Situ Lengkong, Wisata dengan Mitos dari Air Zam-Zam

226 views
0

WartaWisata.ID Situ Lengkong, juga disebut Situ Lengkong Panjalu, adalah suatu danau (situ dalam bahasa Sunda) yang terletak di Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Situ Lengkong ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 pada tanggal 21 Februari 1919. Situ Lengkong Panjalu adalah nama danau sekaligus destinasi wisata terkenal di Ciamis yang letaknya berada di perbatasan kabupaten Majalengka dan juga Kuningan. Danau seluas 9,25 hektar ini memiliki sebuah pulau kecil di tengahnya yang dinamakan Nusa Larang. Tempatnya cukup asyik untuk rekreasi dengan dikelilingi perbukitan hijau.

Untuk mencapai obyek Situ Lengkong cukup mudah. Dari arah Bandung dapat ditempuh melalui jalur Ciawi, Panumbangan, Panjalu, dengan jarak sekitar 100 Km. Sedangkan dari Ciamis, berjarak sekitar 35 km melalui jalur Buniseuri, Kawali dan sampai di Panjalu.

Yang paling menarik adalah mitos terbentuknya danau itu sendiri.

Alkisah, kawasan kecamatan Panjalu yang menjadi lokasi keberadaan Situ Lengkong pernah dikuasai oleh kerajaan Hindu dimana sang raja memiliki putera mahkota bernama Borosngora. Sang raja menginginkan puteranya memiliki ilmu yang paling sempurna sehingga dimintalah sang anak untuk mengembara. Pengembaraan Borosngora membawanya hingga ke tanah Arab. Selama puluhan tahun ia belajar agama Islam di Mekkah.

Setelah ilmu yang dipelajari dirasa cukup, Borosngora kembali ke kerajaan Panjalu. Ia pulang dengan membawa air zam-zam yang kemudian ia tumpahkan di lembah bernama Pasir Jambu. Secara ajaib air tersebut bukannya meresap dan kering malah bertambah banyak hingga menjadi sebuah danau yang kini dikenal dengan Situ Lengkong. Itulah mitos yang melatar belakangi terbentuknya Situ Lengkong Panjalu.

Kini Situ Lengkong menjadi destinasi wisata dimana traveler bisa menikmati keindahannya dengan berperahu berkeliling danau atau singgah ke pulau Nusa Larang untuk berziarah ke makam anak Borosngora yang dikenal dengan nama Prabu Hariang Kancana. Setiap bulan Maulud warga sekitar juga rutin melaksanakan upacara adat bernama Nyangku dimana saat itu akan dilakukan pembersihan benda-benda pusaka yang disimpan di Museum Bumi Alit.

Komentar kamu?