Pegunungan Cartenz, Keindahan Gunung Salju di Papua

342 views
0

WartaWisata.ID Gunung Cartenz adalah sebuah gunung yang terletak di Papua. Gunung ini memiliki tinggi setinggi 4.884 meter di atas permukaan laut yang diselimuti salju abadi. Puncak gunung ini disebut “Piramida Cartenz”, dan juga Puncak Jaya, yang merupakan dataran tertinggi di Indonesia. Gunung ini adalah salah satu dari tujuh gunung yang dikenal sebagai Tujuh Puncak Dunia.

Pada mulanya, gunung ini bernama Cartenz Pyramid. Penamaan tersebut dimaksudkan untuk menghormati orang yang pertama kali menemukannya, seorang petualang berkebangasaan Belanda, yakni Jan Cartenz, pada tahun 1623. Kala itu, ia dianggap pembohong karena mengaku pernah melihat sebuah gunung tertutup salju di kawasan tropis, Indonesia.

Setelahnya, pada masa pembebasan tanah Irian dari penjajahan, namanya diubah menjadi Puncak Soekarno. Hal ini ditujukan untuk menghormati presiden pertama di Indonesia.

Kemudian, dengan campur tangan politik, pada tahun 1960an, pada masa pergantian orde lama kepada orde baru, namanya diubah kembali menjadi gunung Jayawijaya. Nama tersebut adalah nama yang dipakai hingga saat ini.

Bagi para pendaki di seluruh dunia, merupakan sebuah harapan, doa dan impian untuk dapat menapakan kaki di puncak Cartenz. Pasalnya, pendakian di gunung Jayawijaya termasuk aktifitas ekstrim, mengingat jalur di gunung satu ini sangat terjal dan cuaca di sana tidak menentu, terkadang melampaui kemampuan tubuh manusia.

Oleh karenanya, kemampuan fisik dan mental saja tidak cukup untuk menggeluti jalur pendakian gunung Jayawijaya. Dibutuhkan juga kemampuan bertahan hidup, navigasi yang matang dan jumlah uang yang tidak sedikit, untuk menyewa guide, biaya transpotasi atau mempersiapkan berbagai peralatan pendakian yang dikenal sangat mahal-mahal.

Salah satu keunikan di tanah tertinggi bumi pertiwi ini adalah ditemukannya benda-benda laut, semisal kerang. Hal ini disebabkan bahwa dahulu, puncak gunung Jayawijaya merupakan dasar laut. Kemudian, bersamaan dengan berpisahnya tanah Papua dan Australia, tanah tersebut naik ke atas, terdorong oleh gesekan lempengan bumi. Tentu saja, peristiwa alam seperti ini membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan ratusan tahun.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Håkon Åsvang (@hakonasvang) on

Komentar kamu?