Museum Multatuli, Sebuah Dedikasi Terhadap Gerakan Melawan Kolonialisme

224 views
0

WartaWista.ID – Museum Multatuli yang diresmikan sejak bulan Mei 2017 Bertepatan 197 tahun kelahiran Douwes Dekker alias Multatuli, Museum Multatuli terletak di Kota Rangkabitung, Provinsi Banten, menjadi museum antikolonial pertama di Indonesia.

Foto via : museummultatuli.id

Bangunan museum, yang merupakan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak (dibangun pada 1920-an), Walaupun disebut Museum Multatuli, museum ini disiapkan sebagai museum tentang gerakan antikolonialisme -sejak persinggungan awal berbagai wilayah di Nusantara di abad 14 dengan Belanda, Portugis, Spanyol hingga berdirinya Republik Indonesia, Bercirita tentang bagaimana penjajahan masuk Nusantara, bagaimana terjadi dan bagaimana penjajahan turut menyumbang pada bentuk negara bangsa Indonesia.

Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, adalah penulis Belanda yang terkenal dengan novelnya yang berjudul Max Havelaar (1860), novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda, Multatuli memang identik dengan Kabupaten Lebak, dengan ibu kotanya Rangkasbitung, Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak.

Novelnya yang berjudul Max Havelaar (1860), karya roman Multatuli telah menginspirasi tokoh-tokoh di Indonesia, seperti Sukarno dan RA Kartini, dalam mengenali penjajajahan. Bahkan tokoh nasional Filipina Jose Rizal terinspirasi pula. Sebelum bukunya beredar, orang-orang di Hindia Belanda tidak begitu menyadari bahwa mereka sedang dijajah.

Multatuli sendiri sama-sekali tidak pernah membayangkan bukunya kelak akan menginspirasi gerakan melawan kolonialisme. Dia hanya mencita-citakan sistem kolonial yang lebih adil. Ternyata, Novel itu efeknya Lebih dari sekedar menciptakan keadilan dalam kolonialisme, tapi menjadi rujukan agar koloniaisme itu harus diakhiri. Dampak kehadiran buku itu, melahirkan Politik Etis oleh pemerintah Hindia Belanda, Atau gerakan “Balas Budi” terhadap rakyat jajahan, sehingga sebagian rakyat memperoleh kesempatam untuk sekolah. tapi Max Havelaar telah menjadi simbol inspirasi gerakan pembebasan di negeri terjajah.

Selain memotret perjalanan gerakan antikolonialisme, museum Multatuli juga akan menghubungkan sejarah yang terjadi di Lebak dengan sejarah Nusantara dan dunia. dimana juga menampilkan Tokoh-tokoh yang lahir dan pernah tinggal di Rangkasbitung. “Misalnya Agus Salim, Tan Malaka, atau orang-orang yang terinspirasi seperti WS Rendra, Seperti diketahui, WS Rendra pernah menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Orang-Orang Rangkasbitung.

Di halaman museum, terdapat patung Multatuli dan patung Saijah dan Adinda -dua tokoh dalam novel Max Havelaar.

Komentar kamu?