Ulu Kasok, Raja Ampat Mini dari Riau

1,063 views
0

WartaWisata.ID Kabupaten Kampar, Raiu, kini memiliki destinasi wisata baru yang digandrungi para wisatawan, yaitu Ulu Kasok. Setiap hari, terutama pagi dan sore, tempat itu dikunjungi turis dari berbagai daerah. Apalagi jika hari libur, lokasi ini dipadati pengunjung. Para wisatawan penasaran dengan keindahan dan keelokan Ulu Kasok. Sekilas, pemandangan mirip Raja Ampat di Papua, terutama dari atas puncak Ulu Kasok. Karena itu lokasi sering disebut sebagai Raja Ampat KW 3. Ulo Kasok sendiri menyajikan tiga wisata, yaitu air terjun, wisata pulau dan puncak Ulu Kasok. Namun dari tiga tempat ini paling banyak dikunjungi yakni puncak Ulu Kasok. Dari puncak Ulu Kasok, wisatawan dapat melihat hamparan beberapa gugusan pulau yang terletak di tengah bendungan Pembangkit Listruk Tenaga Air (PLTA) Kota Panjang dengan air yang masih hijau dan hutan yang lebat.

Untuk menuju Puncak Ulu Kasok, traveler harus mendaki bukit setinggi 500 meter terlebih dahulu. Walau sedikit menguras tenaga, namun dijamin mata traveler akan terpuaskan melihat pemandangannya yang eksotis. Namun, jika traveler tidak sabaran ingin sampai di puncak dengan cepat, bisa menggunakan jasa ojek yang siap mengantar traveler pulang-balik. Di puncak ini telah tersedia beberapa tsopt foto yang cantik seperti ayunan dan rumah pohon. Untuk bisa masuk ke kawasan ini, traveler cukup membeli tiket masuk sebesar Rp 10 ribu. Dan jika ingin berkeliling ke pulau-pulau di Ulu Kasok, traveler dikenakan biaya Rp 15 ribu. Bila traveler ingin memancing di danau, bisa juga lho. Pengelola di sini menyediakan perahu yang siap mengantar traveler ke pulau manapun.

Selain perkampungan Pulau Gadang, bukit-bukit yang ada di sekitar perkampungan tersebut juga ikut tenggelam. Namun begitu tidak semua bukit tenggelam, sebab masih ada perbukitan yang nampak. Sehingga seperti ada gugusan pulau-pulau kecil di daerah sekitar. Tepatnya di aliran sungai Kampar. Jika dilihat dari atas nampak pemandangan alam yang indah. Meski begitu warga setempat belum ada pemikiran akan menjadikan tempat itu obyek wisata. Jutru sebaliknya pada tahun 1997, ada yang memanfaatkan untuk karamba ikan dan baru awal 2017 lalu ada gagasan menjadikan lokasi ini sebagai obyek wisata. Karena itu beberapa infrasttuktur dan fasilitas yang lain dapat dikatakan belum memadai dan masih perlu peningkatan dan perbaikan.

Komentar kamu?