Jelajah Wisata Malam di Braga dan Asia Afrika Bandung, Braga Kok Kaya Gini ?

Sepertinya setiap Kota seperti berusaha menceritakan masa lalu nya yang hanya kita bisa lihat dengan mata kepala kita sendiri ketika kita bertravelling ke berbagai Kota.

126 views
0

CERITAMU – Jam 11.00 WIB, 28 Oktober 2019 saya tiba di Stasiun Bandung, seperti biasa saya mengunjungi kota Bandung ini untuk melakukan Dinas Kerja keluar kota menganalisa performance cabang, mencari tahu apakah proses yang dilakukan di Cabang telah sesuai dengan prosedur dan regulasi perusahaan atau belum, setiap analisa dilakukan sedetail mungkin, namun bukan itu yang ingin dibicarakan disini.

Didalam setiap kunjungan Cabang yang saya lakukan, saya melakukan aktifitas X-Mission Rush Tour (istilahnya mah Misi Tur Kebut-kebutan ala backpaker seadanya wae lah). Tur ke berbagai area yang berada dikota itu diluar jam kerja yang saya lakukan di Cabang, bila selesai bekerja di jam 6–7 Malam, maka saya melakukan tur dan traveling di kota tersebut diluar jam tersebut, bisa dimalam hari ataupun di pagi hari. Kali ini yang akan saya bahas adalah kota Bandung, wisata malam di Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika !

Setiba di Kota Bandung dengan menaiki kereta executive pangandaran Gambir — Banjar memakai tiket kereta api yang dibeli secara Online di tiket.com seharga 150 ribu rupiah, saya tiba di Kota Bandung tepat pada waktu yang tertera pada tiket tersebut (hanya selisih 3 menit dari waktu yang tertera pada tiket kereta api tersebut). Jauh-jauh hari sebelumnya saya telah memesan hotel di Hotel Murah di dekat Braga, yaitu favehotel Braga dengan menggunakan Applikasi Online juga via Agoda.com , kebetulan di Agoda selalu ada diskon hotel murah sebesar 5%. Saya memesan Hotel murah Bandung tersebut selama 5 hari hingga hari sabtu, harga per hari Hotel murah tersebut sekitar 380 ribuan (Sudah Potong Diskon).

Niat Hati setiba di Stasiun Bandung ingin meminta early Checkin agar bisa langsung masuk ke favehotel tersebut, apa daya ternyata regulasinya hanya bisa checkin di jam 2 siang, saran bagi yang ingin ber Wisata ke Bandung dan langsung ingin masuk ke Hotel disekitaran Stasiun, ambil jadwal kereta dari Jakarta di jam 11 Siang keatas, agar setibanya di bandung bisa langsung check in (lama perjalanan Jakarta — Bandung sekitaran 3 jam via Kereta Api baik yang Argo Parahyangan maupun yang Pangandaran). Dikarenakan tidak bisa checkin dijam 11 siang tersebut, maka saya melanjutkan aktifitas langsung ke kantor cabang hingga pukul 18.00.

Selepas dari Kantor, bila sebelumnya ketika bepergian ke Surabaya mengunjungi Kenjeran Park Surabaya dan ber Wisata Malam di Batu Night Spectacular saya di temani dengan rekan kerja dari Jakarta, kali ini di Kota Bandung saya di temani dengan satu orang teknisi Bandung ke Hotel dan dikarenakan lokasi Hotel berada di Braga, maka saya mengajak karyawan tersebut untuk makan malam dahulu dan berjalan kaki mengelilingi sekitaran Jalan Braga (bilangnya hanya ingin ditemani jalan sebentar keliling Braga, namun ujung-ujungnya hingga ke Jalan Asia Afrika, hehehe).

Untuk Makan Malam di Braga, pas didepan Citywalk ada tempat Makan Kuliner Nasi Goreng (Namanya nasi Goreng Rempah Mafia Braga, ngeri ya denger namanya pake Mafia..hehe), dengan harga yang relatif murah sekedar untuk menganjal perut yang lapar, Harga seporsi nasi Goreng tersebut sekitaran 17 ribu rupiah dan minuman dinginnya tersedia berbagai rasa, jeruk, lemonade, lemon tea, dan ice tea dengan kisaran harga 8 ribuan.

Harganya tergolong murah melihat lokasi nya yang lumayan Sensasional di area sekelas Braga, kadang bagi kita yang merasa khawatir dengan kisaran harga untuk wisata Kuliner Bandung, saran saya, kita bisa cari tahu saja dahulu via Google Maps ataupun via Go-food ataupun Grab Food, agar ketika mau ke tempat kuliner kita sudah mengetahui estimasi biaya yang akan kita keluarkan berapa untuk sekedar Makan Malam atapun ngopi-ngopi santuy, Bagi yang hobi dengan kuliner, area sekitar jalan Braga ini didominasi dengan Cafe untuk sekedar hangout dengan berbagai macam Kopi dan Makanan (mayoritas dominasi adalah Kopi).

Saya mencoba menyusuri Jalan Braga ini bersama rekan saya dari bandung tersebut, nuansa yang ingin diperlihatkan di Braga ini memang memiliki konsep Nuansa Kolonial ala Eropa dengan lampu-lampu hias disepanjang jalan yang eksotis dan instagrammable untuk berfoto-foto. Braga sendiri diambil dari bahasa Jawa Ngabaraga yang artinya Bergaya, menurut berbagai media yang saya coba cari tahu, nama itu pada awalnya dinamakan pada tahun 1882 oleh Asisten Residence Belanda, Pieter Sitijhof dengan nama Bragaweg.

dari sepanjang jalan pengamatan tampak beberapa Lampu yang tidak menyala, ntah dikarenakan kurang malam, atau memang kondisi lampu yang memang belum dinyalakan, namun kondisi yang agak gelap disisi-sisi jalan membuat saya teriang akan cerita yang konon jalan Braga ini disebut Jalan Culik karena cukup rawan, juga dikenal sebagai jalan Pedati (pedatiweg) pada tahun 1900. Jalan Culik merupakan istilah dari bukunya Pak Haryoto Kunto di buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Istilah ini memang berlaku pada masa tahun 1800an itu, ketika jalan masih sangat sepi dan hanya digunakan untuk jalur pengangkutan kopi saja.

dari Sumber yang kurang jelas apakah otentik atau tidak, konon ada sedikit cerita yang cukup mengerikan di Jalan Braga, yakni saat Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta 23 Januari adalah peristiwa yang terjadi pada 23 Januari 1950 di mana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui, konon pernah terjadi juga pembantaian laskar pemuda pada masa revolusi. Laskar ini pada bersembunyi di Kampung Afandi (di kawasan Braga). Saat ketahuan, mereka dibantai dan sebagian kampungnya dibakar

Ntah seberapa benar cerita itu saya berusaha menikmati wisata singkat jalan-jalan di Braga ini lanjut terus menuju Jalan Asia Afrika, Dijalan ini kita melihat berbagai Arsitektur Bangunan Kuno yang seolah seperti seorang kakek yang bercerita kepada Cucu-cucunya melalui desiran Angin malam, Elegan namun dingin, Berdiri kokoh dengan seyuman meskipun telah berusia tua. menyusuri Jalan ini kita akan melihat kata-kata yang terukir di salah satu terowongan disana

Disepanjang jalan Asia Afrika, jangan kaget bila ada melihat berbagai jenis hantu berseliweran disepanjang jalan, mereka bukan para hantu dari jaman Kolonial, mereka hanyalah para cosplayer dengan kostum hantu untuk menarik para wisatawan agar mau saling berbagi rezeki berfoto bersama dan bersedia membayar seikhlasnya kita.

Disekitaran Jalan Asia Afrika kita juga akan melihat beberapa spot foto yang banyak di minati oleh para wisatawan, seperti bola Dunia dengan Tulisan Asia Afrika, menurut informasi dari rekan, biasanya Bola Dunia itu menyala dengan lampu yang menawan, ntah mengapa ketika saya berkunjung kesana, lampunya tidak menyala, Gelap, seperti kelamnya hati ini merindukan anak-anak dirumah (Machdar Assajjad & zainab Nasywa, Aba Love you full )

Didekat Jalan Asia Afrika, terdapat jalan yang bernama Palestine Walk, disini pun banyak para wisatawan berburu spot untuk berfoto-foto

ketika berjalan di Jalan Asia Afrika dan palestine Walk ini kita akan melihat pula Alun-alun kota Bandung yang menarik, namun ternyata sama seperti Bola Dunia, lampu-lampunya tidak semuanya menyala (kalau lihat foto, seolah-olah terlihat agak terang, ini karena memang hp nya lumayan canggih dengan berbagai lighting pemirsa, aktualnya suasana agak sedikit gelap) namun saya masih beruntung bisa mengabadikan momen melihat Mesjid Raya bandung berdiri dengan kokoh tepat di Alun-alun kota Bandung tersebut.

Saya mengitari jalan sekitar melewati jalan cikapundung, disekitaran Jalan Cikapundung ini kita akan melihat berjejer berbagai jenis makanan bisa kita temukan disini, untuk kisaran harga menurut saya cukup relevan dan bersahabat, minimal harga 15 rb — 35 ribu sudah bisa makan kenyang disekitaran Cikapundung ini.

Selesai mengitari jalan Cikapundung saya memutuskan untuk kembali ke Hotel melewati jalan Braga kembali, suasana lampu tetap tidak berubah, beberapa titik lampu memang masih tidak menyala, sepertinya kalau melihat di Jalan Asia Afrika, Kawasan Alun-alun yang memang memiliki kondisi yang sama, ntah apakah memang lampu-lampu tersebut sengaja tidak dinyalakan di hari-hari biasa, atau memang ada hal lain diluar itu, namun saya mengakui bahwa nuansa yang dibawakan di Jalan Braga dan Asia Afrika ini memiliki sensasi yang menarik dengan berbagai arsitektur bangunan kuno nya seperti hal nya ketika Saya berwisata ke Kota Tua di Jakarta dan Melihat bangunan Arsitektur Lawang Sewu di Kota Semarang.

Sepertinya setiap Kota seperti berusaha menceritakan masa lalu nya yang hanya kita bisa lihat dengan mata kepala kita sendiri ketika kita bertravelling ke berbagai Kota. Berhubung waktu Dinas di Kota Bandung ini masih cukup ada waktu panjang hingga di hari Sabtu tanggal 2 November 2019, berbagai destinasi menarik bandung lainnya akan coba saya kunjungi dalam waktu dekat.

Yuk cari Trip Murah melalui Pandu Asia

Komentar kamu?