Mengenal Pulau Sabu, Pesona dan Keeksotisan yang Luar Biasa

Pulau Sabu mungkin masih kalah populer dibandingkan destinasi lain di Nusa Tenggara Timur, seperti Taman Nasional Komodo atau Pulau Sumba. Meski demikian, pulau ini memiliki daya tarik wisata alam yang membuatnya layak masuk dalam bucketlist kamu.

121 views

WartaWisata.ID – Pulau Sabu di Kabupaten Sabu Raijua adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sabu Raijua diresmikan menjadi Kabupaten otonom pada tahun 2009.

Pulau Sabu mungkin masih kalah populer dibandingkan destinasi lain di Nusa Tenggara Timur, seperti Taman Nasional Komodo atau Pulau Sumba. Meski demikian, pulau ini memiliki daya tarik wisata alam yang membuatnya layak masuk dalam bucketlist kamu.

Sabu dikenal juga dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk setempat menyebutnya Rai Hawu, yang berarti ‘Tanah Hawu’ atau tanah orang Sabu. Pulau ini juga merupakan yang terbesar di Kabupaten Sabu Raijua, disusul Raijua dan Dana. Menurut cerita penduduk setempat, nenek moyang orang Sabu berasal dari Gujarat, India. Warga setempat menyebutnya Hura.

Pulau Sabu juga mendapat pengaruh Kerajaan Majapahit, yang menguasai Nusantara sekitar Abad 14 dan 15. Jejak Majapahit terlihat lewat keberadaan sebuah desa bernama Tana Jawa dan Molie, diambil dari bahasa Jawa ‘mulih’ (pulang). Motif tenun lokal pun ada yang bergambar menyerupai Pura, memberi kesan pengaruh Hindu.

Hal menarik lainnya terkait penemu benua Australia, Kapten James Cook. Sosok penting tersebut ternyata pernah singgah di Sabu pada tahun 1770. Saat itu Kapal HM Bark Endeavour terdampar di Sabu karena kehabisan perbekalan. Kapten James Cook lantas mendapatkan bantuan logistik dari penguasa pulau kala itu dan akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke Batavia.

Ternyata Sabu Raijua memiliki satu desa bernama Desa Menia yang berada di kecamatan Sabu Barat. Desa Menia memiliki begitu banyak potensi, baik sumber daya alam, wisata, dan budaya. Garam, rumput laut, gula semut merupakan komoditas utama dari Desa Menia. Sementara di potensi wisata ada Kelabba Madja yang memiliki pesona keindahan dan keeksotisan yang luar biasa. Namun, tiap potensi yang dimiliki masih belum terjamah publik.

Periode terbaik berkunjung ke Pulau Sabu adalah Maret sampai November. Hampir sama dengan pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur lainnya, Sabu identik dengan iklim panas, musim kemarau panjang, serta curah hujan rendah.

Dalam setahun, musim hujan di Sabu hanya berlangsung antara 15 sampai 70 hari. Tak heran bila sejauh mata memandang hanya tampak bukit-bukit kapur kering di pulau ini.

Selain identik dengan panas dan kering, Sabu yang letaknya berdekatan dengan benua Australia juga dipengaruhi oleh musim ‘angin barat’. Pada periode ini angin bertiup kencang dan ombak laut tinggi, sehingga mengganggu aktivitas nelayan dan penyeberangan.

Komentar kamu?