Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, 136 hari Menggali Potensi Bahari Nusantara

"Ini perjalanan bersejarah dan pertama di Indonesia. "Kapal pinisi sekali lagi membuktikan ketangguhannya dalam mengarungi lautan Indonesia, dalam waktu 136 hari kapal berlayar sejauh 3400 mil laut"

442 views
0

WartaWisata.ID – Program Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa yang digagas oleh Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dan Yayasan Makassar Skalia (YMS) telah menyelesaikan trip timur. Pelayaran trip timur menempuh perjalanan 136 hari sejauh 3400 mil laut dan memyinggahi 51 titik singgah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Ketua umum ISKINDO, Muh Zulficar Mochtar mengatakan bahwa “Ini perjalanan bersejarah dan pertama di Indonesia. “Kapal pinisi sekali lagi membuktikan ketangguhannya dalam mengarungi lautan Indonesia, dalam waktu 136 hari kapal berlayar sejauh 3400 mil laut” kata Zulficar. Bukan cuma itu, program ini juga berhasil menyelenggarakan joy sailing dan kelas inspirasi di di 45 titik singgah dengan melibatkan 1.150 orang peserta.

Zulificar melanjutkan bahwa untuk mengggali data dan informasi serta isu pembangunan, rangkaian ekspedisi dilakukan kegiatan fokus grup diskusi di 8 kota terpilih. “Ada 8 tema besar pembangunan maritim yang kami diskusikan secara pararel dengan stakeholder lokal antara lain terkait budaya bahari, pulau-pulau kecil, konservasi laut, sampah plastik dan tata kelola kelautan” kata Zulficar. Rekomendasi FGD tersebut akan diserahkan sampaikan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti. ” FGD tersebut melibatkan 400 orang peserta yang terdri dari pakar, dosen, akademisi, lsm, pengusaha dan pemerhati pembangunan yang concern pada isu maritim” kata Zulficar.

Berdasarkan hasil ekspedisi pinisi trip timur, Indonesia belum sepenuhnya menggali dan memanfaatkan potensi kelautan sebagai kekuatan pembangunan. “Masih ada gap ketersediaan infrastruktur maritim di Indonesia Timur yang mesti perlu digenjot” kata Zulficar. Pemerintah daerah juga perlu berani mengambil peran dalam penyelesaian masalah pembangunan kelautan seperti soal konservasi laut dan sampah plastik dilaut.

Sememtara itu, Koordinator Ekspedisi Pinisi Bakti Moh Abdi Suhufan mengatakan bahwa pemerintahan baru nanti perlu tetap menjadikan sektor maritim sebagai prioritas pembangunan dgn pendekatan kewilayahan. “Pulau-Pulau kecil mesti dibangun dengan sistim cluster untuk lebih mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah yang berbasis kepulauan” kata Abdi. Biaya transportasi yang mahal, ketersediaan bbm, sarana telekomunikasi masih menjadi isu pembangunan di pulau kecil.

Sementara itu Maluku, Sulawesi Temgah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Papua Barat memiliki banyak pulau kecil yang berpotensi dikelola sebagai alternatif pendapatan bagi negara. “Kami berharap pemerintah baru nanti memberi fokus dan perhatian yang lebih besar pada pembangunan wilayah pesisir dan kepulauan di Indinesia timur” tutup Abdi.

Komentar kamu?