Pendekatan Kewirausahan Untuk Membangun Sektor Pariwisata

Kewirausahaan yang berkualitas tinggi akan mendorog terciptanya kemampuan pelaku usaha untuk mengidentifikasi dan beroperasi di ceruk pasar tertentu. Selain itu, pelaku berbagai spesialisasi unik yang dimiliki sehingga menjadikan mereka lebih kompetitif.

854 views
0

WartaWisata.ID Definisi neraca perdagangan dan depresiansi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menggerus cadangan devisa. Persoalan ini harus diatasi dengan kebijakan yang tepat. Per Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$2.03 miliar. Sumber defisit utama berasal dari impor barang konsumsi yang besarnya mencapai US$1,72 miliar.

Pemerintah telah mengambil langkah penawaran defisit dengan menguatkan sektor pariwisata sebagai penyeimbang. Sektor pariwisata bisa menjadi mesin devisa yang bakal menutup lubang di neraca pembayaran Indonesia.

Hasil survey World Economic Forum 2016 yang bertajuk “Travel and Tourism Competitiveness Report” memberi peringkat terhadap 136 negara dengan kinerja sector pariwisata terbaik. Dengan parameter keamanan, kehiginisan, kesehatan, dan keterjangkauan harga. Hasil survey untuk kawasan pariwisata di Asia Tenggara, WEF menempatkan Indonesia pada peringkat keempat. Peringkat pertama ditempati oleh Singapura, disusl Malaysia pada peringkat kedua, dan ketiga diduduki oleh Thailand.

Ini adalah sebuah ironi. Indonesia memiliki keanekaragaman. Keunikan budaya dan keindahan alam luar biasa, ternyata industri pariwisata di Indonesia belum mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Industri pariwisata Indonesia baru mampu menyerap 0,8% wisatawan mancanegara (wisman) di tingkat global, 3% dari Negara Asia Pasifik, dan hanya 9% dari ASEAN. Jika Indonesia menarget 20 juta wisman pada 2019, ternyata pada 2014 saja Malaysia sudah berhasil mendatangkan 27,4 juta wisman. Bahkan Thailanf sudah berhasil memasukkan 24,8 juta wisman. Di tahun 2017, Indonesia baru mampu membukukan devisa dari pariwisata sekitar US$11,3 miliar, kalah dibandingkan Malaysia (US$18,1 miliar) dan Thailand (US$49,9 miliar).

Permasalahan utama pengembangan pariwisata di Indonesia adalah keterbatasan infrakstruktur yang mendukung akses dan aktivitas wisatawan di setiap objek wisata. Lingkungan yang kotor dan sumber daya manusia yang belum memadai, terutama kesiapan mental masyarakat dalam melayani wisatawan, turut memperburuk masalah ini.

Pendekatan Kewirausahaan untuk Pengembangan Pariwisata

Pariwisata berkelanjutan merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan yang menjadi agenda dunia. Sejumlah penelitian yang mengungkap keunggulan kompetitif bisnis pariwisata kecil menunjukan temuan yang konsisten, yaitu menekankan pentingnya kewirausahaan yang berkualitas tinggi sebagai faktor kunci dalam keberlangsungan dan pertumbuhan usaha pariwisata.

Kewirausahaan yang berkualitas tinggi akan mendorog terciptanya kemampuan pelaku usaha untuk mengidentifikasi dan beroperasi di ceruk pasar tertentu. Selain itu, pelaku berbagai spesialisasi unik yang dimiliki sehingga menjadikan mereka lebih kompetitif. Itulah mengapa kinerja bisnis pariwisata perlu mengeksplorasi hubungan antara kepemimpinan wirausaha, orientasi pasar, dan orientasi relationship marketing.

Industri pariwisata telah diidentifikasi sebaai salah satu industry utama yang mampu mendorong pembagunan dan transformasi ekonomi di negara-negara berkembang. Tantangan pemasaran yanf dihadapi bisnis pariwisata cukup unik karena bisnis ini tidak dapat dipromosikan secara terpisah dair produk yang saling bersaingan dan saling melengkapi.

Kualitas kewirausahaan, kepemimpinan wirausaha, pasar, dan marketing orientation mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan pariwisata. Unsur kewirausahaan yang paling penting untuk mengembangkat pariwisata adalaj inovasi dan orientasi, terutama orientasi outward looking. Bagi para perusahaan wisata skala kecil, kepribadian wirausaha menentukan keberhasilan bisnisnya.

Dalam kepribadian wirausaha terkandung kepemimpinan wirausaha. Kepempinan yang menciptaka scenario visi yang digunakan untuk menyusun dan memobilisasi supporting cast dari para pelaku usaha pariwisata sehingga bersedia menjalankan dan mewujudkan visi tersebut dengan cara menemukan dan mengeksploitasi strategic value creation di sector pariwisata.

Kepemimpinan wirausaha juga diperlukan ketika menjalin aliansi. Aliansi ini bisa berbentuk jejaringan kontak dan jejaring industry dan marketing. Aliansi memegang peran penting dalam pemasaran karena mampu meredam ketidakpastian, memfasilitasi terbentukya kepercayaan (trust), dan mengurangi risiko karena perusahaan wisata skala kecil sering kali tidak mampu mengakses informasi pasar.

Market orientation adalah sebuah orientasi strategi yang memainkan peranan penting dalam mendapatkan keinginan wisatawan. Perusahaan wisata yang mampu memenuhi dan mengakomodasi kemauan wisataean cenderung akan mendapatkan superior costumer. Perusahaan wisata skala kecil agar mampu membangun sustainable relationship dengan para pemangku kepentingan di bisnis pariwisata.

Sustainable relationship akan mendorong terwujudkan kinerja bisnis yang unggul. Dalam sustainable relationship akan terbentuk trust, ikatan/jalinan kerjasama, komunikasi yang baik, tercipta shared value, empati, dan sikap timbal balik. Dalam berbagai penelitian, diperoleh temuan yang mirip bahwa terdapat hubungan positif antara kepemimpinan kewirausahaan dengan kinerja organisasi. Hubungan ini diperkuat oleh relationship marketing orientation.

Relationship marketing orientation bertumpu pada network. Dalam industri pariwisata, network itu terwujud dalam berbagai bentuk. Network adalah sebuah struktur sosial yang memungkinkan perusahaan kecil operator pariwisata membangun kepercayaan (trust) yang penting bafi mereka dalam pembangunan produk wisata lokal. Melalui network yang ada, perusahaan kecil pariwisata melakukan networking, dan saling belajar bagaimana

mengembangkan produk pariwisata. Dari sini akan muncul ikatan kerjasama dan saling melengkapi dalam mengembangkan kawasan wisata berdasarkan kebutuhan dan nilai-nilai dalam networking akan memunculkan spesialisasi kompetensi para pelaku usaha wisata yang akhirnya akan memperkaya ragam dan jenis produk pariwisata.

Ciri-ciri seorang Entrepreneur menurut Fadel Muhammad :

Bersambung : Pembagian Tugas Pengembangan Pariwisata

Sumber : Majalah Warta Ekonomi No K9 Tahun 2018

Komentar kamu?