Bakar Batu, Tradisi Pengikat Kebersamaan Bumi Papua

Makanan yang dibakar di atas bebatuan itu lalu ditutup lagi dengan daun pisang dan batu panas hingga matang. Umumnya, daging matang dalam waktu empat jam. Selama itu, warga dengan sabar menanti sambil menyanyikan lagu dan yel-yel bersama-sama. Meski tak menggunakan api dan dimasak di atas wajan atau panci seperti pada umumnya, ternyata daging yang ditumpuk di atas batu bisa matang sempurna. Dan terasa lezat!

3,587 views
0

Wartawisata.ID – Masyarakat Papua memiliki tradisi dan identitas sangat unik, Salah satu tradisi Papua yang paling dikenal dan masih terjaga hingga kini adalah tradisi bakar batu.

Tradisi bakar batu sendiri merupakan ritual memasak bersama yang bertujuan untuk memanjatkan rasa syukur, bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat, menyambut kabar bahagia, atau mengumpulkan prajurit untuk berperang. Saat menjalani tradisi yang diwariskan secara turun temurun ini, seluruh warga desa ikut berkumpul dan duduk melingkar sambil memasak bersama dengan akrab.

Lezat, Matang Sempurna
Tradisi Bakar Batu umumnya dilakukan oleh suku pedalaman atau pegunungan, seperti di Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Dekai, dan Yahukimo.

Tradisi ini sejatinya memilliki nama yang berbeda-beda di berbagai daerah yang melangsungkannya. Misalnya di Paniai, ritual itu dinamakan Gapila, di Wamena dinamakan Kit Oba Isogoa, sementara di Jayawijaya dikenal dengan nama Barapen.

Sebetulnya tradisi ini tak begitu sering dilakukan warga. Sebab harga daging sangatlah tinggi. Harga satu ekor babi bahkan bisa mencapai 30 juta rupiah. Karena itu, warga biasanya mengumpulkan dana bersama dengan desa-desa lain agar bisa patungan membeli daging. Nantinya, daging itu dibagi-bagi secara adil. Biasanya di masing-masing desa terdapat koordinator yang mengurusi pembagian daging tersebut agar tak terjadi kecurangan dan ketidakadilan.

Saat memasak, warga desa benar-benar membakar batu-batuan keras yang didapat dari sungai atau kali di sekitar mereka hingga panas membara. Biasanya dibutuhkan waktu hingga dua jam agar batu bisa digunakan untuk memasak. Saat proses pemanasan batu ini berlangsung, kepulan asap membumbung tinggi dengan pekatnya.

Setelahnya, batu panas itu diletakkan di sebuah lubang dan ditutupi daun pisang yang di atasnya ditaruh berbagai bahan masakan. Yang paling umum, biasanya berupa daging babi yang sudah dibumbui. Tapi tak ada aturan khusus, kalau kita ingin membakar ayam, sapi, hingga ubi di atasnya pun tak jadi soal.

Makanan yang dibakar di atas bebatuan itu lalu ditutup lagi dengan daun pisang dan batu panas hingga matang. Umumnya, daging matang dalam waktu empat jam. Selama itu, warga dengan sabar menanti sambil menyanyikan lagu dan yel-yel bersama-sama. Meski tak menggunakan api dan dimasak di atas wajan atau panci seperti pada umumnya, ternyata daging yang ditumpuk di atas batu bisa matang sempurna. Dan terasa lezat!

Komentar kamu?