Tarian Selamat Datang, Ungkapan Ramah dari Suku Papua

Hasil getaran dari membran itu diolah dan diperkuat dalam rongga sebatang kayu menjadi tifa, alat musik pukul khas dari tanah Papua, 'Bumi Cenderawasih'.

857 views
0

WartaWisata.id – Membran berbahan kulit rusa menghasilkan bunyian yang khas. Hasil getaran dari membran itu diolah dan diperkuat dalam rongga sebatang kayu menjadi tifa, alat musik pukul khas dari tanah Papua, ‘Bumi Cenderawasih’. Bunyian tifa yang rancak menghentak, mengiringi setiap gerak tarian Selamat Datang khas Papua.

Gerakan tarian itu terhitung tidak terlalu rumit, bahkan mudah diikuti. Lutut kaki diangkat sampai setinggi pinggang, bergantian antara kaki kanan dan kiri. Tangan berayun sesuai dengan kaki yang terangkat. Tubuh meliuk, merendah, dan merunduk mengikuti irama musik yang energik. Alunan nada dan gerak tarian tersebut mampu membimbing dan membawa para tamu untuk larut dalam suasana sukacita.

Penarinya memakai kostum dari kulit pohon dan akar tumbuhan. Bahan alami itu diolah sedemikian rupa hingga bisa menutup tubuh. Penutup kepala, kalung, dan gelang, serta lukisan etnik mewarnai tubuh mereka. Tarian Selamat Datang adalah kearifan dan budaya luhur masyarakat Papua. Bagi masyarakat Papua, tarian ini dimaknai sebagai bentuk ungkapan rasa hormat dan juga tanda, bahwa tamu tersebut diterima dengan sangat baik dan ungkapan rasa syukur serta kebahagiaan masyarakat Papua dalam menyambut para tamu.

Tari Selamat Datang atau Tari Penyambutan Tamu dibawakan oleh penari pria dan wanita, untuk menyambut tamu kehormatan atau orang penting. Setiap daerah memiliki variasi tarian dan penyebutan sendiri untuk tarian ini. Dari pesisir Papua Barat di Raja Ampat dan Sorong, hingga Suku Dani di Dataran Tinggi Wamena. Di kalangan Suku Malamoi, Sorong, Papua Barat, tarian itu dinamakan Nanini yang artinya ‘Kemari, Kemari Bersama’.

Tarian Selamat Datang dibawakan dengan keceriaan pada tiap goyangan tubuh, nyanyian, dan musiknya. Tidak ada satu pun penari yang memperlihatkan muka muram. Mereka bergerak dan menunjukkan ekspresi kegembiraan. Itu bentuk penghormatan kepada siapapun yang dianggap sebagai teman atau saudara oleh suku-suku di Papua. Layaknya sapaan untuk mempersilakan tamu memasuki rumah, tarian ini pun dilakukan sebagai bentuk keramahan suku-suku di Papua sebagai tuan rumah.

Tarian Selamat Datang dilakukan secara beramai-ramai. Umumnya yang melakukannya adalah kaum wanita. Mereka membentuk sebuah lingkaran dan dimulai dengan nyanyian bersahutan. Penari wanita menjemput para tamu kehormatan, lalu memakaikan sebuah kalung dan penutup kepala untuk bentuk penghormatan terhadap mereka.

Tamu akan diajak menari bersama sampai selesai. Ini merupakan simbol bahwa tamu telah diterima dengan sangat baik oleh masyarakat Papua dan menjadi bagian dari mereka. Para pria biasanya baru akan bergabung di dalam tarian ketika tarian sudah setengah perjalanan. Mereka ikut berputar dengan sesekali mengangkat tombak, panah, dan senjata-senjata lain kebanggaan mereka tanpa sedikitpun bermaksud melukai.

Semakin lama menari, semakin besar lingkaran yang mereka buat, semakin bersemangat pula nyanyian yang mereka bawakan. Yel-yel penuh semangat akan terdengar begitu melengking, menambah keyakinan dan energi para penari lain untuk bergerak dengan lebih bersemangat. Nyanyian yang dibawakan dalam tarian Selamat Datang umumnya adalah ungkapan syukur dan cerita tentang segala sesuatu yang positif mengenai kehidupan.

Mereka percaya bahwa lirik-lirik positif ini akan membuat tamu merasa nyaman saat berkunjung, dan sebaliknya akan memberikan nilai positif lagi kepada tuan rumah yang sudah menyambut dengan baik.

Komentar kamu?