Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 14)

Setiap bangsa terkuat di dunia ini berupaya menemukan rahasia tersimpan dari setiap guratan yang di tulis oleh tangan Ibu Pertiwi

148 views

PATRION – Empu Baginda mengajak aku, Arum dan Lastri untuk berbicara sambil menyusuri jalan. Perbincangan dengan Empu Baginda membawa kita bertiga pada sebuah pemahaman baru mengenai Nusantara. Sebuah lapisan terbawah dari gunung es yang belum pernah aku dengar sebelumnya.  Disisi lain, aku masih belum bisa memahami mengenai kondisi keberadaan tempat kita berpijak. Meski Empu Baginda bilang kondisi yang aku lihat dengan penuh kesadaran ini adalah kumpulan energi yang tersimpan, aku masih berusaha keras mencernanya. Sesaat aku menemukan jawabannya walaupun belum tentu benar, yaitu ibarat sebuah teknologi komputer dengan jaringan internetnya dimana tersimpan database yang kapanpun bisa muncul bila sesuai kodenya. Kira-kira seperti itu. Tapi alam raya ini sangat jauh tak ternilai kelipatan kemampuannya menyimpan database bila dibandingkan dengan teknologi secanggih apapun di dunia ini.

Empu Baginda meminta kertas kulit yang aku pegang. Dia menjelaskan sudah pernah ada beberapa orang sebelumnya yang bertemu dengannya di tempat ini, salah satunya adalah Gajah Mada. Boom! Aku, Arum dan Lastri sangat terkejut dan makin penasaran mengikuti ceritanya. Empu Baginda menambahkan bahwa setiap bangsa terkuat di dunia ini berupaya menemukan rahasia tersimpan dari kertas kulit kuno ini yang setiap guratan tulisannya di buat oleh tangan Ibu Pertiwi. Apa maksudnya, Ibu Pertiwi. Siapa dia sebenarnya?. Meski hal itu tidak kutanyakan pada empu baginda, dia langsung berucap “Suatu saat kalian akan tahu dengan sendirinya siapa Ibu Pertiwi sebenarnya”.

Soal namaku yang tertulis didalam kertas kulit kuno itu, dijelaskan pula oleh empu bahwa itu dengan sendirinya akan muncul bila kertas kulit ini dipegang oleh orang yang memiliki satu garis keturunan saja. Aku terhenyak “maksudnya apa empu?!”. Empu hanya tersenyum tidak mau menjawab pertanyaanku. Sejenak hal itu menggelitik pikiranku, apa jangan-jangan aku adalah keturunan dari panglima bersejarah di nusantara. Pikiran lainnya dalam diriku tegas menolak hal tersebut.

Empu Baginda melanjutkan “Dengan hadirnya orang di tempat ini menjelaskan kalau dunia akan hancur sebentar lagi. Terpecah belah karena peperangan hebat dan terjadi kehancuran besar. Namun semua itu dapat dicegah bila sambungan lain kertas kulit kuno ini dapat ditemukan dan disatukan. Karena saat semuanya telah lengkap maka akan terbuka sebuah petunjuk besar yaitu mustika Nusantara sesungguhnya”. Bagiku ini semuanya makin sangat aneh, tapi herannya tidak bagi Arum dan Lastri. Mereka berdua tahu kalau aku makin tak tertarik dengan omongan Empu Baginda yang bagiku mengada-ada. Tak kuduga apa yang dilakukan mereka berdua terhadapku dengan mencubit lengan kanan dan kiriku. Arum dan Lastri dengan gemasnya memaksaku untuk memperhatikan semua penjelasan Empu Baginda.

Empu Baginda berpesan agar aku, Arum dan Lastri bisa menemukan kepingan tulisan ibu pertiwi lainnya dalam kertas kulit lainnya dengan waktu cepat sebelum ditemukan oleh orang lain dan disalah gunakan. Dia juga meminta kita bertiga untuk menggunakan dua senjata paling hebat didunia yang sudah dimilki. Aku, Lastri dan Arum saling memandang keheranan, tapi saat kita kembali menoleh ke Empu Baginda, sosoknya telah hilang tiba-tiba, begitu juga dengan suara gamelan yang mengiringi kita, semuanya hilang. Kita bertiga dibuat penasaran, terlebih dihadapan kita ada sebuah rumah joglo khas jawa.

Arum seperti menyesal dengan apa yang telah terjadi, dia berkata dengan kekecewaan dalam “Seharusnya aku tidak mengalihkan pandanganku dari empu Baginda, aku pernah membaca pada salah satu manuskrip kuno bahwa bila bertemu dengan sosok seperti Empu maka jangan pernah mengalihkannya, karena dia akan menghilang”.  Arum tertunduk lemas. Lastri menepuk pundak Arum dan mencoba membangkitkan kembali semangatnya. Lastri menenangkan “Ada baiknya kita beristirahat di dalam rumah itu”, sambil menunjuk urmah joglo didepan kita yang disekitarnya terdapat banyak pintu di depan, kanan kirinya. Salah satu kekhasan yang dimiliki rumah Jawa pada umumnya.

Aku mencoba memberi salam kepada si pemilik rumah agar kita bertiga bisa masuk ke dalam. Namun tidak terdengar ada jawaban sama sekali dari dalam. Lastri mengajak kita untuk pergi ketempat lain, siapa tau bisa menmukan orang lain di tempat indah ini. Tapi Arum seperti kelelahan, dia bilang “Kita sebaiknya masuk saja, mungkin orang di dalam tidak mendengar suara kita”. Arum membuka pintu, kemudian kita bertiga masuk kedalam rumah. Pintu ditutup oleh Arum, kita bertiga memanggil lagi si pemilik rumah tapi tetap tidak ada muncul sama sekali. Aku, Arum dan Lastri kemudian duduk di ruang tamu yang memiliki griya unik khas jawa.

Saat kita sudah nyaman duduk, anehnya tak lama terdengar suara yang tak asing lagi ditelinga kita. Suara itu seperti dua orang yang sedang berbincang, terdengar mendekat dan masuk dari pintu lain samping rumah. Ternyata itu adalah pakde dan temannya yang masuk kedalam rumah. Aku, Arum, Lastri, pakde dan temannya sama-sama terkejut. Pakde dengan keheranan “loh bukannya kalian tadi ada di Prambanan?”. Aku, Arum dan Lastri langsung berbegas membuka semua pintu dan jendela rumah tersebut, ternyata kita sudah berada di tempat berbeda, bukan di tempat indah yang sebelumnya kita bertemu dengan Empu Baginda. Pakde dan temannya heran melihat tingkah laku kita yang aneh membuka setiap pintu rumah. Aku dan Lastri menghampiri Pakde dan temanya, tapi Arum keluar rumah berkeliling kesekitarnya lalu masuk kedalam dengan penuh pertanyaan ke Pakde, “Pakde, dimana kita berada ini sekarang?”. Pakde dengan datar menjawab “kita ada di belakang kampus Gajah Mada, di rumah budaya karawitan”. Aku, Arum dan Lastri makin terlihat heran. Namun lagi-lagi Arum menunjukan kekecewaannya sambil berkata “Kita sudah kehilangan peristiwa bersejarah lagi”. Pakde “maksud kalian apa? Kita memang berada di rumah bersejarah”. Aku, Arum dan Lastri terdiam seribu bahasa.

Bersambung ke Part 1 – 15


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?