Objek Wisata ‘Bak’ Bingkai Foto

Pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata harus mulai fokus pada pembenahan-pembenahan wisata Indonesia sehingga nyaman bagi para pengunjung. Bukan sebatas gembar-gembor “visit Indonesia” tapi kenyataannya objek yang dituju mengecewakan.

674 views
0

CERITAMU – Objek Wisata ‘Bak’ Bingkai Foto, Hampir tidak ada negara yang memiliki objek pariwisata selengkap Indonesia. Gugusan pulau yang membentang dari Merauke hingga ke Sabang menyajikan beragam pilihan bagi para pelancong domestik maupun luar negeri.

Saking lengkapnya, Indonesia yang berada di lajur khatulistiwa bahkan memiliki tempat wisata yang menyajikan butiran salju layaknya negara kutub. Seperti di dataran tinggi Dieng saat musim penghujan dan salju abadi yang ada di puncak gunung Jaya Wijaya.

Garis pantai Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Panjangnya mencapai ribuan kilometer dan semua berpotensi jadi wisata, mulai dari wisata pantai hingga wisata hutan bakau.

Begitu juga dengan hamparan gunung yang ada di negeri ini. Mau gunung mati, maupun gunung berapi aktif ada tersedia.

Tapi sebagai orang Indonesia, penulis kurang merekomendasikan tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia, kecuali yang ada di Provinsi Bali.

Sebab di Pulau Dewata, semuanya mendukung untuk menjadi tujuan wisatawan. Mulai dari pemandangan alam, infrastruktur, keramahan masyarakat, transportasi yang mudah, hingga beragam fasilitas penginapan.

Sekere-kerenya Anda kalau ke Bali, Anda masih bisa menikmati pasir pantai dan memandang matahari tenggelam dengan gratis. Tidak ada tiket masuk ataupun pungutan dari warga. Tapi ketika kita berpaling dari Bali, maka semua itu jarang ditemui.

Beruntung, jadi kata yang tepat jika kita menemui faktor-faktor pendukung wisata tersebut.

Kita ambil contoh wisata pantai di Anyer, Banten. Akses jalan menuju pantai-pantai Anyer terbatas. Jalanan sempit, keramaian pasar, truk pabrik, hingga perbaikan jalan yang tak kunjung usai teramat menjenuhkan.

Jarak tempuhnya bisa mencapai lebih dari enam jam dari Jakarta ke Pantai Karang Bolong.

Sesampai di Karang Bolong, beragam pungutan menanti. Mulai dari parkir hingga tarif masuk perorangan yang jika dijumlah lumayan membebani kantong.

Semua kejenuhan dan beban kantong itu semakin menjengkelkan saat kita tahun kualitas wisata yang ditawarkan. Kumuh, ramai seperti pasar, dan tidak ada perkembangan signifikan dari tahun ke tahun.

Menjadi catatan serius karena pantai di sepanjang Anyer semua berbayar dan dikuasai oleh para pengusaha hotel. Seharusnya, garis pantai bebas dinikmati oleh umum, tidak perlu bayar.

Ini contoh kecil objek wisata yang tidak terurus. Padahal, objek itu merupakan tujuan wisata yang menjadi tujuan warga ibukota.

Pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata harus mulai fokus pada pembenahan-pembenahan wisata Indonesia sehingga nyaman bagi para pengunjung. Bukan sebatas gembar-gembor “visit Indonesia” tapi kenyataannya objek yang dituju mengecewakan.

Bandingkan dengan Thailand. Objeknya terbatas. Paling hanya Pattaya yang terngingang di telinga kita. Tapi Pattaya itu kini mengancam Bali bahkan keindahan alam Raja Ampat.

Thailand nampak serius mengatur wisata mereka. Warga sekitar juga diberdayakan tapi dengan aturan yang baik, sehingga objek wisata tidak nampak kumuh dan lebih mirip pasar.

Kalau di Indonesia, semua hanya bagus di dalam bingkai foto. Kenyataannya, 80 persen keyakninan saya, anda akan menyesal jika pemerintah tidak segera memperbaiki.

169 Negara Bebas Visa

169 Negara dibebaskan dari kewajiban memiliki visa untuk tujuan kunjungan ke Indonesia. Hal ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2016 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo 02 Maret lalu. Sebelumnya, Bebas Visa Kunjungan diberikan kepada 45 Negara berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 69 Tahun 2015 sejak 10 Juni 2015. 100 hari kemudian, tepatnya tanggal 18 September 2015, Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2015 diterbitkan.

Jumlah negara yang mendapat fasilitas bebas visa kunjungan ke Indonesia meningkat menjadi 90 negara.

Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2016 mengamanatkan bahwa Penerima Bebas Visa Kunjungan diberikan izin tinggal kunjungan untuk 30 hari dan tidak dapat diperpanjang masa berlakunya ataupun dialihstatuskan menjadi izin tinggal lainnya.

Selain itu, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, tahun 2019 pariwisata mematok target devisa terbesar Rp280 Triliun. Selain itu, Indonesia juga membidik status terbaik semua lini di kawasan regional.

Dia juga mengatakan persaingan sekarang, yang cepat mengalahkan yang lambat. Performansi pariwisata saat ini bagus, tapi harus ditingkatkan terus. Pariwisata Indonesia tumbuh cepat, tapi Vietnam yang tercepat. Para pesaing harus terus diciptakan kalau ingin maju. Sebab, target 2019 ini besar. Target kenaikan devisanya juga tinggi.

Target devisa Rp280 triliun untuk 2019, naik 25%. Sebab tahun 2018, sumbangan sudah ada di angka Rp223 triliun. Target pada kontribusi PDB Nasional juga naik 0,25% atau menjadi 5,5% pada 2019. Saat ini, pariwisata ditarget sebagai penyedia lapangan kerja bagi 12,6 juta orang. Menteri yang sukses membawa Kemenpar menjadi nomor satu dan #TheBestMinistryTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok itu optimistis jika target 2019 akan tercapai.

Bagaimana hal ini bisa terwujud jika sarana dan prasana tak diperhatikan secara serius?

Mungkin sampai disini dulu ceritaku ya, semoga lain waktu masih bisa mengirimkan cerita lainnya. Misal, Minimnya sosialisasi ke kemasyarakat sementara anggaran pariwisata sudah meroket.

Terima Kasih

Komentar kamu?