Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 07)

Aku merasa takut dan aneh dengan benda ini. Aku sama sekali tidak mau terlibat dengan urusan yang berbau mistik atau aneh-aneh.

510 views
0

PATRION – Pakde memberitahu soal rencana tepat kapan aku mulai magang di Prambanan sebagai pemandu wisata. Aku diminta harus belajar dulu selama tiga hari untuk mengenal dan tahu lebih dalam apa itu soal Prambanan. Seolah pakdeku mengerti apa keinginannku. Pakde meminta bantuan Lastri untuk menemaniku selama belajar di Prambanan, termasuk juga untuk mengenal hubungan antara tarian sendratari dan prambanan. Lastri duduk di depanku sambil salam dengan menyatukan dua telapak tangannya kepadaku. Aku baru sadar bahwa aku tadi sempat bermimpi singkat melihat wajah dia seperti cahaya sambil menari. Aku tak bisa berkata apa-apa ketika Lastri bertanya soal kabar diriku. Justru dia hanya tersenyum melihatku seolah memaklumi apa kebodohan pria sepertiku.

Lastri saat itu diminta pakde belanja properti yang kurang untuk menari nanti malam. Aku memintanya ikut bersama dia, dengan alasan agar bisa mengenal Yogyakata lebih dalam lagi. Lastri sebenarnya enggan tapi aku memaksa dengan sedikit canda. Aku tahu dia enggan mungkin karena dia tidak mau ada orang beranggapan aku adalah kekasihnya. Karena setahuku tidak mungkin pria manapun yang tidak tertarik dengan dia secara fisik nan anggun jelita. Seandainya impian nakalku di ta’aruf sama dia saat ini juga, aku pastinya tak akan menolak. Lastri seolah membaca pikiranku “tenan mas, mau?”  kalau di bahasa Indonesiakan artinya beneran mas mau. Jrengg, aku tergugup bingung mau bilang apa. Tapi pikiranku teralu jauh, maksud dia adalah beneran mas mau antar aku ke pasar kalong, jauh loh mas. Aku hanya mengangguk kaget dan saat itu aku melihat ke jam dinding seperti nyata bahwa detiknya sangat perlahan berjalan.

Dalam perjalanan bersama Lastri aku yang menyetir mobil, beberapa kali aku salah jalan dan memutar balik karena gerogi dan benar-benar tidak tahu jalan. Sejak awal berjalan tadi aku selalu memperhatikan waktu yang seolah melambat, tidak secepat seperti yang aku lihat saat aku di stasiun. Aku tahu ini bukan sekedar kiasan, ini nyata aku alami. Waktu begitu melambat, apa yang terjadi denganku saat ini.

Saat di mobil, aku membawa tas milikku yang sudah aku keluarkan tadi barang-barangnya sebagian sebelum pergi. Dan tersisa hanya kertas kulit hewan aneh itu saja. Saat aku ingin mencari uang recehan dari dalam tasku, aku mengorek tas dan keluar kertas kulit itu. Lastri memperhatikannya, apa itu mas? Aku menggeleng tak tahu. Dia meminta izin padaku untuk memegangnya. Lastri seolah mengenal sebagian dari isi tulisan di dalam kertas itu. “Mas ini seperti tulisan yang pernah aku lihat tapi dimana ya?”, tanyanya padaku. Aku penasaran dengan Lastri dan ini mungkin bisa jadi alasanku lebih dekat dengannya dengan pura-pura menanyakan soal arti tulisan itu.

Aku bilang ke Lastri untuk membawa kertas kulit itu. Tapi herannya Lastri menolak karena dia hanya tahu bahwa di benda itu ada tulisan namaku. Aku langsung mengerem kendaraan dan tidak percaya. Lastri kaget dan nyaris memelukku. “Lastri, tidak mungkin itu ada namaku, benda itu baru aku temukan di tas ku sendiri setelah aku sampai di stasiun Yogya”. Aku benar-benar kaget. Lastri menegaskan bahwa dia tidak bohong ada nama lengkapku disini. Aku merasa takut dan aneh dengan benda ini. Aku sama sekali tidak mau terlibat dengan urusan yang berbau mistik atau aneh-aneh. Lastri memandang wajahku, dikiranya aku berbohong. Dia tersenyum, dan bilang “benda ini jodohmu mas”. Dalam hatiku sesaat, dengan sedikit geram, bahwa jodohku itu kamu Lastri. Kami terdiam sejenak tanpa berbicara apapun dengan benda itu sebagai saksinya.

Bersambung ke Part 1 – 08


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?