Mengenal Suku Asmat Lewat Tradisi dan Upacara Adat

Suku Asmat memiliki ukiran-ukiran unik dan estetis yang dinilai magis. Ukiran-ukiran tersebut melambangkan kehadiran roh nenek moyang serta mengungkapkan rasa sedih dan bahagia.

160 views
0

WartaWisata.ID – Suku Asmat Papua adalah salah satu suku terbesar yang ada di Papua. Mereka tinggal menyebar di pedalaman dan di tepi pantai. Mereka tinggal di rumah dengan bentuk seperti jamur yang disebut Jew. Sebagai suku yang terkenal secara lokal maupun nasional, tentu berbeda dengan suku-suku lain yang ada di Indonesia.

Suku Asmat memiliki ukiran-ukiran unik dan estetis yang dinilai magis. Ukiran-ukiran tersebut melambangkan kehadiran roh nenek moyang serta mengungkapkan rasa sedih dan bahagia. Selain itu, sebagai lambang kepercayaan dengan motif manusia, hewan, dan tumbuhan. Ukiran tersebut juga sebagai simbol penghormatan pada leluhur yang sudah meninggal.

Selain itu, mereka memiliki adat istiadat yang menjadi pegangan secara turun temurun dalam kehidupan sehar-harinya. Beberapa adat istiadatnya yaitu masalah kehamilan, kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Suku Asmat Papua terkenal dengan tarian Tobe yang khas. Dahulu, tarian ini dilakukan ketika ada perintah perang dari kepala suku. Sekarang, tarian ini digunakan untuk menyambut tamu sebagai penghormatan.

Tarian ini dipadukan dengan nyanyian yang membakar semangat dan diiringi musik tifa. Para penari menggunakan manik-manik dada, rok dari akar bahar, dan daun-daun yang diselipkan pada badan mereka yang melambangkan bahwa mereka dekat dengan alam.

Kegiatan Unik Suku Asmat

Suku Asmat memiliki kegiatan kebudayaan dan adat istiadat yang unik, karena upacara adatnya berbeda dengan suku lain. Berikut adalah beberapa upacara adat khas Suku Asmat:

Ritual Kematian

Mereka berpikir bahwa kematian bukan hal yang alamiah, tetapi ada roh jahat yang mengganggu orang meninggal tersebut. Oleh karena itu, bila ada kerabat yang sakit maka mereka akan memagari rumahnya dengan pohon nipah agar roh jahat tidak bisa mendekati si sakit.

Jika orang sakit itu meninggal, mereka akan berebutan memeluk dan keluar untuk menggulingkan badannya di lumpur. Selanjutnya, mayat akan diletakkan di atas para (anyaman bambu) sampai membusuk. Tulang-tulangnya akan disimpan di atas pokok-pokok kayu. Sedangkan tengkoraknya akan dijadikan bantal sebagai bentuk kasih sayang terhadap orang yang sudah meninggal.

Ada juga yang meletakkan mayat di atas perahu lesung dengan dibekali sagu untuk dialirkan ke laut. Namun ada juga mayat yang dikubur dengan ketentuan si laki-laki tidak menggunakan busana, dan si perempuan menggunakan busana. Jenazah itu dikuburkan di hutan, pinggir sungai, atau semak-semak.

Orang-orang meninggal juga dibuatkan mbis (ukiran orang). Sebab mereka percaya bahwa roh-roh orang meninggal masih berkeliaran di sekitar rumah.

Upacara Mbismbu

Mbis adalah semacam ukiran patung tonggak nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Upacara sakral ini memiliki makna sebagai pengingat pada kerabat yang meninggal atau terbunuh. Jika terbunuh maka kerabat tersebut harus membalas dendam dengan membunuh pelakunya.

Upacara Tsyimbu

Upacara ini dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Perahu dicat warna putih di dalamnya dan warna merah berselang putih di luarnya. Perahu itu diukir gambar keluarga yang sudah meninggal atau ukiran binatang. Lalu perahu dihias dengan sagu. Sebelum menggunakannya, para keluarga berkumpul di rumah kepala suku atau kepala adat. Hal ini sebagai perayaan dengan pertunjukkan nyanyian-nyanyian yang diiringi tifa.

Upacara Yentpokmbu

Rumah Bujang digunakan untuk kegiatan religius maupun non religius. Rumah ini diberi nama sesuai marga pemiliknya. Rumah ini juga sebagai tempat berkumpul keluarga. Namun jika ada penyerangan maka anak-anak dan wanita dilarang masuk.

Itulah beberapa upacara adat khas Suku Asmat yang menyimpan keunikannya tersendiri dan tentunya menarik untuk kita ketahui.

Komentar kamu?