukkan dalam rantok. Padi ditumbuk oleh ibu-ibu sambil menghasilkan irama yang khas.

3. Tarian Sakede

Sakede artinya memiliki fungsi sebagai proses memisahkan beras dari gabah yang diramu dengan gaya tarian dan gerak Samawa seperti jempit, gero, lunte, polka, bakaliung, sere, basarenjo.Busana dan riasan penari sakede mempunyai ciri khas.

4. Menikmati ikan Sira Sang Khas Sumbawa yang lezat

Sumbawa mempunyai resep ikan bakar yang khas sebagai berikut :1/2 kg ikan, ikan kerapu atau ikan yang biasa dibakar, 5 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 ruas kunyit, 3 buah kemiri, lada bubuk, 5 buah cabai merah keriting, 2 buah asam jawa, 1 batang sere keprek, minyak goreng secukupnya dan garam.Lanjut dipanggang/dibakar.

Nukila Evanty
Budayawan (Culturist), penulis, peneliti dan aktivis sosial dan lingkungan hidup.
Mengenyam pendidikan dari berbagai universitas di luar negeri tidak menghilangkan jiwanya yang tetap mengakar pada masyarakat adatnya di rokan hilir Riau. Nukila telah menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Groningen di Belanda, Universitas New South Wales ( UNSW) di Australia dan Lund University di Swedia .
Nukila aktif di komunitas masyarakat adat, penyuka kuliner lokal, photography dan telah menulis banyak tulisan di media nasional dan internasional.
Nukila adalah seorang feminist, menjadi direktur eksekutif dan penasehat di beberapa lembaga dan organisasi di tingkat nasional dan Internasional seperti women working group (WWG), Amcolabora Institute, dan RIGHTS Asia, Asia Centre Bangkok Thailand, WUSME (World Union Small and Medium Enterprises ) di San Marino Italia, AWID (Association for Women Rights in Development) di Toronto Canada.
Komentar kamu?