Mengintip Aktivitas Pemburu Sagu di Pesisir Danau Sentani

Sebagai Ibu kota Papua, Jayapura memiliki geliat perekonomian yang lebih maju dibanding kota-kota kabupaten lainnya di tanah Papua. Untuk urusan destinasi wisata, Jayapura pun berbenah membuka gerbang buat para turis lokal dan mancanegara yang hendak mengeksplorasi Jayapura.

142 views
0

WartaWisata.ID – Ada banyak ragam keindahan alam dan budaya yang bisa disaksikan ketika kalian bertandang ke Jayapura. Sebut saja mulai dari jelajah danau Sentani, menikmati matahari tenggelam di ufuk barat bukit Teletubies sampai berkunjung ke monumen McArthur yang menjadi saksi sejarah Perang Dunia ke II.

Tidak kalah menarik adalah melihat lebih dekat kegiatan warga lokal pemburu sagu di hutan Yomoro. Hutan kecil yang menyimpan deretan pohon sagu murni yang menjadi salah satu sumber makanan pokok masyarakat lokal. Apa saja yang bisa kalian temui ketika memasuki hutan sagu yang persis berada di tepi danau Sentani ini?

Pohon sagu tidak tumbuh di mana saja. Ada kalanya jenis pohon ini tumbuh di tengah hutan lebat penuh duri dan semak belukar. Warga pencari sagu pun acap kali dibuat susah payah menerjang hutan demi menemukan pohon sagu yang siap digarap dan diambil isinya. Konon pohon sagu merupakan jenis pohon asli di tanah Papua yang sudah ada sejak lama.

Selain itu, ternyata sagu tumbuh subur di daerah yang lembab dan berair seperti di Yomoro. Terbukti permukaan tanah di sekitar pohon sagu digenangi air. Jika diinjak berkali-kali tak menutup kemungkinan permukaan tanah berubah jadi lumpur.

Hutan sagu Yomoro terletak di desa Iftar Besar. Kawasan ini sebenarnya tidak jauh dari kota Jayapura. Mengambil jalur danau yaitu naik perahu menyusuri pinggiran danau Sentani. Belum cukup di situ, dari tempat perahu bersandar, perlu berjalan kaki memasuki hutan untuk menemukan titik utama hutan sagu.

kalian harus siap dengan jalan setapak yang berlumpur. Sepanjang jalan menuju tempat pengolahan sagu, nyaris tidak ada penunjuk jalan. Suasananya benar-benar di tengah hutan rimba. Jika jalan dengan kecepatan normal, perlu waktu kurang lebih 30 menit hingga tanda-tanda kehidupan bisa ditemukan.

Pohon sagu yang sudah tergeletak di tanah memiliki bentuk yang mirip dengan pohon palem. Bedanya tekstur di bagian dalam tampak berserat tebal dan kasar. Setelah dipangkur serbuk sagu mentah kemudian dicampur dengan air lalu diperas untuk mendapatkan saripati dari serbuk sagu. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Sedangkan tukang pangkur dikerjakan sepenuhnya oleh kaum lelaki. Katanya, untuk mengambil serbuk sagu dalam satu pohon saja dibutuhkan waktu enam sampai tujuh hari. Hasil akhir dari sagu bisa mencapai sepuluh karung penuh untuk satu pohon.

Sebelum sagu ini menjadi tepung utuh, terlebih dahulu harus dijemur beberapa waktu. Nantinya sagu yang siap dimasak akan mengembang dan siap disantap jadi makanan. Jadilah namanya Papeda. Sajian khas cita rasa Papua dengan penyajian yang menarik. Papeda biasanya dibungkus menggunakan daun pisang dan disantap dengan ikan gabus.

Komentar kamu?