Fakta Penangkaran Orang Utan Terbesar di Dunia yang Ada di Indonesia

Populasi orang utan di Kota Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah ini mencapai 30 ribu sampai 40 ribu ekor yang hidup secara liar di Taman Nasional Tanjung Puting

299 views
0

WartaWisata.ID – Berbeda dengan habitat orang utan buatan manusia di Pulau Kalimantan lainnya, Kalimantan Tengah memiliki Taman Nasional Tanjung Puting sebagai konservasi habitat orang utan di alam liar dan cagar biosfer yang sangat terjaga kelestariannya sehingga menjadi daya tarik objek wisata di Indonesia.

Namun, minat wisatawan lokal justru kurang banyak yang tertarik dengan wisata yang disajikan di sini. Gencarnya promosi yang dilakukan di luar Indonesia membuat destinasi wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan asing. Berikut fakta-fakta yang jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia.

Tempat penangkaran orang utan terbesar di dunia

Populasi orang utan di Kota Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah ini mencapai 30 ribu sampai 40 ribu ekor yang hidup secara liar di Taman Nasional Tanjung Puting. Para pengunjung bisa bertemu secara langsung dengan para orang utan.

Selain itu, Taman Nasional yang berukuran seluas Pulau Bali ini juga memiliki ekosistem, seperti hutan hujan tropis, hutan tanah kering, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder.

Yang membuat Taman Nasional ini lebih unggul dari wisata hewan liar lainnya di Indonesia karena menjadi pusat rehabilitasi orang utan pertama di Indonesia.

Bertemu secara langsung dengan orang utan dan primata lain di hutan liar

Wisata utama di Taman Nasional ini ialah menyaksikan secara langsung bagaimana orang utan masih berkembang biak dengan baik di hutan tropis. Hutan ini merupakan rumah bagi delapan jenis primata yaitu spesies monyet, seperti bekantan, monyet abu-abu, hingga hewan endemik, seperti burung, kupu-kupu, ikan, dugong, dan buaya.

Terdapat tiga lokasi konservasi di area Taman Nasional Tanjung Puting, yaitu Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. Tiga lokasi tersebut menjadi tempat melepasliarkan orang utan agar bisa kembali hidup normal di habitat aslinya.

Akses wisata melewati sungai

Untuk bisa sampai ke beberapa destinasi yang ada di Taman Nasional Tanjung Puting, para pengunjung diharuskan menggunakan kapal, kelotok, atau speedboat sehingga bisa merasakan sensasi hidup terapung di Sungai Sekonyer.

Selain dimanjakan dengan pemandangan yang menenangkan, para pengunjung juga akan dilayani layaknya di hotel berbintang oleh para tour guide dan kapten kapal yang ramah. Selain itu, makanan lokal yang disajikan memiliki standar yang cukup baik.

Yang menjadi keunikan di Sungai Sekonyer ini ialah pengunjung akan melihat perubahan warna air sungai dari warna cokelat ke warna hitam karena terbawa dari warna akar pepohonan. Padahal, jika diperhatikan, warna airnya sangat jernih sehingga kita bisa melihat apa yang ada di balik air tersebut.

Perahu dan kelotok menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar

Karena akses wisata yang mengharuskan para pengunjung menggunakan kapal, kelotok, dan speedboat, masing-masing alat transportasi memiliki harga yang berbeda. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai mata pencaharian oleh masyarakat sekitar Kotawaringin Barat. Itu karena situasi dan kondisi yang cocok.

Meskipun pekerjaan mereka menjadi sorotan utama yang dicari oleh para pengunjung, mereka telah terbiasa melayani wisatawan asing sehingga standar dan kualitas pelayanannya tetap bagus.

Turis mancanegara menjadi donatur tetap

Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya mengandalkan pemasukan dari harga tiket pengunjung saja. Banyaknya wisatawan asing yang berkunjung membuat tempat wisata ini memiliki beberapa donatur tetap untuk menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan.

Dalam daftar donasi yang ada di Taman Nasional, banyak ditemui sejumlah nama turis mancanegara yang menjadi donatur tetap.

Bahkan, pada saat pembangunan renovasi wisata pada 2017, beberapa sukarelawan yang ikut berkontribusi mayoritas berasal dari luar Indonesia. Dalam hal ini, sangat disayangkan karena nama-nama yang berasal dari Indonesia justru jarang ditemukan.

Taman Nasional Tanjung Puting banyak menyimpan kekayaan primata asli Indonesia yang seharusnya menjadi primadona wisata bagi wisatawan Indonesia sendiri

Hingga saat ini, jumlah pengunjung yang di dominasi oleh wisatawan asing yang justru lebih tertarik dengan kehidupan orang utan. Hal itu membuat image wisatawan asing lebih unggul dari wisatawan lokal sendiri.

Komentar kamu?