Cerita Dari Tanah Dogiyai

Diresmikan sebagai Kabupaten pada tanggal 8 Januari 2008 silam, membuat Dogiyai kini dihuni oleh manusia-manusia yang mencintai tanahnya.

214 views
0

WartaWisata.ID – Dogiyai merupakan sebuah Kabupaten yang berada di timurnya Indonesia, Papua. Diresmikan sebagai Kabupaten pada tanggal 8 Januari 2008 silam, membuat Dogiyai kini dihuni oleh manusia-manusia yang mencintai tanahnya.

Bukan hanya dihuni manusia yang mencintai tanahnya. Mereka yang tinggal di Kabupaten Dogiyai umumnya terdiri dari beragam komunitas, mulai dari petani, pendidik, pekerja kebun, penjual, hingga para birokrat yang saling terhubung dan menyatu bersama alam semesta Dogiyai.

Perjalanan Dogiyai sebagai salah satu Kabupaten di Tanah Air juga tidaklah mudah. Sebelum diresmikan menjadi kabupaten sendiri, Dogiyai nyatanya pernah mengalami masa kejayaan dengan melimpahnya biji kopi karena hamparan tanah yang luas dan di sela-sela hutan penuh dengan pohon kopi.

Kala itu, masyarakat Dogiyai menjadi penggarap tanaman kopi yang tangguh. Namun seiring waktu berjalan, keunggulan kopi itu tersingkir lantaran generasi kopi yang terus tergerus oleh budaya dan roda ekonomi yang berubah. Tidak hanya itu, nilai-nilai budaya petani yang setia menggarap lahan beserta tanahnya pun semakin menyusut.

Masa-masa kejayaan itu hanya bertahan sampai sekitar tahun 2000. Potensi ekonomi kopi kala itu lebih rendah jika dibandingkan ternak babi, atau menanam tumbuhan lain seperti kacang tanah.

Mereka yang tinggal di Dogiyai belakangan juga lebih memilih pekerjaan yang menghasilkan uang secara cepat. Hal itulah yang kemudian menggeser kesetiaannya kepada pertumbuhan tanah dan kebunnya.

Namun sayang, budaya dan pilihan hidup yang berubah itu terabaikan oleh para tokoh dan pemimpin Dogiyai. Kebanyakan para pemimpin melupakan pendidikan yang bisa melahirkan generasi baru, generasi muda yang juga giat dan mencintai alam Dogiyai. Situasi demikian dialami oleh Dogiyai yang kehilangan generasi-generasi petani kopi terdahulu. Namun, biarlah sejarah itu tetap menjadi hal yang akan selalu dikenang dalam hati mereka yang selalu mencintai alam Dogiyai.

Hadirnya Pemimpin Baru Dengan Beragam Terobosan

Hadirnya pasangan Yakobus Dumupa dan Oskar Makai menjadi harapan baru bagi mereka yang tinggal di Kabupaten Dogiyai. Mereka adalah dua pemimpin muda yang terpilih saat pemilihan Kepala Daerah pada 2017 lalu, kemudian ditetapkan menjadi bupati dan wakil bupati Kabupaten Dogiyai untuk lima tahun kedepan yakni mulai 2017 hingga 2022 mendatang.

Satu tahun berselang, dibawah kepemimpinan Yakobus pembangunan di Dogiyai memang makin terlihat dan dirasakan semua lini masyarakat. Semboyan “Dogiyai Bahagia” rupanya bukan hanya sekedar janji kampanye yang disuarakan keduanya.

Demikian diungkapkan Danramil 1705-10/Mapia Kapten Inf Abubakar. Ia menuturkan, selama 3 tahun kebelakang sudah ada beberapa kemajuan di Dogiyai meskipun masih jauh dari harapan.

Indah Pemandangannya, Ramah Masyarakatnya

Meskipun harus ditempuh selama enam hingga delapan jam melalui perjalanan darat dari wilayah Kabupaten Nabire, nyatanya pemandangan yang tersuguhkan di Kabupaten Dogiyai memang sebanding dengan perjuangan aksesnya.

Hal itu bisa dilihat sejauh mata memandang, kondisi infrastruktur disana juga terbilang cukup baik. Salah satunya Infrastruktur Jalan.Terbukti, jalanan dari Kabupaten Nabire ke Kabupaten Dogiyai rata-rata sudah beraspal dengan kondisi yang mulus.

Namun demikian, memang ada beberapa jalan yang masih berlubang sehingga membuat pengendara untuk lebih berhati-hati agar mengurangi guncangan selama perjalanan. Tidak hanya itu, jalanan yang masih berliku-liku terpaksa membuat setiap kendaraan yang lewat harus membelok sambil memelankan lajunya. Hal itu agar tidak mengocok perut penumpang lain yang bisa berakibat mengeluarkan isi perut.

Kebetulan saat itu berkesempatan mengunjungi salah satu Distrik di Dogiyai. Distrik Mapia namanya, salah satu distrik yang berada di Ibu Kota Bobomani. Birunya langit, dan segarnya udara yang ada menambah kesan indah Distrik Mapia.

Bahkan ada satu pemandangan yang sangat membuat penulis takjub yaitu air terjun yang berada di KM 120 Jalan Nabire – Dogiyai, Papua. Seakan tak ingin ketinggalan momen, penulis pun mengambil foto keindahan air terjun yang tampak sejuk tersebut.

Tidak hanya disuguhkan pemandangan yang Indah, pendatang yang berkunjung ke Dogiyai juga disambut dengan senyum ramah masyarakat. Bahkan penulis diberikan buah tangan berupa tas kecil untuk menyimpan handphone yang dibuat sendiri oleh masyarakat.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, penulis pun merasa kagum terhadap masyarakat yang tinggal di Distrik Mapia ini. Ternyata anggapan bahwa masyarakat Papua mayoritas galak dan tidak bersahabat itu tak sepenuhnya benar.

Sebagai informasi, perjalanan penulis ke Kabupaten Dogiyai itu guna meresmikan lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga di Kampung Bomomani Distrik Mapia Kabupaten Dogiyai, Papua. Program BBM satu Harga ini dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agar masyarakat yang tinggal di Papua biasa mendapakan harga BBM yang sama seperti di Jawa dan daerah lain.

Adapun saat rombongan tiba di tempat peresmian langsung disambut warga setempat lengkap dengan tarian selamat datang khas Kabupaten Dogiyai yaitu Tarian Gai Dai yang dibawakan oleh empat orang ibu-ibu masyarakat aslj Dogiyai. Orang tua hingga anak-anak tampak sangat antusias menyambut kehadiran BBM Satu Harga di wilayahnya tersebut.

Pasalnya sebelum ada program ini harga BBM sangat mahal. Tidak hanya mahal, jarak serta kelangkaan juga menjadi hambatan masyarakat di Distrik Mapia dan sekitarnya dalam memperoleh BBM selama ini. Padahal masyarakat disana umumnya berprofesi sebagai petani dan sopir ojek yang membutuhkan BBM dalam melaksanakan pekerjaannya.

Perlu diketahui, Distrik Mapia ini dihuni oleh 16.975 jiwa yang tersebar pada 7 kampung yakni Kampung Bomomani, Gopouya, Dawaikunu, Abaimaida, Obaikagopa, Magode, dan Diyoudini.

Harga Babi di Papua Membuat Geleng-Geleng Kepala

Beda wilayah di Indonesia, beda cerita. Ada satu hal yang menggelitik ketika berkunjung ke tanah Papua. Tak hanya soal hambatan masyarakat dalam memperoleh BBM, nyatanya di Bumi Papua mahalnya Harga Babi yang tak masuk akal hingga mampu membuat setiap orang yang baru berkunjung kesana geleng-geleng kepala.

Asal tahu saja, harga Babi di salah satu wilayah timur Indonesia itu mulai dari Rp13 juta hingga Rp30 juta. Bahkan, sopir yang bertugas mengantar penulis selama berada di Kabupaten Nabire mengatakan masyarakat di Kabupaten Nabire dan Dogiyai lebih memilih menggendong babi dan menuntun anak mereka sendiri.

Lebih lanjut, pria yang mengatakan dirinya asli tanah Sumatera itu menjelaskan jika ada pesta perayaan yang diadakan Bupati maka babi semacam hidangan wajib yang disajikan sebagai hidangan.

Sementara berdasarkan sumber lain yang bertemu penulis, apabila ada yang menabrak babi di Papua maka bisa diartikan sebuah musibah. Sebab, harga ganti ruginya pun bisa mencapai puluhan juta rupiah apalagi jika yang ditabrak babi betina.

Komentar kamu?