Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 11)

Nusantara dijajah oleh bangsa asing bukan karena rempah-rempah, ataupun karena kekayaan alamnya melainkan karena mustika Nusantara

331 views
0

PATRION – Aku, Lastri dan Arum membahas perihal Artefak kertas kulit kuno yang aku pegang ini. Menurut Arum ini sangat tak ternilai. Di sini Arum membuka tabir rahasianya sebagai seorang penjelajah dunia. Dia sudah mempelajarinya sejak lama, semenjak dia menjadi librarian di perpustakaan Leiden, Belanda. Di sanalah dia mengetahui bahwa manuskrip kuno yang berasal dari Nusantara itu berjumlah puluhan ribu. Dan perpustakaan di Belanda tempat dia bekerja menyimpan 60 persen diantaranya, sementara sebagian lain masih tersebar di negara lain.

Aku dan Lastri mendengarkan penjelasan Arum dengan penuh rasa penasaran. Menurut Arum jenis Kertas kulit Kuno yang aku pegang ini sangat langka dan hanya ada delapan seperti ini yang tersebar di seluruh dunia. Ini menjelaskan perihal rahasia peradaban bumi di masa lalu yang menyimpan sebuah harta karun besar berupa mustika Nusantara. Bahkan ini membuat aku kaget seolah semuanya terhubung. Menurut Arum Nusantara dijajah oleh bangsa asing bukan karena rempah-rempah, ataupun karena kekayaan alamnya melainkan karena mustika Nusantara!. Seperti geledek besar ditengah malam, ini berkaitan jelas seperti penjelasan mantan guru sejarahku saat SMP yang dia hilang entah kemana, tidak jelas apakah dia masih hidup atau tidak.

Perkataan mantan guruku terngiang terus ribuan kali per detik di kepalaku. Aku tak menyangka bahwa Nusantara tempat aku dilahirkan memiliki rahasia besar tersembunyi. Arum terlihat bahagia memandangi kertas kuno itu. Aku pun langsung memberikan kertas itu padanya. Tapi Arum menolak karena menurutnya tanpa diriku kertas kulit kuno ini bukanlah apa-apa. Dan menjelaskan kalau Artefak kertas kulit kuno ini mencari tuannya untuk menunjukkan jalan. Sejak berabad lamanya benda ini menjadi rebutan orang dan sudah ratusan kali berpindah tangan.

Arum memintaku untuk bersamanya menjalankan tugas penting demi Nusantara yaitu menemukan Mustika Nusantara untuk menyelamatkan Bumi. Aku tertawa lepas mendengarnya, aku tak percaya kalau ini memang benar seperti yang dikatakan Arum. Bagiku Arum mengandai-andai dan sangat tidak masuk akal. Anehnya tanpa kuduga, Lastri yang sejak tadi memperhatikan soal ini memintaku untuk ikut bersama Arum. Aku menolak. Alasanku jelas, aku disini hanya ingin belajar menjadi pemandu wisata untuk melengkapi tugas kuliahku. Lastri dengan penuh bahasa lembutnya menyatakan “Mas Surya, kamu harus ikut dengan Arum.. aku akan menemani kamu”. Hatiku seperti berteriak tapi mulutku tak bisa mengungkapkannya.

Apa yang terjadi denganku saat ini, jelas aku tak mungkin bisa menolak tawaran Lastri. Aku pun tak berkata apa-apa hanya diam mengangguk. Arum langsung berkesimpulan bahwa aku setuju dan berusaha menenangkan aku “Tenang Surya, dengan kamu mengikuti petunjuk apa yang ada dalam artefak kertas kulit ini, kamu akan jauh mengenal Indonesia lebih dalam, bukan hanya sekedar menjadi pemandu wisata”.

Aku dengan agak gemetar meminum kopi yang sudah sedikit dingin. Aku bangun dari tempat duduk lalu berjalan melangkah perlahan ke arah depan meninggalkan mereka berdua menghindari rasa kikukku diantara mereka. Kopi yang aku nikmati malam ini begitu istimewa, dibuat oleh sentuhan tangan yang penuh kharisma dan ditemani malam yang begitu cerah. Aku menoleh kebelakang sesaat ke arah Lastri dan Arum. Sinar rembulan yang menyinari wajah mereka menegaskan mereka berdua memang seperti bidadari yang berada di dekatku saat ini.

Pikiranku campur aduk, antara rencana tugas kuliahku, rencana perjalanan bersama mereka dan juga mengungkap rahasia-rahasia tersembunyi dari artefak kertas kulit kuno itu. Aku sengaja membiarkan mereka berdua bersama. Terdengar tawa kecil mereka yang begitu merdu seperti nada langit yang belum pernah aku dengar. Aku mengagumi mereka berdua yang memiliki sikap dan jiwa berbeda dari wanita manapun yang pernah aku temui selama ini.

Kedatangan pakdeku dari dalam kamarnya menutup keindahan malam ini. Arum dan Lastri kembali ke kamarnya, mereka berdua melambai kepadaku saat pamit. Pakdeku hanya tersenyum dari kejauhan, dia ingin menghampiriku tapi seolah dia mengerti aku ingin sendiri.

Bersambung Ke Part 1 – 12


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?