Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 15)

“apakah yang dimaksud bangsa asing menjajah Indonesia adalah suatu kebetulan yang direncanakan?”

240 views
0

PATRION – Pakde bersama temannya, Pak Pujo, yang merupakasn seorang dosen ilmu budaya di UGM tak habis pikir dengan perilaku aneh aku yang mencoba mengecek seluruh area rumah joglo itu. Arum memberi tanda kepadaku dan Lastri untuk bicara diluar. Arum membisik ke kita untuk tidak membuka apa saja yang baru terjadi. Aku dan Lastri memahami kekhawatirannya, terlebih dengan jati diri dia yang perlu di sembunyikan. Setelah hampir dicurigai pakde karena kita berlama diluar, kita bertiga pun akhirnya masuk ke dalam.

Aku sempat tak menemukan kata untuk berbohong ke pakde, tapi Arum dengan cepatnya berasalan kalau dia ingin tau pakde lebih dalam, makanya mengikuti pakde lebih dalam yang sedang beri seminar ke mahasiswa UGM. Pakde menerima alasan Arum, namun pak Puji seperti curiga dengan kita bertiga. Tak lama panitia seminar, salah satu dari mahasiswa UGM mendatangi pakde dan memintanya untuk bersiap mengisi seminar kuliah soal budaya Indonesia. Aku, Arum dan Lastri menunjukkan sikap antusias untuk mengikuti Seminar kuliah sebagai alasan menutupi rahasia yang kita simpan.

Acara seminar kuliah budaya dilaksanakan di aula kampus UGM dan dihadiri sekitar tiga ratusan mahasiswa UGM, sebagian besar mereka dari fakultas budaya dan ilmu sosial. Pakde minta didampingi Lastri diatas mimbar sekalian membawakan berkas-berkas presentasinya, sementara aku dan Arum menjadi bagian dari audiens seminar. Ketika pakde bicara di atas podium menjelaskan soal budaya Indonesia, beliau tidak seperti yang aku kenal biasanya. Pakde seperti seorang professor yang menjelaskan secara rinci dan menarik soal khasanah Indonesia. Pada satu point yang tak kuduga, Pakde menganalogikan Budaya Jawa ataupun Nusantara seperti halnya gunung es. Dimana apa yang kita lihat soal nusantara selama ini hanya sepucuknya saja, dan pada lapisan dibawahnya itu begitu dalam rahasia tersimpan. Aku dan Arum saling melihat sejenak, memahami kalau omongan pakde tak ubahnya dengan yang disampaikan baginda.

Pak Pujo yang juga berada diatas podium, duduk tak jauh dari pakde. Gelagatnya terlihat aneh memandangi Lastri berulang kali. Kadang juga memadangi aku dan Arum yang duduk di bagian belakang audien. Arum memberitahu padaku untuk berhati-hati pada pak Pujo, sebab bisa jadi pak Pujo adalah salah satu anggota organisasi terselebung dunia. Arum menyimpulkannya dari jam yang dikenakan oleh Pak Pujo. Di hiasan gelang jam itu terdapat symbol Omennia. Aku sama sekali belum paham apa yang dimaksud oleh arum.

Arum membisik padaku bahwa Omennia adalah organisasi yang sudah berdiri sejak abad pertama, sangat tertutup, rahasia dan terorganisir dengan anggota yang tersebar di seluruh dunia. Menurut Arum Anggota Omemnia hanya ada 10 orang di setiap Negara, tidak lebih dan tidak kurang. Bila ada anggota yang meninggal, maka akan digantikan oleh anggota baru dengan persayaratan yang sangat ketat di rekrut oleh oraganisasi. Aku membayangkan kalau di dunia ini ada sekitar 200 negara berarti ada anggota sekitar 20.000 orang dalam Ommenia. Arum menambahkan kalau organisasi Omennia bertujuan menguasa dunia dengan mengumpulkan kekuatan terbesar yang dimilki oleh dunia yaitu mustika atlantis. Setelah berdiri sekian abad lamanya dan melakukan penelitian turun temurun barulah mereka mendapat jawaban pasti bahwa mustika atlantis yang mereka cari berada dari nusantara. Pada tahun 1511, organisasi Ommenia membuat perusahaan VOC untuk menguasai Nusantara dan mengambil mustika Atlantis.

Semuanya menjadi masuk akal buatku. Setiap hal kini saling terhubung. Isi materi seminar sejalan dengan apa yang dibahas dengan Arum. Meski aku masih sedikit bertanya dalam pikiranku, “apakah yang dimaksud bangsa asing menjajah Indonesia adalah suatu kebetulan yang direncanakan?”. Dan apakah kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah kebetulan juga atau diselamatkan oleh sekelompok orang. Pertanyaan terus tumbuh dalam diriku. Terlebih soal organisasi Ommenia yang baru aku ketahui keberadaanya. Arum sugguh luar biasa pengetahuannya. Dia sampai begitu detail menjelaskannya. Obroloan kita yang pelan dan berbisik itu dihentikan oleh acraa seminar yang sudah selesai. Saat aku menoleh kepodium, ternyata sudah tidak ada Pak Pujo. Aku merasa kalau Pak Pujo tahu apa apa yang kita ketahui, atau mungkin menhindar, atau mungkin saja dia sedang mengatur sebuah rencana. Arum dengan sedikit kahwatir mengajaku segera pergi dari tempat ini.

Tak berapa lama, Pakde dan Lastri yang baru turun dari panggung menghampiri kita berdua. Sejenak aku membahas atas kekagumanku dnegan isi materi seminar Pakde, dan hanya dijawab dnegan senyuman kecil oleh pakde. Entah itu apa artinya. Tanpa berpikir lama lagi, aku pamit pergi beralasan sudah punya jadwal bersama Lastri ditemani oleh Arum untuk belajar menjadi pemandu wisata. Beberapa mahasiswa seolah mengatri ingin berbicara dengan Pakde. Aku, Arum dan Lastri pun pergi.

Sore itu, kala senja ingin meredupkan cahayanya. Aku, Arum dan Lastri istirahat sebentar di sebuah persimpangan jalan di salah satu sudut Jogja, menikmati pemandangan kota jogja kala senja. Arum masih terlihat menyesali kejadian siang ini yang menurtnya dia tidak mendapatkan apa-apa saat berada di ruang database alam. Kita sepakat menyebutnya sabagi kepingan kepingan database alam raya, setelah cukup lelah tidak menemukan bahasa yang tepat, karena ini bukan dunia mistik atau dunia nyata, ini di antara dunia tersebut. Kita memesan kopi jos, kopi yang dipanaskan dengan arang bulat yang dicelupkan kedalam gelas..

Saat Lastri meminum di teguk pertama, dia mengeluarkan sebuah batu dari balik kantong celananya dan menunjukan ke Arum. “batu ini aku ambil di dalam candi yng kita masuki” Lastri memberi kejutan ke Arum. Sontak saja Arum terlihat berubah raut wajahnya dan memeluk Lastri dengan penuh rasa suka cita. “pada bagian mana ini kamu mengambilnya” tanya Arum ke Lastri. Langsung saja Lastri menunjukan bekas luka dikakinya “saat aku terjatuh dan mendapatkan luka ini. Batu ini untukmu, ini mungkin akan berarti banyak untukmu, kamu yang lebih memahami soial ini”.

Sekali lagi Arum memeluk erat tubuh Lastri dan tubuhkupun juga dipeluknya. Arum merangkul kita bertiga seolah kita ini adalah bagian dari persaudaraan lama. Tapi hal inilah yang sebenarnya aku tidak inginkan, pikirku sejenak, kalau aku di anggap saudara, bagaimana kelak nanti perjalananku pribadi mengarungi kehidupan sesungguhnya. Hahaha.. tertawa sendiri aku memikirkan hal itu. Tanpa memperhatikan tawaku, Arum mengamati batu tersebut dan menyimpulkan bahwa batu ini adalah sebuah pucuk dari candi. Aku dan lastri bingung padahal batu itu berada di lantai dalam candi.

Bersambung ke Part 1 – 16

Komentar kamu?