Cerita dan Sejarah Menarik Masjid Istiqlal di Jakarta

Cerita dan fakta sejarah menarik itu pun dibahas di awal tur virtual '5 Wisata Masjid Paling Menarik di Jakarta' oleh Wisata Kreatif Jakarta.

312 views
0

WartaWisata.ID – Masjid Istiqlal di Jakarta dikenal sebagai simbol toleransi antar agama. Di baliknya terselip kisah dari Friedrich Silaban, sang arsitek beragama Kristen.

Cerita dan fakta sejarah menarik itu pun dibahas di awal tur virtual ‘5 Wisata Masjid Paling Menarik di Jakarta’ oleh Wisata Kreatif Jakarta. Dipandu oleh Ira Lathief sebagai guidenya, para peserta diajak kembali menelusuri kisah di balik masjid terpopuler di Jakarta itu.

“Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara, nomor 3 di dunia. Istiqlal artinya kemerdekaan, pilar 12 melambangkan ulang tahunnya Nabi Muhammad. Lantainya ada 5, melambangkan rukun Islam dan Pancasila,” ujar Ira dalam sambutannya.

Bagi penikmat sejarah, Masjid Istiqlal yang fondasinya diresmikan Presiden Sukarno pada 24 Agustus 1961 itu memang sarat akan nilai dan pikiran para bapak pendiri bangsa. Mulai dari lokasi pendirian hingga setiap sudutnya, berisi nilai toleransi dan Pancasila.

“Idenya Sukarno, dibentuklah panitia pembuatan Masjid Istiqlal. Awalnya di Jalan MH Thamrin karena dekat perkampungan Betawi. Waktu itu ada juga ide yang lain, di atas Wilhelmina Park (lokasi Istiqlal kini) dekat Katedral yang melambangkan Indonesia dan keharmonisan agama,” ujar Ira.

Salah satu yang menarik adalah tentang sang arsitek di balik pembangunan Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban yang merupakan seorang Kristen Protestan. Desain rancangannya terpilih sebagai pemenang sayembara yang diadakan Yayasan Masjid Istiqlal pada tahun 1955.

Walau merupakan seorang Kristen, tak disangka kalau desain rancangan Silaban disukai oleh para tim juri yang terdiri dari Rooseno, Djuanda, Suwardi, Buya Hamka, Abubakar Atjeh, dan Oemar Husein Amin.

Doa Friedrich Silaban

Dijelaskan oleh Ira, Silaban sempat galau ketika mengikutkan rancangan desainnya untuk sayembara tersebut. Walau agama perancang tak jadi masalah kala itu, identitas Silaban yang beraga Kristen sempat membuatnya ragu.

“Silaban sempat galau sebagai nasrani yang taat. Dia berdoa tiap malam, ternyata menang juara 1. Ketika diumumkan, Pak Sukarno bilang by the grace of God. Doanya dipajang di Istiqlal,” ujar Ira.

Menurut situs berita sejarah Historia, nama karya yang diikutkan oleh Silaban diketahui bernama Ketuhanan. Kegalauan Silaban itu juga sempat diucapkan oleh sang anak ketiga, Poltak Silaban.

“Tuhan, kalau di mata-Mu saya salah merancang masjid, maka jatuhkanlah saya, buatlah saya sakit supaya saya gagal. Tapi jika di mata-Mu saya benar, maka menangkanlah saya,” ujar Poltak menirukan doa ayahnya kala itu.

Terlepas dari perbedaan prinsip, nyatanya nasib punya jalan lain untuk Silaban. Kemenangannya menjadi jalan baginya untuk berkarya bagi umat Islam, yakni melalui rancangan Masjid Istiqlal.

Kala itu Silaban diketahui tinggal di Bogor. Ia pun konsisten mengawasi proyek besar yang memakan waktu hingga 17 tahun lamanya itu.

“Tiap pagi jam 7 sudah di proyek dari Bogor, selama belasan tahun seperti itu. Silaban meninggal beberapa tahun setelah masjid itu berdiri,” ujar Ira.

Ditambahkan oleh Ira, doa dari Silaban kala itu ternyata sempat terpajang di ruang tamu Masjid Istiqlal. Ira yang sering membawa tamu kerap mendapati foto doa tersebut dalam tiap kunjungannya dahulu.

“Dulu ada di ruang tamu. Terakhir lihat tahun 2010. Sekarang sudah tak ada lagi,” tutur Ira.

Sebagai simbol toleransi, Masjid Istiqlal memang kerap disambangi oleh wisatawan hingga kepala negara sekelas Presiden Obama. Di bulan Ramadhan, masjid ini juga kerap disambangi para peziarah muslim serta menjadi salah satu tempat populer untuk berbuka puasa lintas agama.

Hanya saja, semua kegiatan itu harus terhenti sejenak di tengah pandemi COVID-19. Sekiranya kita sama-sama berdoa dan mengikuti imbauan pemerintah untuk menekan kurva positif penderita corona. Semoga kondisi lekas membaik dan kembali seperti sedia kala.

Komentar kamu?