Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 19)

Lastri terheran dengan apa yang terjadi pada lenganku, menurutnya itu adalah sebuah rajah yang diberikan padaku. Saat aku mulai melupakan ingatan kalimat yang terbesit itu, rajah itupun hilang dalam punggung lenganku.

130 views
0

PATRION – Kicau burung terdengar riuh bersahutan satu sama lainnya, seiring mentari terbit. Aku terbangun dari tidurku dengan rasa pening di kepala. Aku berusaha membuat sadar sepenuhnya tapi tubuh ini terasa berat untuk bangkit. Aku sungguh lupa, mimpi apa yang aku alami. Semakin berusaha mengingat, semakin pula kepalaku pening berkali lipat. Paman memanggilku tuk bergabung bersamanya. Aku disuguhkan segelas teh dan onde-onde oleh Lastri, sekejap bayangan dejavu muncul di kilasan pikiranku. Ini seperti pernah terjadi sebelumnya, sangat nyata tapi aku sendiri tak bisa menjelaskan sama sekali. Banyak cerita dari orang-orang yang sering kudengar soal dejavu ini, membuatku bisa menerimanya bahwa ini hanya kejadian ilmiah. Seingatku, semalam aku berdua dengan dua bidadari yang keduanya adalah pujaanku. Tak lama berselang, Arum salah satu bidadari yang kumaksud, mendekat padaku kemudian meminta pakde untuk mengizinkannya pergi ke Prambanan bersamaku dan Lastri.

Perjalanan seharian bersama kedua bidadari di Prambanan membuat tubuhku letih dan semakin menggugah hasratku untuk tampil lebih baik didepan mereka. Tidak ada yang istimewa selain terus mengagumi keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang ada di dekatku. Anehnya, aku selalu merasakan bahwa seharian ini kebersamaanku bersama mereka berdua selalu terjadi dejavu. Gurauku dalam bathinku, mungkin saja mereka berdua dahulu kala adalah istri-istriku dan aku rajanya… hahaha..

Malam bergelayut pekat. Aku duduk bersantai di halaman pendopo seorang diri sambil merenungkan kejadian seharian ini. Sebelumnya aku sudah menyiapkan diriku dengan membasuh diri sebersihnya dan membuat tubuhku wangi, kalau kalau kedua bidadari nanti datang mendekatiku seperti malam kemarin. Aku sejenak duduk hening merenung diri. Tak berapa lama ada rangkaian kalimat yang terlintas di benakku berulang kali muncul soal menjaga bumi dan nusantara. Namun semuanya itu masih samar. Keningku merengut coba merangkai semua itu, aku seperti orang stress berusaha mencari cari kalimat itu, ingin berteriak tapi tak bisa keluar. Tanpa kusadari sebuah simbol di punggung lenganku muncul seperti urat nadi yang menyala dalam kulit. Itupun aku baru tahu setelah Lastri datang dan memberitahuku.

Lastri terheran dengan apa yang terjadi pada lenganku, menurutnya itu adalah sebuah rajah yang diberikan padaku. Saat aku mulai melupakan ingatan kalimat yang terbesit itu, rajah itupun hilang dalam punggung lenganku. Lastri heran. Dia kemudian teringat dengan teman kakeknya yang bisa membaca arti rajah. Lastri mengajakku kesana. Saat kita sudah berada diparkiran mobil. Arum muncul dan minta ikut bersama.

Mobil yang kita tumpangi, adalah sebuah hartop CJ 7, dimana aku pernah merasakan berpetualang bersama mereka. Lagi-lagi rangkain acak kalimat membelenggu pikiranku, memaksaku untuk menguntainya dengan benar. Di dalam mobil kepalaku seperti kesakitan, seiring hal itu juga muncul rajah di punggug lenganku. Arum dan Lastri semakin keheranan. Aku diminta untuk mengucapkan kata kata yang ada dalam benakku. Aku berusaha mengucapkannya tapi tak sanggup. Aku seperti seorang kerasukan, menggeliat sambil memegangi kepalaku.

Tak berapa lama, mobil tiba di tempat tujuan, sebuah gubuk tua didekat kaki gunung Merapi. Seorang renta dengan kain jawa muncul dari dalam rumah, mempersilahkan kita bertiga untuk masuk. Aku yang terkulai lemas, dibantu oleh kedua bidarari. Lengan kananku ke bahu Lastri sementara lengan kiriku ke barhu Arum. Aku digeletakkan di sebuah dipan anyaman kayu. Orang tua renta itu kaget saat melihat rajah yang ada di punggung tanganku. Menurutnya rajah itu adalah sebuah ujian buat diriku yang disembunyikan. Entah apa maksudnya, aku pun hanya fokus terhadap sakit di kepalaku. Saat lengangku dipenang oleh orang tua itu, bola mata orang tua itu langsung berubah putih seluruhnya, sangat menakutkan untuk kita bertiga,. lalu dia berucap ‘ jagalah seluruh bumi ini dengan menjaga Nusantara, temukan anak-anak negeri dengan seharusnya yang pantas mereka miliki. Lindungi mereka dengan seluruh kemampuanmu, karena alam akan turut menjaga kalian”. Jrengg ini kalimat yang selama ini aku coba rangkai… sepintas, beberapa kilasan peristiwa berjalan seperti roll film di kepalaku. Aku langsung memeluk Lastri dan Arum dengan penuh kesenangan. Keduanya penuh dengan rasa heran melihatku.

Bersambung..

Komentar kamu?