Menenun Kain Tenun Khas Desa Adat Bena

Kegiatan menenun di desa ini dilakukan oleh semua warga di depan rumah masing-masing. Hal ini menjadikan pemandangan di Desa Bena makin eksotis, Para wanita Desa Bena biasanya lebih sering terlihat menenun kain khas Flores yang nantinya dijual ke wisatawan yang datang ke desa ini.

122 views
0

WartaWisata.ID – Selain bentuk rumah unik yang konon telah ada sejak 1200 tahun yang lalu, di Desa Bena juga masih ada perwujudan adat istiadat lainnya yang tak kalah menarik, yaitu kain tenun khas Desa Adat Bena.

Walau umumnya bekerja sebagai petani, kaum perempuan Desa Bena juga dikenal akan hasil karya tenun. Bahkan bagi kaum perempuan di Desa Bena, adalah kebiasaan sekaligus pekerjaan yang sudah mereka kenal sejak anak-anak. Kain tenunan para mama, sebutan ibu di Flores, selain digunakan untuk keperluan sehari-hari, juga menjadi pakaian resmi dalam upacara adat.

Kegiatan menenun di desa ini dilakukan oleh semua warga di depan rumah masing-masing. Hal ini menjadikan pemandangan di Desa Bena makin eksotis, Para wanita Desa Bena biasanya lebih sering terlihat menenun kain khas Flores yang nantinya dijual ke wisatawan yang datang ke desa ini.

Bahkan, bagi para mama di Bena, menenun sarung dan selendang juga berarti menopang ekonomi keluarga. Namun bila sedang berkabung, misalnya ada warga desa yang meninggal, maka peraturan adat tidak memperbolehkan warganya melakukan aktivitas, termasuk menenun.

Menariknya warga Desa Bena bisa memajang begitu saja hasil kerajinan tenun buatan mereka di depan rumah. Jika diperhatikan, kain tenun di desa ini motifnya cenderung lebih sederhana dan warnanya lebih terang. Dari kain tenun yang dipajang itu, terdapat kekhasan motif, yaitu gambar rumah adat dan kuda serta garis-garis horisontal. Selain itu, warnanya juga lebih lebih cerah dan berwarna-warni.

Umumnya kepala keluarga di Bena menjadi petani. Hasil kebun mereka, seperti kakao, kayu manis, dan kemiri. Nah, selain mengurus rumah tangga, mama-mama tangguh Desa Bena yang memang lebih banyak tinggal di rumah ketimbang para suami yang berladang tidak berdiam diri saja. Namun melakukan kegiatan menenun kain yang selain melestarikan budaya suku Bajawa, juga sekaligus dapat membantu ekonomi keluarga.

Komentar kamu?