Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 08)

“Dulu kita yang ada disini adalah penonton, menyukainya dan mempertahankannya menjadi penari seperti ini. Apa kamu pernah membayangkan kalau yang menari dua puluh tahun lagi itu para bangsa asing”

501 views
0

PATRION – “Mas kamu tunggu di sini ya, ndak enak kalau mobil ini nanti menggeser orang-orang yang jualan” sahut Lastri kepadaku yang terjebak di jalan dekat pasar kalong. “Iya Lastri, hati-hati”. Balasku. Lastri memberi senyum padaku yang makin membuat jantung ini meleleh. “Duh Gusti, seandainya saja aku bisa bersamanya setiap waktu, aku akan semakin bahagia”. Aku memang tak mungkin bisa menemani Lastri masuk kedalam pasar meski keinginanku bersamanya begitu besar. Aku harus mencari parkiran untuk menunggu dia di sekitaran dekat pasar. Kalau aku paksakan ikut dia bisa jadi mobil ini tidak bisa keluar, terlebih puncak keramaian pasar kalong adalah saat sore dan malam.

Sambil menunggu di dekat pasar, aku masih membayangkan omongan Lastri, kalau kertas kulit ini adalah jodohku. Padahal aku yakin sekali bahwa saat aku pertama melihat benda ini, tidak ada namaku disini. Aku memperhatikan dengan detail setiap inchi kertas kulit ini. Keherananku masih saja terus mendera, kenapa bisa ada namaku dikertas ini, apa jangan-jangan ini adalah pekerjaan jin.. hiiih… merinding aku kalau membayangkannya. Sekali lagi aku tak mau perduli dengan hal itu, mungkin ini hanya kebetulan saja, yang jelas aku akan cari tahu kepada orang yang mengerti soal ini.

Pandanganku kuarahkan ke atas langit, mungkin saja burung-burung itu muncul lagi. Namun perlahan-lahan aku mulai menyadari ada sebuah awan diatas yang bentuknya persis sekali dengan kertas kulit yang sudah robek-robek ini. Aku langsung mengambil kertas kulit itu, lalu mencondongkan kertas kulit itu ke arah langit untuk menyandingkan dengan bentuk awan aneh itu. Dan ternyata benar saja bentuk kertas kulit dan awan itu sama, sangat presisi. Kertas kulit itu perlahan terlihat jelas tulisan dan gambar di dalamnya. Aku melihat seperti sebuah garis putus-putus yang bentuknya samar. Tulisan palawa semakin jelas dan terlihat ada peta pulau Jawa di dalamnya. Aku makin takjub dengan kertas kulit ini. Aku heran entah darimana datangnya, seolah ini memberikanku sebuah pertanda bahwa aku harus mengikuti petunjuk dalam kertas ini.


Lastri menepuk pundakku “mas, kamu kenapa”. Aku bingung mau menjawabnya dan justru keluar omongan tak terduga yang tidak aku rencanakan “aku kangen kamu Lastri”. Lastri menggeleng sambil masuk ke dalam mobil “opo toh mas”. Aku kikuk dan hanya bisa terdiam sambil menyalakan mobil. Aku sebenarnya ingin memberitahukan ke Lastri apa yang baru saja aku lihat dalam kertas ini, tapi lidah ini seperti kelu. Khawatir kalau aku salah-salah ucap lagi. Tiba-tiba Lastri mengeluarkan isi belanjaan dalam keranjangnya “mas aku beliin kamu kopi jawa, kata pakde, kamu itu suka minum kopi”. Mak nyos jantungku mendengarnya, aku jadi Gede Rasa kalau Lastri telah memperhatikan aku. “nanti aku buatkan kamu”, Lastri menambahkan. Ini semakin membuat aku keringat dingin. Anehnya aku hanya terdiam dan mengangguk sambil berucap lemah “Iya Lastri, suwun yo Las”.

Selepas senja aku sudah berada di pendopo pakde. Lastri langsung bersatu dengan teman-teman penari sanggar sendratari untuk segera bersiap dalam pementasan nanti malam. Lastri mengeluarkan isi dalam keranjang yang ternyata adalah properti kain selendang dan asesoris untuk kostum penari. Aku menemui pakde dan menawarkan bantuan ke pakde apa yang bisa aku bantu. Pakde hanya pragmatis menjawab “sudah kamu nikmati saja pertunjukan nanti malam, jadilah penonton yang memahami esensi budaya kita. Aku jarang melihat warga Indonesia sendiri yang menyaksikan pementasan kita, sebagian besar itu turis asing”. Dalam pikiranku sebenarnya hal itu gak aneh sih, bukankah para turis itu sengaja datang untuk menikmati pertunjukan budaya kita.

Pakdeku yang sedang mengecek kelengkapan persiapan kemudian berucap “Dulu kita yang ada disini adalah penonton, menyukainya dan mempertahankannya menjadi penari seperti ini. Apa kamu pernah membayangkan kalau yang menari dua puluh tahun lagi itu para bangsa asing”. Pikiranku langsung buntu saat pakde menyatakan hal tersebut.

Bersambung ke Part 1 – 09


Ingin membaca cerita Patrion dari Awal ? (Part 1 – 01)

Komentar kamu?