Malam Sangang Pepe di Perkampungan Suku Bajau Torosiaje

Di desa yang berada di atas permukaan air laut ini kaum mudanya menyemarakkan Sangang Pepe, lampu diatur sedemikian rupa sehingga nyalanya bias dinikmati oleh semua orang yang berlalu lalang di atas kampong atau sedang berjalan dengan sampannya.

422 views

Wartawisata.id – Menjelang malam sejumlah anak-anak dan remaja Suku Bajau di Desa Torosiaje Laut sudah sibuk dengan tumpukan lampu botol berbahan bakar minyak tanah.

Jumat malam mereka menyalakan lampu-lampu ini, ini adalah tradisi Sangang Pepe, menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan menyalakan lampu di depan rumah mereka yang jauh di tengah laut.

Di desa yang berada di atas permukaan air laut ini kaum mudanya menyemarakkan Sangang Pepe, lampu diatur sedemikian rupa sehingga nyalanya bias dinikmati oleh semua orang yang berlalu lalang di atas kampong atau sedang berjalan dengan sampannya.

“Sangang pepe  atau malam pasang lampu di Desa Torosiaje Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo adalah tradisi menyambut Idulfitri 1440H,” kata Rena Pasandre, tokoh muda Suku Bajau Torosiaje, abut (1/6).

Namun Jumat malam angina bertiup cukup kencang, sebagian nyala lampu padam. Beberapa kali remaja Suku Bajau menyalakn kembali lampu yang padam, namun setelah angin bertiup, lampu tersebut mati lampu.

Dalam keheningan malam di akhir Ramadan di tengah laut, semua akan merasakan syahdunya malam sangang pepe, malam penuh berkah. Semua keluarga Suku Bajau bersiap menyambut kedatangan Idulfitri.

“Masih ada beberapa malam untuk memasang lampu, semoga malam kedua dan ketiga cuaca akan terus bersahabat,” pinta Rena Pasandre.

Kamu muda Suku Bajau di Torosiaje yang tergabung dalam Komunitas Baka Mamase dan Karang Taruna Pasitummuang menjadi penggerak tradisi unik ini.

Untuk datang ke perkampungan Suku Bajau ini, wisatawan harus naik perahu dari daratan. Perkampungan suku laut ini berada di atas air. Semua rumah adalah rumah panggung yang memiliki tiang-tiang menancap di kedalaman air laut.

Antara rumah dengan rumah lainnya sudah saling hubung dengan jalan yang terbuat dari kayu juga dengan tiang-tiang menancap dalam laut.

Keunikannya lagi, warga Suku Bajau Torosiaje ini hanya menggunakan perahu dalam kegiatan mobilitasnya, tidak ada kendaraan roda 4 atau motor di atas kampong unik ini.

Komentar kamu?