Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 17)

“Aku hanya mempraktekkan apa yang pernah aku baca, bahwa alam ini adalah bagian dari diri kita juga. Dan kita bisa berkomunikasi melalui media Alam. Keyakinanku terhadap alam akan menolong kita, aku sampaikan melalui air”

103 views
0

PATRION – Ini mungkin akhir dari perjalanan kita bertiga, bagaimana mungkin menghindari tsunami yang sebentar lagi mendatangi kita. Meski kita berada diatas bukit, kita tahu bukit ini akan mudah hancur dengan terpaan tsunami yang terlihat semakin membesar itu. Walaupun kita berada di dalam mobil, tetap saja tidak bisa pergi kemanapun karena sekitar kita sudah menjadi jurang akibat gempa. Pasrah adalah pilihan satu-satunya dalam kondisi ini. Wajah Arum dan Lastri tertegun, kita saling memandang satu sama lainnya. Melihat pasrah kepada Alam.

Saat itu hujan rintik datang tiba-tiba. Arum mencoba menengadahkan kedua tangannya dan menampung air hujan ditelapak tangannya, lalu berujcap “Alam Raya dan seisinya, serta air hujan yang datang memberikan kehidupan. Hentikan Air Tsunami didepan mata kita, dan berilah ekdamaian tehadap air. Jauhkan dari bencana yang akan melanda manusia”. Aku mendengarnya senyap-senyap suara Arum itu, tapi tak lama saat tsunami mendekat, hujan yang sangat deras turun tiba-tiba. Ketinggian air tsunami berkurang, seolah tsunami menunduk oleh hujan. Hingga pada akirnya, air tsunami menjadi berjalan pelan dan tenang melandai persis di didepan kita. Perlahan air surut dan bukit yang kita pijak ikut terkikis. Kita pun bertahan agar tidak terjatuh dari terjangan reruntuhan bukit.


Lautan kini menjadi tenang. Namun kita sudah tidak bisa menggunakan kendaraan lagi yang sebagian bodynya sudah tertanam di tanah akibat longsoran bukit yang terkikis. Aku bersyukur tsunami besar itu bisa mereda dan tidak menjadi bencana besar ke tanah daratan yang banyak penduduk. Lastri yang terheran-heran, menanyakan apa yang Arum lakukan tadi seperti yang pernah di ceritakan kakeknya ketika dia kecil. Lastri berpikiran itu hanya mitos dan hanya dimiliki oleh orang-orang hebat jaman dulu. Arum tersenyum “Aku hanya mempraktekkan apa yang pernah aku baca, bahwa alam ini adalah bagian dari diri kita juga. Dan kita bisa berkomunikasi melalui media Alam. Keyakinanku terhadap alam akan menolong kita, aku sampaikan melalui air”. Tetap saja hal itu masih terdengar aneh bagiku, karena tak sembarang orang bisa melakukan itu, terlebih dengan tsunami yang begitu besar.

Lastri kemudian melihat langit, membaca bintang yang pernah dipelajarinya sedari kecil. Menurutnya, Bintang memberi petunjuk alam bahwa ini adalah peringatan. Namun ada yang dilihat aneh oleh Lastri, ada bintang yang bersembunyi ingin memberitahu kita sesuatu. Tanpa diduga kulit peta yang aku pegang menjadi terang kebiruan dan batu yang dipegang arum menyala redup dengan tempo yang sama seperti kedip bintang yang tersembunyi dilangit. Peta itu kembali memberi petunjuk agar kita menuju ke sebuah tempat.

Kita berjalan mengikuti peta yang berkedip-kedip, melewati pesisir pantai sundak yang terdapat karang karang besar. Didepan kita tepatnya dua ratus meter dari garis pantai, ada sebuah karang besar di pinggrian laut. Namun untuk kita bisa kesana, kita harus berenang. Tanpa ikir panjang, Arum langsung berenang kesana dan sampai. Tinggalah aku dan Lastri yang akan menyebrang. Tapi yang jadi masalah adalah aku tak bisa berenang. Lastri pun keliatan ragu untuk berenang. Lastri tiba tiba menarik tanganku, mengajakku mengambil jalan memutar dengan melompati satu karang ke karang lainnya hingga mencapai karang dimana sudah ada Arum disana.

Puff… lelah sekali, dan nyaris saja aku terhempas ke karang saat melompati karang yang terjal. Tapi setidaknya aku bisa sampai di karang besar. Arum hanya menggeleng sambil tersenyum kepadaku. Hahaha.. kini dia tahu kelemahanku. Tak berapa lama, aku melihat Lastri seperti mengorek-ngorek karang yang terbungkus lumut dengan sepatunya. Saat lumut itu tersingkap, tampak samar muncul seperti anak tangga menuju kebawah. Arum kaget “ini anak tangga menuju kesebuah tempat, kita harus mengikutinya”. Aku tertegun saat melihat arah anak tangga turun itu menuju ke dalam air.

Bersambung ke Part 1 – 18

Komentar kamu?