Manuskrip Kembali Ke Rumahnya (Part 1 – 06)

Entah dalam kesadaran atau tidak, aku melihat para penari di depanku mengenakan pakaian tarian kerajaan yang mewah dengan wajah-wajah bercahaya.

436 views
0

PATRION – Di perjalanan menuju tempat pakde, aku sibuk berkabar dengan ponselku ke pakde bahwa aku sebentar lagi sampai. Aku tak melihat ke kanan ke kiri ataupun ke atas. Baru sadar setelah diberitahu dari Bagas yang memboncengiku bahwa ada kawanan burung disamping kendaraan kita yang mengikuti sejak awal kendaraan dari stasiun.

Aku tak percaya sebelumnya, ini hanya kebetulan. Aku malah menuduh Bagas berbohong, tapi setelah motor dibelokkan ke kanan dan kiri, benar saja, burung-burung itu terus mengikuti motor kita. Apa karena bentuk motorku yang antik mungkin ya celotehku. Sekali lagi aku pada moment singkat menatap mata ke salah satu burung itu. Kita saling melihat sesaat, dan tiba-tiba terdengar suara letusan senapan dari kejauhan. Burung itu berpencaran dan pergi.

Entah dari mana asal suara tembakan yang kudengar, meski cukup mengagetkanku itu melepas sedikit kekhawatiranku dari burung-burung tersebut. Kita berdua berhenti sesaat sampai burung itu benar-benar menghilang dari langit.

Bagas menuduhku punya ilmu kejawen yang dipelajari diam-diam dari si mbah buyut. Aku mengeplak kepalanya, Aku malah bilang kalau aku ini penyayang binatang, makanya disukai sama binatang apapun. Bagas ketakutan, kalau binatangnya macan sama buaya gimana mas. Aku jadi ketakutan sendiri karena omongan Bagus.

Sampailah aku di pelataran rumah pakde yang sekaligus tempatnya dijadikan sanggar kesenian. Di tempat itu aku merasa nyaman seperti rumahku sendiri yang aku idamkan. Orang-orang di sanggar yang sebagian besar adalah seniman sangat ramah dan hangat padaku. Pakdeku adalah pimpinan sanggar yang sangat dihormati oleh kalangannya. Aku pun banyak belajar darinya soal nilai-nilai kehidupan dari budaya Jawa.

Sesampainya aku di pendopo, barang-barangku lekas dibawa ke dalam oleh mbok Karsih, orang lama yang mengabdikan diri di sanggar. Aku melepas lelah di kursi jati unik di teras sambil memperhatikan beberapa penari yang sedang latihan. Ada satu yang aku kenal sejak kecil, dia adalah Lastri, penari muda yang sepantaran denganku. Bakatnya luar biasa, dan sudah pentas ke hampir ke seluruh negeri di Eropa. Aku kagum padanya, selain cantik, dia benar-benar wanita jawa idaman.

Aku lama memperhatikan para penari berlatih, tak sadar karena letih, aku pun tertidur sambil duduk. Entah dalam kesadaran atau tidak aku melihat para penari di depanku mengenakan pakaian tarian kerajaan yang mewah dengan wajah-wajah bercahaya. Aku terkesima dalam sejenak terutama ke arah Lastri, dia bak seperti putri keraton yang anggun nan gemulai.

Aku tak berani menatap matanya dan berusaha memejamkan mata dengan perlahan. Tanpa disadari aku mencium bau aroma jahe, aku membuka mataku dan menyadari tepat didepan wajahku segelas jahe hangat yang sengaja di sodorkan ke dekat hidungku oleh pakde. “minum ini untuk membuang letih dan mengeluarkan racun dalam tubuhmu”. Sahutnya. Lalu dia melanjutkan seperti menjawab keherananku “kamu kan dari mana-mana, kamu gak taukan bakteri apa atau kuman apa yang nempel ke kamu selama perjalanan”. Pikirku benar juga, ini masih lumrah. Pantas saja selalu kita dengar dari orang tua kita, kalau dari mana-mana cuci muka atau cuci kaki. Aku disini justru langsung dihidangkan wedang jahe.

Bersambung ke Part 1 – 07


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?