Menelusuri Keindahan Benteng Penjajahan Eropa di Ternate

Sejak abad ke-12, Ternate menjadi salah satu kawasan perdagangan penting di Asia Tenggara. Kala itu, Kesultanan Ternate tercatat sebagai kerajaan terbesar dan terluas daerah kekuasaannya di Timur Indonesia.

275 views
0

WartaWisata.id – Di balik tenangnya Ternate, Maluku Utara, pulau ini sejatinya telah menjadi bahan perbincangan hingga benua Eropa berabad silam karena cengkeh dan pala. Nilai sejarah ini menjadi salah satu kekayaan Ternate yang melengkapi daya tarik pariwisata alamnya.

Sejak abad ke-12, Ternate menjadi salah satu kawasan perdagangan penting di Asia Tenggara. Kala itu, Kesultanan Ternate tercatat sebagai kerajaan terbesar dan terluas daerah kekuasaannya di Timur Indonesia. Mulai dai Buru, Seram, Pulau Ambon hingga Mindanao, Bima, Makassar dan Banda berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate.

Cengkeh dan Pala tak hanya membuat Kesultanan Ternate besar dan berpengaruh di Indonesia timur, tapi juga mengundang bangsa asing untuk masuk dan berusaha menguasai Ternate. Bayangkan saja pada abad 15, harga cengkeh dan pala bisa seharga emas. Luar biasa!

Portugis adalah bangsa barat  pertama yang menginjakkan kaki di Ternate pada 1512, setahun setelah mereka menguasai Malaka di Semenanjung Malaya. Setelah itu, Spanyol menyusul dan menapakkan jejaknya di Tidore yang dapat dicapai 20 menit dengan perahu dari Ternate. Di kemudian hari, Inggris dan Belanda menancapkan kaki di kepulauan rempah.

Cengkeh dan pala menjadi alasan bangsa barat membangun benteng pertahanan di Ternate. Benteng itu menjadi saksi bisu, betapa cengkeh menjadi komoditas berharga yang dipertahankan dengan segala cara, mengangkat senjata, bahkan perang saudara.

Toluko menjadi benteng pertama yang selalu di kunjungi para wisatawan di Ternate. Benteng ini  merupakan benteng yang dibangun oleh Gubernur Jendral Belanda, Pieter Both, pada 1610.  Ketika kalian menyusuri lorong pertamanya, akan langsung menjumpai laut lepas. Berada di puncak bukit yang cukup tinggi, benteng ini menjadi tempat sempurna untuk mengawasi segala gerak-gerik yang terjadi di Istana Kesultanan Ternate.

Setelah Kalian berpindah dari Benteng Toluko, kalian akan menemukan benteng selanjutnya, Benteng Kalamata. Benteng kedua terlihat lebih besar dan lebih spesial. Kenapa? Karena dari sini kita tak hanya bisa menikmati megahnya Gunung Gamalama, tetapi juga keindahan Pulau Tidore dan Maitara dari kejauhan.  Benteng Kalamata dibangun oleh Portugis pada 1540 sebagai benteng pertahanan untuk memperluas daerah kekuasaan di Ternate dan menahan serangan Spanyol yang kala itu menguasai wilayah Tidore

Ciri bangunan portugis tampak kental sekali melekat pada arsitektur cantik benteng ini. Benteng ini memiliki banyak sisi lancip. Ketebalan dinding benteng pun tergolong tidak setebal seperti benteng buatan Belanda. Masyarakat Ternate sebagian beranggapan bahwa benteng ini jika dilihat dari atas mirip dengan bentuk kemaluan wanita. Ternyata benteng ini bisa jadi beragam bentuk. Bisa saja seperti anak panah, beberapa sudut membuatnya seperti bunga, bahkan burung merpati yang sedang terbang.

Dua benteng ini hanya dua dari lusinan kekayaan sejarah yang dimiliki oleh Ternate. Sebuah bukti bahwa Ternate pernah menjadi rebutan bangsa Eropa di masa silam sekaligus penanda zaman, bahwa kini Ternate menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi di bagian timur Indonesia.

Komentar kamu?