Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 18)

“jagalah seluruh bumi ini dengan menjaga Nusantara, temukan anak-anak negeri dengan seharusnya yang pantas mereka miliki. Lindungi mereka dengan seluruh kemampuanmu, karena alam akan turut menjaga kalian”.

104 views
0

PATRION – Sesuatu yang sangat aneh bagiku, melihat tangga yang mengarah ke bawah ke dalam air. Dugaanku dulunya mungkin tempat ini berada dalam dataran tinggi sekian ribuan tahun lalu, bisa saja ada sebuah istana, tapi apa mungkin istana ada bagian di sisi selatan Nusantara. Inilah misteri yang mungkin sangat sulit mengupasnya.

Mata Arum mengelilingi area sekitar mencari sesuatu yang entah apa. Lastri pun kembali melihat ke langit, ada jajaran bintang kemukus yang menurutnya bisa menjadi penuntun jalan kita. Lastri menyeru kita untuk masuk kedalam air, menuruti anak tangga itu. Namun Arum menahannya. Lalu menjelaskan ke kita kalau dia pernah membaca sebuah tulisan dari buku lama perihal tempat ini, menurutnya disekeliling sini pasti ada petunjuk. Peta kulit yang ku pegang bersinar redup, tapi anehnya kadar sinarnya berubah ubah manakala saat aku menggeser posisiku ke arah lain. Arum memintaku berjalan ke arah tengga di dekat sebuah karang kecil. Ternyata sinar dalam kulit peta semain terang. Barulah jelas disana terdapat petunjuk. Aku mengorek dinding karang tersebut dengan tanganku. Saat sudah mulai terbuka barulah terlihat jelas terdapat sebuah tulisan sangsekerta. Entah apa artinya, tapi jelas pasti ada hubungannya dengan tangga itu.

Arum mempelajari sejenak tulisan sangsekerta kemudian mulai mengejanya satu persatu dengan lancar. Bahasa tulisan itu menurutnya sangat kuno, bukan bahasa sangsekerta pada umumnya. Arum bilang kalau kita harus turun ke tangga itu dan kita diminta membaca salah satu bagian tulisannya sebelum menuruni anak itu. Aku diminta mengikuti ucapan Arum “dosilopo mongosio, podojoyo samaratunggi jenar”. tidak ada yang berubah sama sekali ketika kita membaca itu. Tapi Arum memintaku terlebih dahulu untuk turun. Disini ungkapan ‘Ladies first” tidak berlaku sama sekali, gurauku.

Aku pun menuruni anak tangga itu dengan perasaan takut bercampur penasaran. Saat hanya tinggal kepalaku yang belum terbenam, aku coba menahan nafas. Arum yang di belakangku langsung mendorongku ke depan. Tubuhku langsung sepenuhnya masuk ke dalam air, diikuti Arum dan juga Lastri yang melangkah dibelakangku. Anehnya di dalam air masih terdapat grafitasi yang membuatku tetap menginjak anak tangga, tidak membuatku mengambang. Sementara itu saat nafasku habis karena menahannya sejak tadi, ternyata aku bisa bernafas di dalam air.

Suasana begitu temaram di dalam air. Samar-samar melihat arah jangkauan pandang yang radiusnya cukup terbatas. Meski kita bertiga sudah bisa menghilangkan keheranan karena bisa bernafas dalam air, tetap saja rasa takut tetap menyelimuti diriku. Pikiran buruk adanya binatang buas lautan ataupun hal hal menyeramkan menyelimuti diriku. Herannya aku tak melihat hal yang sama terhadap Arum dan Lastri. Mereka tampak tenang dan saling berpegangan tangan. Kita mencoba berjalan kedepan, dan tepat di depan kita, ternyata masih ada anak tangga lainnya. Dan di bawah itu terdapat sebuah cahaya samar terang. Kita pun melangkah terus hingga kita menemukan sebuah tempat pelataran yang benar-benar berbeda dari manapun. Diatas pelataran terdapat sebuah peta planet bumi.

Seperti anak kecil, keheranan kita belum habis-habis hingga dihentikan oleh sebuah suara yang cukup menggelegar. Suara petir dan suara kemarahan. Seperti sebuah gunung besar berteriak di depan kita, namun tidak memekakkan telinga, hanya membuat kita kaget. Suara itu menyerukan sebuah kalimat kepada kita “jagalah seluruh bumi ini dengan menjaga Nusantara, temukan anak-anak negeri dengan seharusnya yang pantas mereka miliki. Lindungi mereka dengan seluruh kemampuanmu, karena alam akan turut menjaga kalian”. kalimat itu berulang sebanyak tiga kali. Hingga aku pun bisa menghafalkannya. Namun masih belum mengerti apa maksud dari seluruhnya.

Tak lama berselang. Tempat itu runtuh perlahan. Lahar panas muncul menghancurkan tempat itu, dari mulai pelataran hingga satu persatu anak tangga. Aku spontan menarik tangan Arum dan Lastri naik ke atas. Kita bertiga berlari ke atas namun di bagian lain ternyata juga sudah nyaris hancur. Tepat di arah barat kita, ternyata ada sesosok yang menunggu pada sebuah pintu berbentuk lingkaran. Pintu itu seperti portal yang entah menuju ketempat mana. Tepat didepan portal, sosok itu mengeluarkan sebuah benda, kita diminta menjulurkan tangan kita, lalu benda itu ditempelkan ke atas punggung tangan kita, kita seperti diberi stempel sebuah symbol. Saat itu lahar panas terus mengejar kita, mau tak mau, kita pun masuk ke dalam pintu portal tersebut meninggalkan sosok misterius yang ada di seberang portal.

Bersambung ke Part 1 – 19

Komentar kamu?