Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 10)

Arum menjelaskan kepada kita berdua bahwa selama ini dia mencari kertas Kulit ini yang merupakan salah satu Artefak Nusantara yang dicari oleh setiap orang, termasuk organisasi besar dunia.

291 views
0

PATRION – Aku duduk sendirian di teras pendopo sanggar, menatapi rembulan bersinar terang ditemani gumpalan awan yang menghiburnya. Banyak pikiran dalam kepalaku memikirkan rencana kedepan menjadi pemandu wisata. Besok adalah waktu dimana aku memulai belajar.

Sangat menarik bagiku yang akan aku jalani, terlebih Lastri akan mendampingiku. Tapi hadirnya Arum disini membuat perasaanku berbeda, hatiku merasakan bahwa dia memiliki sebuah ikatan terhadapku, entah itu apa, tapi mungkin ini hanya naluri hasratku sebagai laki-laki yang melihat kecantikan padanya. Arum kini sudah tidur nyenyak di kamar tamu yang disediakan pakde. Besok dia akan pergi pulang kerumahnya, entah dimana.

Suara adukan sendok dalam gelas memecah keheninganku yang datangnya dari arah belakang. Aku menduga pakdeku akan membawakan aku secangkir kopi. Namun aku merasa heran, apa mungkin seorang tua membuatkan aku kopi, seharusnya aku membuatkan untuk dia. Belum sempat aku menemukan jawabannya. Muncul Lastri dengan secangkir kopi yang langsung diberikan kepadaku. Aku hanya bisa diam melihatnya sambil menerka. Bukankah dia itu tadi langsung pulang kerumahnya setelah pertunjukan tadi. Apa yang dia lakukan malam-malam disini, pikirku. “Mas ini kopinya, tadi sore aku janji buatkan kopi untuk kamu”. Sahut Lastri dalam suara lembut.  Aku mengucapkan terimakasih. Kemudian aku bertanya “kenapa malam-malam kamu ada disini”. Lastri dengan tenangnya bilang “aku memang tinggal disini mas sudah dua minggu lamanya, Pakde yang memintaku. Dia ingin aku membantunya untuk membuat koreografi tarian. Orangtuaku sudah menganggap pakde adalah bagian dari keluarga sendiri. Tadi aku pulang ke rumahku memberikan ayah ibuku uang hasil dari pentas tadi”. Aku mengangguk perlahan mencoba mengerti omongannya, meski pikiranku sambil menjalar mengagumi kecantikannya. Lastri duduk di sebelahku dengan sikap khas wanita Jawa yang penuh hormat dan lembut.

Tanganku menjadi dingin, aku menahan gemetar, dan mencoba menenangkan diriku sendiri. Lastri membuka percakapan yang tidak bisa aku mulai “Mas pernah membaca buku A CUP OF JAVA?”. Aku menggelang. Lastri menjelaskan “Buku itu menjelaskan soal secangkir Kopi, dimana Kopi yang dikembangkanbiakan di jawa sejak jaman kolonial sangatlah mendunia”. Aku kaget, tak kusangka gadis desa yang penuh keanggunan ini memiliki wawasan luas soal Kopi dan suka membaca buku. Aku semakin jauh tertinggal darinya, bagaimana aku bisa menjadi pendampingnya kelak bila wawasan aku masih jauh darinya.

Suara pintu terbuka, aku menoleh ke arah suara yang ternyata berasal dari kamar Arum. Dia berjalan beberapa langkah ke depan keluar halaman pendopo. Cahaya rembulan yang terang menyinari dirinya, membuat keindahan sosok wanita cantik terpancar dengan jelas. Arum belum melihat keberadaanku bersama Lastri. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku sambil tersenyum. Aku seperti terhipnotis, lalu membalas senyum padanya. Lastri ikut menoleh dan melambaikan tangan pada Arum untuk mengajaknya bergabung bersama. Aku langsung merasa ingin pergi dari tempat dudukku, apalagi saat melihat Arum melangkah mendekat. Aku berusaha mencari kesibukan diri sendiri, salah satunya adalah mengeluarkan Kertas kulit kuno itu. Anehnya saat itu Arum yang melihat benda itu, dia mempercepat langkah kakinya ke arah kita berdua.

“Terimakasih aku diajak gabung bersama kalian” Sahut Arum ketika mulai duduk di sebelah kananku. Aku membalas sekenanya “Biasa, menikmati keindahan malam yang cerah ini”. Arum tersenyum. Tangan Arum langsung dijulurkan ke Lastri. “Perkenalkan Aku Arum”. Lastri menyambut tangannya sambil memperkenalkan diri juga ke Arum. Lastri heran karena Arum tak memperkenalkan diri padaku. “kalian sudah saling kenal?“. Aku dan Arum mengangguk. Sejenak seperti ada sedikit pertanyaan dalam diri Lastri yang seolah tak terungkap. Arum menjelaskan “aku sangat beruntung bertemu dengan pakde, dia mengizinkanku menginap di sanggarnya”. Lastri membalas “Pakde memang begitu, membuka sanggar ini untuk siapapun. Tak heran banyak orang dari manapun datang dan menginap disini”. Arum mengangguk “maaf aku mengganggu kalian, aku hanya ingin mengusir rasa bosan dengan keluar kamar”. Aku dan Lastri sedikit salah tingkah. Sejak tadi aku melihat Arum memperhatikan Kertas kulit aneh yang aku pegang. Arum memintanya untuk dilihat. Wajah Arum seperti berkerut dan kaget dia bertanya padaku “apa yang tertulis dalam artefak ini adalah nama kamu Surya Bahtera Adi Negara?. Aku mengangguknya.

Belum selesai keheranan Arum. Lastri membalasnya dan menegaskan “ini memang jodohnya Surya, dan sepertinya dia akan membuat sebuah hal besar”. Arum menambahkan “Bukan hanya itu, tapi sebuah tugas besar!”. Lastri dan Aku heran menatap Arum. Aku sangat bingung dengan moment seperti ini. Arum menjelaskan kepada kita berdua bahwa selama ini dia mencari kertas Kulit ini yang merupakan salah satu Artefak Nusantara yang dicari oleh setiap orang, termasuk organisasi besar dunia. Arum bertanya “Apakah kamu ingat dengan orang tua yang berada di kereta sebelum kamu berangkat ke sini?. Dialah yang menaruh ini di tas kamu, dan dia seharusnya memberikan ini padaku”. Aku tersentak kaget dan baru menyadari kalau dialah yang memiliki peran dalam hadirnya kertas kulit ini padaku. Jawaban yang aku cari terjawab sudah. Pertemuan aku dan Arum bukanlah tanpa sengaja dan dia memang terhubung dengan diriku karena Artefak kertas kuno ini.

Bersambung ke Part 1 – 11


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?