Mohon Petunjuk Rejeki dengan Cara Bakar Tongkang

Ritual berusia 135 tahun, diadakan untuk mengenang leluhur Tionghoa Bagansiapiapi dan wujud syukur terhadap Dewa Kie Ong Ya yang memberi petunjuk untuk menemukan daratan Bagansiapiapi. Beberapa kapal berangkat dari Tiongkok, tapi hanya kapal pembawa Dewa Kie Ong Ya yang selamat dari badai.

67 views
0

WartaWisata.ID – Bakar Tongkang yang kini dikemas oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Rokan Hilir sesungguhnya adalah perayaan Go Gek Cap Lak. Ritual Bakar Tongkang rutin digelar setiap hari ke-16, bulan ke-5 kalender Tiongkok, oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Bagansiapiapi.Selama perayaan ini, ribuan perantau keturunan Tionghoa asal Bagansiapiapi akan pulang kampung. Mirip mudik Lebaran. Mereka pulang untuk berdoa dan mengharapkan peruntungannya tahun ini lancar, dan segala yang diinginkan tercapai.

Ritual Bakar Tongkang sendiri telah berusia 135 tahun, loh! Ritual ini diadakan untuk mengenang para leluhur Tionghoa Bagansiapiapi dan sebagai wujud syukur terhadap Dewa  Kie Ong Ya. Dewa Kie Ong Ya dipercayai sebagai Dewa yang memberi petunjuk kepada leluhur warga Tionghoa, sehingga bisa menemukan daratan yang sekarang bernama Bagansiapiapi. Alkisah, dari beberapa kapal yang berangkat dari Tiongkok ikut dalam ekpedisi mencari kehidupan yang baru, hanya kapal yang membawa Dewa Kie Ong Ya lah selamat dari badai.

Ritual Bakar Tongkang selalu dimulai dari Kelenteng In Hok Kiong. Di sini replika kapal tongkang disimpan setelah selesai dibuat. Para perantau yang pulang ke kota ini, pasti akan melakukan sembahyang di sini sebelum mengikuti ritual bakar tongkang. Ritual bakar tongkang juga diikuti oleh perwakilan dari setiap kelenteng yang ada di Bagan (sebutan singkat untuk kota Bagansiapiapi).

Perwakilan dari setiap kelenteng yang biasa disebut Loya ini terdiri dari perempuan dan laki-laki yang berjumlah ratusan orang. Mereka juga membawa peralatan ritualnya masing-masing. Setiap rombongan Loya ini mengenakan seragamnya masing-masing dan membawa tetabuhan.

Dari kelenteng In Hok Kiong, replika kapal tongkang diarak menuju tempat pembakaran. Sepanjang jalan menuju tempat pembakaran, setiap peserta ritual membawa tiga batang lidi hio yang telah dinyalakan. Di sepanjang jalan ini umumnya banyak warga keturunan tionghoa yang memberikan minuman gratis kepada peserta ritual ataupun wisatawan yang kebetulan mengikuti arakan ini.

Sesampai di tempat pembakaran, replika kapal diletakkan di atas tumpukan Kim Chua (Kertas Sembahyang) lalu mulai dibakar. Pada saat kapal terbakar, doa-doa dan permintaan untuk tahun ini dipanjatkan. Selesai berdoa, tiga batang lidi hio yang digunakan untuk berdoa dilemparkan ke dalam api.

Sebenarnya, pada prosesi ini yang paling ditunggu adalah tumbangnya tiang layar utama replika tongkang. Arah tumbangnya tiang layar akan menjadi petunjuk datangnya rejeki. Dan pada Festival Bakar Tonglang tahun ini, tiang layang kapal tongkang jatuh ke arah laut, yang bermakna sebagian besar rejeki akan datang dari laut.

Komentar kamu?