Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 16)

"Bagiku untung saja suara hatiku tak terdengar, aku menyadari diriku sering cepat beralih terhadap kedua bidadari yang ada dihadapanku saat ini"

123 views
0

PATRION – Selepas kita menghabiskan kopi jos pinggir jalan, Arum memberitahu kita, kalau sejak tadi kita menjadi perhatian orang, kita seperti sebuah pertunjukan berjalan. Mungkin saja karena dua wanita cantik beraroma wangi yang menemani pangeran sepertiku, khayalku. Hahaha… namun bukan itu ternyata, batu tersebut kalau dipegang Arum, kulit Arum seperti bersinar. Seperti ada cahaya keluar dari dalam pori pori kulit tubuh Arum. Namun bila memgang batu itu ddengan media lainnya, atau hanya dilelakkan di dalam tas, tidak tersentuh sama sekali oleh kulit, maka tidak akan terjadi apa-apa. Arum baru menyadari keunikan batu tersebut ketika dia berkaca pada sebuah gerobak tukang cermin yang sedang lewat di depan kita. Arum kini memegang batu tersebut dengan sebuah kain selendangnya dan sinar tersebut tidak muncul lagi dalam tubuhnya.

Arum memberitahu kita untuk berhati hati, Karena kaki tangan Ommenia bisa jadi ada disekitar kita, dimanapuin itu berada bila ada yang mengetahui batu ini maka keberadaan kita semua akan terancam. Benar saja, tak berapa lam sebuah kendaraan Humvee mendekat ke kita, dari dalamnya keluar tiga orang berpakaian jas ala keratin dan segera berlari kearah kita. Salah seorang sudah mendekat ke arum dan berusaha merampas tas arum yang berisi batu aneh tersbut. Spontan saja diriku langsung melawan orang tersbeut mencegahnya agar batu itu tidak pindah tangan. Untung saja bekal beladirirku sewaktu kecil masih lengket, telrebih aku adalah juara silat ketika aku SMA. Aku pikir sangat sulit melawan mereka, tapi mereka satu persatu sampai tiga orang aku lawan bersamaan dan aku dapat tebak jurus mereka, hingga ketiganya tersungkur. Kesempatan tersbeut kita gunakan untuk kabur menaiki sebuah mobil yang ternyata Lastri sudah ada didalamnya.

Aku Arum dan Lastri dalam mobil dengan kecepatan kencang, entah kita berada dijalan mana sekarang. Dalam ketegangan yang ada, aku heran darimana Lastri mendapat mobil ini. Ternyata Lastri menceritakan kalau dia tadi sempat bertemu dengan teman bengkelnya yang sedang menguji mobilnya yang diservis. Spontan aku dan Arum tertawa lepas dan sebuah kebetulan yang seperti direncanakan. Tapi tidak lekas selesai saja masalah kita. Apa yang harus kita lakukan berikutnya itulah yang paling penting. Arum memintaku mengeluarakan lukisan kulit, dia lalu kemudian memegang batu aneh dengan selendangnya. Saat lukisan kuit itu didekatkan dengan batu aneh, sekejap sebuah peta perlahan muncul dari dalam gambar kulit itu dan ada sebuah titik caha kedip di dalam peta. Lastri yang melihatnya segera memacu kendaran dengan kencang. “Aku tahu dimana itu, Itu adalah pantai Sundak di salah satu pantai selatan”, Aku dan Arum hanya saling memandang aneh. Kita berdua seperti melihat ada perubahan dalam diri lastri, yang sebelumnya kita tahu sangat lembut tapi saat terlihat gahar saat dia mengendari kendaraan Jeep CJ7 Hartop lawas.

Hari sudah menjelang malam ketika kita menuju pantai Sundak. Jalur tersebut melewati gunung kidul dengan perbukitan luas, beraspal bagus, berliku namun sepi nan senyap, hanya ada satu dua kenadaraan yang sesekali lewat. Di dalam perjalanan Lastri bercerita kalau dia sangat menyukai kendaraan jeep CJ 7 ini karena pamannya. Kadang dia juga menjadi seorang navigator dalam relly yang sering diikuti oleh pamannya. Aku dan Arum makin kagum dengan Lastri, arum yang melihat aku terbengong melihat lastri, spontan mencolek bibirku dan membuatku tersadar. Bagiku untung saja suara hatiku tak terdengar, aku menyadari diriku sering cepat beralih terhadap kedua bidadari yang ada dihadapanku saat ini.

Sebelum terlalu jauh aku berandai, tiba-tiba terjadi sebuah goncangan hebat dijalanan. Gempa besar!. Mobil hartop terombang ambing diatas tanah yang bergetar seolah kita berselancar hebat. Kendali moil yang dipegang Lastri sunggunh bukan pengendara amatiran, keahliannya mampu menghindari beberapa kali kendaaran akan terperosok ke dalam lembar. Anehnya dlam kejadian tersbeut batu tersebut seolah mengambang diudara, dengan jangkauan yang masih dikita, batu itu seperti memberi perlindungan dalam kendaraan kita dari luar yang seharusnya hancur bila menabrak bebatuan tapi tidak.
Saat gempa yang terjadi sekitar tujuh menit itu berhenti, kendaran kita sudah berada di atas sebuah bukit. Sinar rembulan malam itu cukup terang hingga bisa menyinari lautan meski seperti redup. Pandangan mata kita bertiga melihat ke arah tengah laut pantai, bahwa ada sebuah tsunami besar sedang berjalan ke arah kita. Meski ita berada diatas bukit yang paling tertinggi belum tentu juga kita akan selamat dari terjangan tsunami yang akan menerjang kita. Arum memperhatikan dengan tenangnya dan dia hanya bilang ‘itu bukan tsunami biasa, dibalik tsunami itu ada sebuah jalan untuk kita menuju ke sebuah lokasi yang tertera di peta lukisan kulit itu. Aku dan Lastri saling terdiam heran. Berharap cemas apakah benar yang dikatakan arum, bila benar, bagaimana caranya kita menerjang tsunami agar bisa menuju ke sebuah tempat yang ada dalam peta tersebut?

Komentar kamu?