Cerita Burung Legendaris Cenderawasih di Tanah Papua

Papua dan keberagaman satwa yang hidup di dalamnya begitu menarik perhatian dunia

658 views
0

WartaWisata.ID – Nama burung cenderawasih sudah begitu dekat dengan kehidupan orang Papua. Kamu tahu nggak? Menurut legenda, burung ini tak punya kaki dan terbang ke surga.

Papua dan keberagaman satwa yang hidup di dalamnya begitu menarik perhatian dunia. Alam yang indah, ramahnya penduduk dan biota endemik menjadi ungggulan dalam pariwisata Papua.

Kali ini kami ingin mengajak traveler untuk mengenal legenda burung cenderawasih, satwa endemik Papua. Sebenarnya tak cuma Papua, burung ini juga ditemukan di Kepulauan Aru, Papua Nugini dan Australia bagian utara.

Pembahasannya akan dimulai dari julukan burung cenderawasih. Mengapa burung ini diberi julukan sebagai burung surga?

Semua itu berawal dari cerita yang berkembang di abad ke-16 sampai 17. Masyarakat percaya bahwa cenderawasih tak pernah menginjakkan kaki di bumi dan terbang ke surga.

“Setelah menetas, cendrawasih dipercaya akan terbang menuju matahari. Ini mengapa burung-burung ini memiliki bulu yang indah,” ujar Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua.

Saat itu sangat sulit bagi orang awam untuk melihat cenderawasih dari dekat. Burung ini memang sangat peka dengan kehadiran manusia.

Karena hanya terlihat saat terbang, orang-orang Eropa yang ada di Papua percaya bahwa cenderawasih tidak menyentuh bumi. Konon cenderawasih menghabiskan hidupnya di udara.

Hal lain yang membuat legenda ini terus dipercaya adalah patung-patung cenderawasih yang diawetkan. Ya, keindahan bulu burung satwa ini memang sudah mendunia sejak dulu.

Banyak burung yang diburu untuk diawetkan dan dijual ke Eropa. Parahnya lagi, patung cenderawasih ini tidak memiliki kaki. Semua kaki burung ini terlebih dahulu di potong baru diawetkan dan dijual ke Eropa.

Inilah yang membuat anggapan cenderawasih sebagai burung yang tak pernah menginjak bumi begitu populer di Eropa. Bapak taksonomi dunia, Carl Linnaeus akhirnya mengidentifikasikan cenderawasih sebagai burung surga tanpa kaki, sesuai dengan sampel burung cenderawasih tanpa kaki jenis Greater Bird of Paradise.

Linnaeus akhirnya mengkelaskan cenderawasih dengan nama latin Paradisaea Apoda. Paradisaea artinya surga, sedangkan apoda adalah tanpa kaki.

“Sebagai burung khas dari Papua, cenderawasih bahkan sudah menyatu dengan budaya masyarakat. Di Papua sendiri, mahkota dari burung cenderawasih tidak boleh dikenakan oleh sembarang orang, hanya tokoh adat seperti ondoafi dan kepala suku saja yang berhak,” jelas Hari.

Selain di Papua, burung cenderawasih rupanya juga punya peran penting dalam budaya masyarakat Bali. Di Bali, burung cenderawasih atau manuk dewata merupakan sarana upacara yang penting dalam Upacara Ngaben. Burung ini berperan sebagai pemandu arwah untuk pergi ke alam keabadian.

Menurut catatan sejarah, pada abad VIII, utusan Raja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya pernah mempersembahkan burung cenderawasih kepada Kaisar China.

Legenda yang diceritakan, kepercayaan dan keindahan dari cenderawasih sudah singgah dari satu tempat ke tempat yang lain. Popularitas burung ini sebagai salah satu yang terindah pun tak bisa dipungkiri.

Kini banyak wisata melihat burung cenderawasih atau bird watching jadi andalan di Tanah Papua. menyandang predikat fauna yang dilindungi, cenderawasih tak boleh diperjualbelikan atau diburu.

 

Komentar kamu?