Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 20)

Saat sinar berwarna putih, keris itu menjadi tenang lalu kemudian dengan secepat kilat, keris itu menusuk kedalam tubuhku.

114 views
0

PATRION – Rasa senangku tak terbendung. Arum dan Lastri terheran, karena melihatku yang tadinya tergolek lemah kini menjadi berbalik super semangat. Tanpa sadar lenganku masih bergelayut manja di punggung mereka berdua, aku pun reflek menciumi pipi mereka satu persatu karena rasa kegembiraan berlebihan. Hanya butuh sepersekian detik dari aku mencium, tangan Lastri menampar pipi kiriku dan Arum menampar pipi kananku. Arum begitu emosi dengan menuduhku semua kejadian ini adalah sandiwara. Sementara Lastri hanya terdiam bersungut kesal. Ow ow… aku telah membuat dua bidadari itu murka. Aku pun berusaha menjelaskan apa adanya bahwa rasa sakitku memang nyata dan daya ingatku kini sudah pulih seluruhnya.

Kakek tua yang telah membantu menghilangkan rajahku itu, kini terkulai lemas setelah dari trans. Dalam kesadarannya, dia memberitahu bahwa kejadian ini baru pertama kali dia alami. Namun dia masih teringat pesan kakek buyutnya yang diwariskan secara turun temurun, bilamana melihat rajah seperti itu maka wariskanlah pusaka utama dari empu Penaroka, yaitu sebilah keris Teroka. Dengan segenap kemampuannya yang tersisa, kakek tua itu mengucapkan sebuah mantra yang tak lama kemudian datang sebilah keris terbang dengan cahaya berpendar disekitarnya mengelilingi ruangan. Lastri dan Arum saling berdekapan karena khawatir keris itu akan mengenai mereka. Sementara aku tetap menahan rasa takut, kalau-kalau keris itu mengenaiku.

Situasi sangat tegang karena keris masih terbang kesana kemari tak tentu arah. Sinar keris itu bercampur aduk, dari biru, berubah merah, kemudian hijau lalu putih. Saat sinar berwarna putih, keris itu menjadi tenang lalu kemudian dengan secepat kilat, keris itu menusuk kedalam tubuhku. Arum dan Lastri berteriak, ternyata mereka khawatir terhadap diriku. Aku tak tahu apa yang terjadi, apakah ini adalah akhir dari hidupku. Ternyata aku mengalami perubahan suhu dalam tubuhku, berangsur menjadi lebih hangat dan semakin panas. Seolah aku mendapat sebuah aliran energi baru dalam diriku.

patrion

Aku terdiam, namun pikiranku seolah berkembang mudah memahami segala sesuatunya dengan baik. Aku menjadi lebih tenang dan tidak ada kekhawatiran sama sekali dalam diriku. Tubuhku sedikit mengeras dan berotot, aliran nafasku menjadi lebih pelan, teratur serta panjang. Apa yang terjadi dalam diriku seperti seolah berubah menjadi manusia saiya di dragon ball. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan sekejap. Aku bisa merasakan angin yang berhembus di kulitku, dapat mendengar suara dari kejauhan, bahkan bisa mendengar detak jantung dari Lastri, Arum dan kakek tua itu.

Rajah ditanganku menghilang sepenuhnya. Sementara aku bisa melihat jelas rajah di punggung tangan Lastri dan Arum. Aku memberitahu mereka bahwa rajah di tangan itu sebaiknya juga dihilangkan. Namu Lastri dan Arum tidak dapat melihatnya. Sekarang aku mulai mengerti, bahwa hanya aku yang bisa melihat seorang diri. Aku mengingatkan Lastri dan Arum perihal sebuah misi yang sedang kita emban bersama. Aku menceritakan perjalanan yang pernah dilalui bersama-sama, dari mulai memasuki prambanan, dikejar anak buah pasukan ommenia hingga sampai ke dasar laut pantai selatan. Mereka sama sekali tidak mengingat apapun. Namun Arum sangat penasaran kenapa aku bisa mengetahui Ommenia. Semuanya aku jelaskan bahwa Arumlah yang memberitahu semuanya.

Arum tersenyum, tiba-tiba memelukku dengan erat. Bertanya dengan penasaran, “Benarkah aku dan Lastri bersamamu sudah mengalami perjalanan panjang bersama?” aku mengangguk pelan. Arum minta diriku menceritakan dengan detail setiap perjalanan yang sudah dilewati. Aku pun menceritakan setiap kejadian dengan detail, tentunya tidak mungkin aku juga menceritakan perasaanku terhadap mereka berdua. Saat aku bercerita, Kakek tua itu hanya tersenyum kecil kepadaku. Aku paham kalau kakek tua itu sedang meledekku soal perasaan sesama lelaki.

Setelah semuanya selesai, kakek tua itu bertanya heran kenapa dia tidak bisa melihat bahkan menghilangkan rajah yang ada di punggung tangan Lastri dan Arum. Kakek tua itu menyarankan diriku untuk pergi ke puncak garuda gunung merapi dengan mengajak Arum dan Lastri. Di puncak garuda itu menurutnya terdapat sebuah pintu masuk menuju ke sebuah dimensi lain yang dapat mengantar kita bertemu dengan Resi Garuda yang akan membuka tabir dari rajah milik Arum dan Lastri. Arum yang begitu penasaran lekas mengajakku pergi, sambil menarik tangan Lastri untuk meninggalkan rumah kakek tua itu.

Komentar kamu?