Objek Wisata Menarik di Siberut Kepulauan Mentawai

Pulau Siberut menjadi tempat untuk melihat kehidupan tradisional Mentawai dari dekat, karena di Siberut inilah, dari empat pulau besar yang dihuni di Mentawai budaya Mentawai masih terpelihara dengan baik.

54 views
0

WartaWisata.ID – Berencana melancong ke Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat? Ada banyak pilihan tempat wisata, mulai dari wisata budaya hingga wisata ke pantai dan pulau-pulau kecilnya yang memesona.

Pulau Siberut menjadi tempat untuk melihat kehidupan tradisional Mentawai dari dekat, karena di Siberut inilah, dari empat pulau besar yang dihuni di Mentawai budaya Mentawai masih terpelihara dengan baik.

Ada beberapa desa tradisional yang bisa dikunjungi di antaranya Desa Muntei, Madobag, Ugai, Butui, Atabai dan Matotonan di Kecamatan Siberut Selatan.

Uma, Rumah Tradisional Mentawai

Yang paling menarik di desa di Siberut adalah Uma, rumah tradisional Mentawai. Uma terbuat dari kayu dengan atap daun sagu, ukurannya luas, memanjang ke belakang. Di pintu masuknya ada tempat menggantungkan tengkorak monyet, tengkorak babi, dan tengkorak burung dari hasil perburuan.

Di tengah uma ada tungku perapian dari tungku batu yang disebut Abut Kerei. Fungsinya untuk penerangan di malam hari, tempat memanaskan gajeuma (gendang) pada saat sikerei akan menari dan tempat memasak hasil buruan seperti monyet dan rusa.

Uma juga tempat kegiatan menggelar punen atau pesta ritual. Jangan lewatkan merasakan bermalam di uma, bisa menjadi pengalaman yang sangat menarik untuk melihat keseharian kehidupan tradisional Mentawai.

Meracik kuliner Mentawai

Di uma di Siberut kita bisa melihat pengolahan kuliner khas Mentawai. Seperti membuat makanan dari sagu, keladi, dan pisang.

Sehari-hari para laki-laki mengolah pohon sagu basah yang siap dijadikan makanan pokok. Pembuatan makanan dari sagu ini dilakukan oleh para perempuan.

Makanan dari sagu di antaranya kapurut, tepung sagu yang dibakar dalam daun sagu, dan obuk, tepung sagu yang dibakar dalam mambu. Sedangkan subet dibuat dari keladi dan pisang yang direbus, dilumatkan dengan kelapa parut dan dibulatkan.

Saat bermalam di uma Anda bisa ikut belajar membuat semuanya.

Menyaksikan ritual Sikerei

Jika beruntung, Anda juga bisa menyaksikan Sikerei yang sedang melakukan pengobatan. Sikerei adalah ahli pengobatan dan dukun yang menjadi mediator roh di Mentawai.

Sikerei menjadi tokoh penting di sebuah uma. Seorang sikerei punya keterampilan mengobati berbagai jenis penyakit dengan ramuan dari tanaman obat.

Dalam pengobatan, Sikerei sering melakukan ritual di atas uma, salah satunya dengan muturuk atau menari untuk berkomunikasi dengan roh.

Untuk mencapai desa tradisional di Siberut Selatan, pengunjung dapat bertolak naik kapal dari Kota Padang. Namun jadwal kapal tidak tersedia setiap hari.

Kapal cepat ”Mentawai Fast” di Pelabuhan Muaro Padang setiap Selasa, Kamis dan Sabtu. Jadwal keberangkatan pukul 07.00 WIB dengan waktu tempuh tiga setengah jam ke Dermaga Mailepet Siberut Selatan. Kapal kembali ke Padang pada hari yang sama pukul 15.00 WIB.

Dari Dermaga Mailepet ke Desa Muntei wisatawan bisa menyewa ojek karena jaraknya hanya satu kilometer. Untuk mengunjungi desa lain yang lebih jauh, ojek juga bisa jadi pilihan. Namun perlu diingat, ongkos ojek di Siberut cukup mahal.

Jika Anda penggemar surfing atau ingin tetirah di pulau-pulau kecil di Siberut, Siberut Barat Daya adalah tempatnya. Di sini terdapat titik-titik ombak terbanyak di Kepulauan Mentawai, juga pantai-pantai yang indah.

Untuk ke pulau-pulau ini, pelancong cukup menyewa perahu dari Dermaga Mailepet di Siberut Selatan. Perjalanan memakan waktu sekitar satu sampai dua jam.

Pantai-pantai di pulau ini memiliki pasir putih dan air laut yang jernih. Di sepanjang pantai tumbuh rapat pohon kelapa.

Pulau ini tidak memiliki kampung atau desa. Namun beberapa di antaranya memiliki resor, homestay dan pondok atau rumah masyarakat yang bisa disewakan.

Beberapa lokasi yang menarik di antaranya Pulau Nyang-Nyang (Ebay), Pulau Karamajat, Pulau Roniki, Pantai Masilok.

Komentar kamu?