NUNIK : Pengembangan Desa Wisata, Tanggulangi Kemiskinan

Apalagi, dalam rangka bonus demografi dan menjawab tantangan Era Revolusi Industri 4.0, SDM di desa harus siap dengan dibekali pendidikan dan keterampilan.

136 views
0

WartaWisata.ID – Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik) sebut desa wisata sebagai salah satu upaya dalam menanggulagi kemiskinan dari sektor pedesaan.

Wagub Nunik mendorong pemerintah kabupaten/kota dan pengusaha mewujudkan pembangunan desa wisata sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dan menanggulangi kemiskinan. Hal tersebut disampaikan Wagub Nunik saat menjadi keynote speaker pada acara Workshop Pengembangan Desa Wisata di Provinsi Lampung, di Cendana Room, Hotel Bukit Randu, Bandar Lampung, Rabu lalu (20/11).

Menurut Nunik, desa wisata menjadi salah satu langkah penanganan kemiskinan yang cenderung melanda warga di wilayah pedesaan. “Pengembangan desa wisata ini sebagai upaya penanggulangan kemiskinan, karena di mana kemiskinan juga paling banyak di desa, padahal kekayaan ada di desa, SDM melimpah, tetapi kelompok kemiskinan di desa tidak turun dengan signifikan,” ujar Nunik.

Nunik mengatakan pembangunan desa wisata nantinya tidak akan mengubah apa yang sudah menjadi ciri khas dari desa seperti dengan kekayaan alam dan segala yang dimiliki desa tersebut serta tetap menghargai local wisdom/kearifan lokal.

“Desa menjadi tujuan wisata tetapi tidak mengubah karakter asli desa tersebut. Masyarakat berkunjung menikmati apa yang ada di desa wisata dan mengenali desa seperti wisata edukasi atau belajar tentang apa yang ada di desa itu,” katanya.

Pembangunan Desa Wisata ini menjadi penting untuk dikembangkan di Provinsi Lampung. Pasalnya Lampung terdiri dari desa-desa dan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Terlebih lagi semua desa di Provinsi Lampung punya kelebihan, keunikan dan punya modal dasar.

“Modal dasar itu tinggal disentuh untuk bisa dimanfaatkan menjadi kegiatan wisata, semuanya bisa dan memungkinkan,” ujarnya. Nunik menjelaskan bahwa tidak harus desa yang memiliki bekal panorama seperti pantai, gunung dan air terjun yang bisa dijadikan sebagai desa wisata, namun potensi keunikan daya tarik yang ada di desa lainnya bisa dijadikan sesuatu yang dapat menarik wisatawan.

“Jadi tidak hanya desa yang punya panorama pantai, gunung dan air terjun, tidak selalu seperti itu, ini soal kreativitas saja karena semua desa pada intinya punya keunikan dan punya sesuatu yang bagus,” kata Nunik.

Ia menyebutkan untuk mengembangkan desa wisata kuncinya adalah bagaimana melakukan manajemen dengan baik mulai dari sumber daya alam (SDA) hingga sumber daya manusia (SDM) serta melakukan inovasi yang ada di desa.

“Menurut saya kita bisa mulai dengan mengidentifikasi keunikan-keunikan yang ada di desa, identifikasi SDM yang memungkinkan untuk berkolaborasi me-manage desa wisata dan mengidentifikasi pihak-pihak yang berkenan untuk mendukung. Kita bisa memulai mengerjakan apa yang ada di sekitaran desa tersebut,” ujarnya.

Selain itu, menurut Nunik juga dibutuhkan supporting system dari pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.

“Pemerintah daerah bisa berperan, seperti terhadap marketing, melatih SDM bagaimana menggerakkan desa wisata yakni menjadi pemandu wisata dengan menawarkan paket wisata, menyediakan homestay dan lainnya. Pemerintah Daerah juga bisa memberikan bekal keterampilan bagi para SDM desa wisata,” katanya. Apalagi, dalam rangka bonus demografi dan menjawab tantangan Era Revolusi Industri 4.0, SDM di desa harus siap dengan dibekali pendidikan dan keterampilan.

“Bicara bonus demografi paling banyak nanti dari desa, anak-anak muda angkatan kerja di desa banyak sekali, bonus demografi harus di-manage dengan baik dengan dibekali pendidikan dan keterampilan terutama dengan persaingan yang semakin ketat di Era Revolusi Industri 4.0,” ujarnya.

Melalui kesempatan tersebut, Nunik menuturkan tidak menargetkan berapa jumlah desa wisata yang harus dibangun di kabupaten/kota dan tidak memaksa desa untuk menjadi lokasi pariwisata. Menurutnya, tetapi lebih kepada bagaimana langkah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di desa. Dan pada tahun 2018 di Provinsi Lampung sendiri sudah terdapat 85 Desa Wisata.

“Kita membaca ini sebagai peluang untuk menaikkan kesejahteraan warga desa tetapi jangan paksa desa-desa untuk menjadi desa wisata,” ujarnya.

Komentar kamu?