Suku Gayo Aceh, Teguh Memegang Islam, Mutentu dan Bersikemelen

Masyarakat Gayo sangat taat kepada ajaran agama Islam yang dianutnya, teguh menjaga nilai budaya ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin. Mereka hidup dengan pedoman nilai bersikemelen, yaitu bersaing untuk mewujudkan nilai dasar dan harga diri.

88 views
0

WartaWisata.ID – Suku Gayo Aceh, mendiami Dataran Tinggi Gayo di Provinsi Aceh. Domisili suku yang populasinya sekitar 85.000 jiwa ini meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Sebagian menempati wilayah Aceh Timur, yaitu di Kecamatan Serba Jadi, Peunaron, dan Simpang Jernih. Suku ini diperkirakan sudah mendiami Pulau Sumatra sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi.

Suku Gayo Aceh dicirikan dengan kulit gelap, bertubuh kecil, dan berambut keriting. Suku Gayo dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu Masyarakat Gayo Laut yang mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kemudian, Gayo Lues yang mendiami daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara, serta Gayo Blang yang menempati sebagian kecamatan di Aceh Tamiang. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Gayo.

Masyarakat Gayo sangat taat kepada ajaran agama Islam yang dianutnya. Orang Gayo memiliki sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan untuk mewujudkan nilai dasar dan harga diri (mukemel).

Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti di bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Nilai-nilai luhur itu bersumber dari ajaran Islam serta adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Gayo. Inilah yang istimewa dari Suku Gayo Aceh. Mereka menjunjung tinggi adat istiadat dengan tetap berpegang teguh pada nilai Islam, hal langka yang tidak dilakukan semua suku.

Masyarakat Gayo hidup dalam komunitas kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang geucik. Kumpulan beberapa kampong disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim

Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari reje (raja), petue (petua), imem (imam), dan rayat (rakyat). Biasanya, sebuah kampong ditempati oleh beberapa kelompok belah (klan). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat.

Masyarakat Gayo dulu bermata pencaharian dari bertani, berkebun, beternak, meramu hasil hutan, bahkan menenun, dan membuat keramik. Kini, mata pencaharian utama adalah berkebun, terutama kebun kopi. Kopi khas Gayo terkenal sebagai varietas kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan. Perkebunan kopi yang terletak di ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut ini adalah perkebunan terluas di Indonesia, yaitu sekitar 81.000 hektar dan produksinya terbesar di Asia.

Kerajinan membuat keramik dan anyaman pernah terancam punah. Tetapi, dengan dijadikannya daerah ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Aceh, kerajinan keramik mulai dikembangkan lagi. Kerajinan lain yang juga banyak mendapat perhatian  khusus adalah kerajinan membuat sulaman kerawang dengan motif yang khas. Kerawang Gayo merupakan hasil kreasi masyarakat Gayo yang dipakai dalam acara adat-istiadat Gayo. Seperti acara perkawinan, khitan, turun ke sawah, hari-hari besar keagamaan, dan lain-lain.

Komentar kamu?