Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 21)

“kalau begitu segeralah kita bertemu dengan Resi Garuda agar aku bisa mengingat kembali semuanya. Aku tahu betul Ommeia sudah berada disini dan akan segera mengambil semua artefak yang ada untuk mewujudkan ambisi mereka menguasai dunia”.

68 views
0

PATRION – Pandangan mata kakek tua kepadaku penuh tandanya saat aku bersama Lastri dan Arum berpamitan meninggalkan gubuk tua itu. Beberapa kali aku menoleh kebelakang hanya untuk memastikan apakah kakek tua itu sudah melepas pandangannya kepadaku, ternyata dia sama ekali tidak merubah posisinya. Lastri memberitahu bahwa itulah cara dia memberi hormat ke setiap tamunya dengan memandangi tamunya sambil diam berdoa hingga tamunya benar-benar pergi. Mendengar itu aku merasa ada yang aneh, sebab pandangan itu seolah berbeda, seperti tatapan kehawatiran kepadaku. Tiba-tiba sebuah suara terdengar dalam bathinku, suara yang hanya bisa aku dengar sendiri dan suara itu adalah suara kakek itu. Suara itu berkata “betul nak, aku sangat khawatir dengan dunia ini, beruntung aku telah bertemu dengan kamu”. Hei apa-apaan ini, aku berdialog dengan orang lain di dalam suara bathinku. Aku minta Lastri dan Arum untuk mendengarkannya, tapi mereka sama sekali tidak mendengar apa-apa. Dalam kebingunganku, ternyata Arum dan Lastri telah menungguku di ujung jalan kecil di kaki merapi menuju puncaknya.

Kita beranjak menyusuri kaki gunung merapi dengan penuh kehati-hatian. Malam ini rembulan meredup seperti bersembunyi dibalik awan, hingga nyaris tidak ada cahaya untuk menyinari langkah kita ke depan menuju puncak Merapi. Lastri mengeluarkan smartphonenya dan menyalakan senter HP. Aku dan Arum mengikuti yang dilakukan Lastri, meski kita tahu sinar lampu smartphone sama sekali tidak bisa diandalkan. Perjalanan kita saat ini mungkin sudah sejauh tiga kilometer. Jalan beranjak, berpasir dan rawan reruntuhan menjadi pijakan setiap waktu. Saat kita menemukan jalan buntu, secara spontan tanganku diluar dari kendaliku menunjuk ke arah jalan keluar. Beberapa kali hal ini terjadi hingga di sebuah bukit pertengahan kita menemukan jalan yang benar-benar buntu. Tidak ada petunjuk lain dan tidak ada pergerakan spontan dari tanganku. Lastri dan Arum kebingungan, begitu juga denganku.

Saat kegamangan kita mencari jalan keluar. Tiba-tiba kita merasakan sebuah getaran dari gunung Merapi, tanah bergoncang. Kita yang berada di tengah-tengah gunung Merapi, tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya berdoa. Tak berselang lama, sebuah letusan kecil terjadi, disusul dengan letusan lain yang semakin besar. Kita bisa melihat jelas dari puncak keluar lahar panas yang menyembur keluar. Aku, Lastri dan Arum hanya bisa bertahan dalam pijakan yang membuat kita jangan sampai terjatuh. Dalam kepanikannya, Arum berusaha untuk melompat keluar dari pijakan awal. Secara spontan tanganku meraih tangan Arum kembali untuk tetap saling berdekatan. Sebuah suara memberitahuku dan kusampaikan ke Arum dan Lastri, “tetaplah berdiri di tempat semula, sampai bencana selesai”. Arum dan Lastri yang panik, keduanya memelukku dengan erat. Herannya aku sama sekali tidak merasakan takut dalam situasi yang sangat berbahaya ini.

Tatapanku tertuju pada sebuah gumpalan awan putih yang turun dengan cepat dari puncak Merapi. Dibelakangnya terdapat lahar panas yang siap meluluh lantahkan semua yang dilewati. Lastri bilang itu adalah wedus gembel. Arum makin panik dan berusaha melihat ke sekitar. Sementara aku berusaha menahan mereka untuk tetap bersama dan tenang. Wedus gembel yang jaraknya sudah begitu dekat beberapa puluh meter lagi, membuat semua udara di sekitar panas. Seperti ada yang mengarahkan, aku fokus dengan memejamkan mata dan meletakkan tangan kananku di dadaku. Saat itu, muncul keris dari dalam dadaku, dan aku memegang keris Teroka yang ada dalam tubuhku. Aku lalu menghunuskan keris Teroka saat wedus gembel mendatangi kita. Entah apa yang terjadi, tapi aku percaya kita bisa melewati ini.

Saat itu juga muncul gelembung kubah bulat yang melindungi kita bertiga. Memecah wedus gembel dan lahar panas yang mendatangi kita secara bersama. Aku, Lastri dan Arum melihat secara jelas kehancuran yang disebabkan oleh wedus gembel dan awan panas yan telah dilewati, tidak ada yang tersisa. Aku pun memikirkan kakek tua yang masih berada di dalam gubuk di kaki gunung Merapi, bagaimana kondisi beliau saat ini. Dengan segenap kekuatan, aku berusaha memegang erat keris Teroka ditanganku yang getarannya begitu kencang. Pikirku jangan sampai keris Teroka ini terlepas ditanganku, karena mungkin bisa fatal akibatnya.

Suara gemuruh berangsur menghilang seiring awan panas dan lahar itu terus pergi menjauh menuruni pegunungan merapi. Aku berdoa semoga tidak ada korban dalam bencana letusan gunung merapi ini. Saat sepenuhnya mereda, aku pun meletakkan keris didadaku kembali dan keris itu kembali menghilang. Seolah aku sudah mengenal dengan baik cara menggunakan keris Teroka ini. Sementara itu Arum dan Lastri yang masih dalam suasana terguncang, masih mencengkeram hebat lenganku. Nafas mereka masih sangat tak teratur. Lastri segera menelpon keluarganya. Namun dia baru tersadar, tidak ada sinyal sama sekali di tempat ini. Arum memandangiku dengan dalam dan bertanya “Arya, apa hal ini semua sudah kamu ketahui sebelumya, seperti perjalanan lalu yang pernah dilewati bersama?”. Aku pun hanya berucap, “aku tidak mengetahui sama sekali yang terjadi kedepan, tapi perjalanan seperti ini sudah pernah kita lewati bersama”. Arum dan lastri memperhatikanku. Arum menambahkan “kalau begitu segeralah kita bertemu dengan Resi Garuda agar aku bisa mengingat kembali semuanya. Aku tahu betul Ommeia sudah berada disini dan akan segera mengambil semua artefak yang ada untuk mewujudkan ambisi mereka menguasai dunia”. Aku menegaskan “Itu tidak akan terjadi selama aku hidup”. Arum dan Lastri tersneyum kedapdaku, kemudian kita melanjutkan perjalanan menuju puncak Garuda.

Komentar kamu?