Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 09)

Kecantikan Arum satu level dengan Lastri yang dimana keduanya berada pada puncak keindahan wanita. Bedanya sepintas, mungkin Arum lebih terlihat modis dan anggun, sementara Lastri begitu sederhana dan menawan.

472 views
0

PATRION – Aku sudah berada di depan loket masuk pertunjukan. Aku berhasil meyakinkan pakde untuk membantunya meski hanya sebagai tukang ngecek tiket pertunjukan. Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Satu persatu para penonton masuk. Benar saja yang aku lihat selama aku berdiri mengecek tiket, masih terhitung jari disebelah kananku jumlah penonton dari Indonesia, sisanya yang ratusan penonton itu adalah orang asing dari berbagai belahan negara. Meski laris manis tiket pertunjukan itu bahkan sampai ada yang tidak kebagian tiket. Aku merasa janggal saja terkait omongan pakde. Setidaknya aku tetap merasa bangga dengan yang dilakukan pakde bersama teman-teman sanggarnya.

Sebelum aku menutup pintu loket pertunjukan, seorang perempuan cantik asli Indonesia menyodorkan tiketnya. Wajahnya tersenyum padaku. “mas, ini tiketku, maaf aku terlambat”. Aku mengecek susunan bangku yang ternyata sudah penuh. Dan mengecek tiketnya yang sebenarnya untuk pertunjukan tiga hari mendatang. “maaf mba, bangkunya sudah penuh, dan tiket mba ini untuk pertunjukan berikutnya”. Perempuan itu memohon padaku “aku sangat cinta budaya Indonesia mas, sementara saya dikejar waktu mas”. Aku sadar mungkin inilah salah satu wanita Indonesia yang perduli dengan masa depan budaya Indonesia. Tanpa banyak pertimbangan aku mengizinkan dia masuk “mba, nanti masuknya sama saya ya, tapi duduknya bukan dibangku penonton, bagaimana?”. Perempuan itu tersenyum “tidak apa-apa mas, perkenalkan saya Arum”. Tangannya di sodorkan padaku, aku menyambutnya. “aku Surya”. Aku merasakan lembut sekali tangannya, sampai-sampai seperti aroma wangi tubuhnya mengalir ke tangannya. Wajah cantiknya serta tubuhnya yang ideal, nyaris saja mengalihkan harapanku pada Lastri.

Aku dan Arum masuk ke dalam, kita duduk lesehan di tepi kiri panggung, jadi harus melihat pertunjukan dengan menyerong. Sementara pandangan lurus kita bisa menyaksikan para penonton dari berbagai negara yang takjub dengan pertunjukan ini. Saat aku melihat Lastri muncul sebagai salah satu lakon penari, tatapanku nyaris tak bisa berkedip. Tiba-tiba Arum membisik “pacarnya ya mas?”. Aku diam tak menolehnya. Aku sadar kalau aku melihatnya, bisa buyar konsentrasiku. Kecantikan Arum satu level dengan Lastri yang dimana keduanya berada pada puncak keindahan wanita. Bedanya sepintas, mungkin Arum lebih terlihat modis dan anggun, sementara Lastri begitu sederhana dan menawan. Keduanya seperti putri-putri kerajaan yang cuma hanya ada dalam cerita. Tapi saat ini nyata ada di depan dan di sebelahku.

Pertunjukan tari berakhir, aku bergegas menghampiri Lastri dan pakdeku berserta penari lainnya. Aku memberi selamat kepada mereka semua. Saat semuanya sudah selesai membereskan peralatan dan perlengkapan untuk pulang. Aku masih melihat Arum duduk di salah satu bangku penonton. Wajahnya terlihat sedih, aku beranikan diri mendekat ke Arum selepas aku memastikan kalau Lastri sudah pergi duluan dengan teman-teman penarinya. Aku meminta maaf pada Arum kalau aku diam saja selama pertunjukan tidak memperdulikan dirinya. Arum terdiam sejenak “tidak apa-apa mas”.

Aku ingin pamit pergi ke Arum namun ada yang aneh dalam wajahnya yang sedih, aku beranikan bertanya “kenapa kamu Arum?”. Dia menghela nafasnya sambil berucap “aku sekarang kehilangan semuanya mas”. Aku bingung dan hanya diam. Arum melanjutkan “barang-barangku hilang, mungkin saat aku tadi mengejar waktu untuk melihat pertunjukan ini”. Aku langsung mengajak Arum “Ayo kita cari dimana jatuhnya”. Arum seolah malas dan lemas. Pakdeku tiba-tiba datang “maaf nduk, kebetulan saya tak sengaja mendengar obrolan kalian tadi saat beres-beres kabel dibelakang. Ya sudah kalau kamu mau, kamu menginap disanggar pakde saja. Masih ada kamar ruang kosong disana. Lagipula sekarang sudah malam”. Jantungku seolah langsung membeku. Waktu seolah jalan perlahan.

Bersambung ke Part 1 – 10


Ingin membaca cerita Patrion dari Awal ? (Part 1 – 01)

Komentar kamu?