Ragam Wisata Budaya di Sulawesi Tenggara

784 views
0

WartaWisata.ID – Sulawesi Tenggara adalah salah satu provinsi dengan ibukotanya Kendari, dan mempunyai banyak sekali obyek wisata salah satu diantaranya Wisata Budaya, seperti berikut :

1. Tenunan Buton di kota Baubau, Kabupaten Buton dan Kabupaten Buton Utara;

Kerajinan tenun dari Kabupaten Buton, biasanya menggambarkan obyek alam yang mereka temukan di sekitarnya. Tenun Buton juga kaya akan warna yang menjadi ciri khasnya.

Oleh masyarakat Buton, kerajinan tenun ini dianggap mampu menjadi perekat sosial antar sesamanya, di mana pun mereka berada. Selain itu kain tenun tersebut juga bisa menggambarkan suatu kejadian yang kerap dikenang.

Salah satunya dapat anda lihat dalam motif Betano Walona Koncuapa, warna abu-abu halus yang melayang-layang menggambarkan hasil pembakaran semak saat membuka ladang.

Ada juga yang fungsinya sebagai penunjuk strata sosial dalam masyarakat Buton seperti motif Kasopa yang sederhana, biasa dipakai oleh perempuan kebanyakan. Ada pula motif yang lebih rumit, Kumbaea, yang didominasi warna perak dan biasanya dipakai oleh perempuan dari golongan bangsawan dengan gelar Wa Ode.

Kain Tenun Buton digunakan dalam setiap upacara adat dan ritual keagamaan. Menurut masyarakat Buton, jika kain tenun tersebut tidak disertakan dalam setiap upacara adat dan ritual maka hakikat dan nilai dari upacara dan ritual tersebut dinilai kurang sakral.

Selain sebagai perekat sosial, tenun Buton juga dianggap mampu menjadi identitas diri, karena bagi orang Buton, pakaian tidak hanya sebagai pelindung tubuh dari terik matahari dan dinginnya malam. Misalnya hanya dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh perempuan Buton, kita bisa mengetahui status pernikahan juga strata sosialnya.

Lekatnya tenun bagi masyarakat Buton membuat mereka merasa perlu melestarikannya. Sebab itu, warga asli Buton biasanya telah diajarkan cara menenun sedini mungkin. Bahkan konon keluarga kerajaan dan para bangsawan pun mahir menenun.

2. Tenun Ikat di Kabupaten Wakatobi;


Wisatawan yang datang ke Wakatobi kerap mencari oleh-oleh berupa kain tenun. Ada macam-macam pola yang berkembang, namun yang utama berbentuk garis memanjang, yang biasa dipakai oleh wanita, dan garis kotak-kotak, yang biasa dipakai pria. Biasanya penenun juga membuat satu set kain untuk dipakai berpasangan. Motif ikat juga ternyata dikenal di daerah ini.

Pola khas lainnya adalah penggunaan benang warna metalik (emas, perak, hijau, merah, biru dll) yang digabungkan dengan benang katun, sehingga ketika diterpa cahaya, kain berpendar cantik. Seiring dengan beragamnya pembeli kain saat ini, pengrajin mulai bekerjasama dengan perancang untuk membuat motif-motif baru. Saya sempat melihat beberapa motif hasil interpretasi baru yang sangat indah dan unik. Sayangnya, kain bermotif baru ini biasanya dibuat berdasarkan pesanan, dan tidak ready-stock untuk dibeli. Kain pesanan dengan motif yang rumit pembuatannya bisa memakan waktu satu bulan atau lebih.

3. Upacara Adat Mataa, dari Kabupaten Buton;

Mata’a atau dalam bahasa buton “bersenang-senang” merupakan pesta adat masyarakat suku cia-cia Laporo, Baubau, Sulawesi Tenggara. Pesta adat ini merupakan bentuk rasa terima kasih karena berhasil dalam masa panen. Pesta adat ini biasanya digelar menjelang masa tanam berikutnya.

Ada beberapa prosesi yang dilakukan dalam pesta adat mata’a yaitu “Pisampea” atau mengheningkan cipta yang dipimpin oleh ketua adat. Dalam prosesi ini semua yang hadir dalam pesta adat ini berdoa untuk para leluhur dan tokoh adat yang sudah mendahului, “mendoakan mereka yang telah pergi supaya diampuni dosanya dan berdoa agar para pengikut adat diberi kekuatan dalam melestarikan budaya serta adat” tutur salah satu peserta yang hadir.

Prosesi selanjutnya yaitu ’buloliano galampa’ yang berarti berjalan mengintari baruga sebanyak empat kali sembari membawa “wawonii” atau makanan yang disimpan pada sebuah wadah yang berbenua sisi kehidupan.

Bentuk segi empat menandakan bahwa masyarakat Laporo yang mendiami empat arah yakni utara, selatan, timur dan barat dari semua sisi kehidupan diberi limpahan rezeki yang melimpah dari yang Maha Kuasa.

Setelah prosesi buloliano, pemuka adat memimpin doa dengan tujuan agar masyarakat “patowala patosingku” dalam melaksanakan segala kegiatan atau usahanya selalu diberi perlindungan, kekuatan dan diberi kemudahan rezeki atas apa yang diusahakannya oleh yang Maha Kuasa.

4. Pekande-kandea, upacara adat masyarakat Buton Raya (Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kota Baubau, Kabupaten Wakatobi);


Kande-kandea/Pekakande-Kandea atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Makan-Makan, adalah acara pesta adat suku Buton yang dilangsungkan sekali dalam setahun dan merupakan acara adat istimewa yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat suku Buton khususnya masyarakat Kelurahan Tolandona dan sekitarnya. Acara tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Seperti asam dan garam, Pesta adat Kande-kandea adalah acara wajib yang tidak dapat terpisahkan dengan Kelurahan Tolandona dan telah menjadi icon pengenal ketika masyarakat suku Buton dari desa lain atau dari kelurahan lain atau bahkan kota-kota sekitar kepulauan Buton, ketika mendengar Tolandona maka mereka akan mengingat acara Kande-kandea.

Menurut sejarah, acara tradisi Kande-Kandea Tolandona diadakan sebagai acara tradisi penyambutan Para Tamu Negara Kesultanan Buton yang berkunjung di Tolandona pada masa lampau dan juga sebagai acara penyambutan para pahlawan negeri yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan sebagai wujud syukur. Hingga saat ini acara tradisi Kande-Kandea telah menjadi acara wajib yang selalu diadakan setiap tahunnya namun bukan lagi sebagai acara tradisi seperti yang telah disebutkan dalam sejarah tetapi telah menjadi wujud syukur telah melaksanakan puasa di Bulan Suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

5. Pengrajin Besi, di Binongko, Kabupaten Wakatobi;

6. Upacara Adat Posuo, Tandaki, dan Posusu (Masyarakat Buton Raya);


Tradisi Upacara Pasuo di Sulawesi Tenggara sudah berlangsung sejak zaman kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana peralihan seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe) serta untuk mempersiapkan mentalnya. Upacara tersebut diadakan delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh masyarakat disebut dengan suo. Selama di kurung di suo, peserta di jauhkan dari dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin upacara posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual dan pengetahuan membina keluarga yang baik untuk para peserta.

7. Upacara Adat Kabuenga, dari Kabupaten Wakatobi;

Tradisi untuk mencari pasangan hidup di Wakatobi ini bernama kabuenga. Tradisi yang memang rutin diselenggarakan di Kepulauan Wakatobi tiap tahunnya ini digelar di lapangan terbuka dan diikuti semua penduduk Wakatobi yang sudah akil balig, perempuan maupun laki-laki. Dalam tradisi ini setiap laki-laki dan perempuan yang menyatakan berniat untuk hidup bersama disandingkan pada semacam ayunan di tengah-tengah lapangan terbuka agar semua orang dapat menyaksikannya.

Untuk menggelar tradisi Kabuenga, pertama-tama penduduk menyiapkan ayunan di tengah-tengah lapangan terbuka sebagai media pertemuan laki-laki dan perempuan yang akan mencari jodoh, hingga diucapkannya ikrar untuk hidup bersama. Dalam tradisi Kabuenga, para wanita yang akan mencari pasangan hidup berkumpul melingkari ayunan dengan mengenakan pakaian adat Wakatobi. Mereka juga membawa bermacam makanan tradisional dengan warna mencolok dan ditata sedemikian rupa hingga terlihat menarik.

Kemudian para wanita ini menarikan sebuah tarian yang disebut tarian pajoge dengan iringan gendang dan bunyi gong sebagai pembuka prosesi sakral tersebut. Ketika tarian sedang dimainkan oleh para wanita tadi, kaum laki-laki dipersilakan memberikan uang kepada sang wanita.


Makna filosofis tarian itu bercerita tentang adat kebiasaan sebagian kaum laki-laki Wakatobi yang selalu menjadi perantau di negeri orang. Dalam perantauan inilah mereka berjanji bahwa bila pulang ke Wakatobi nanti akan menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk diberikan kepada para penari yang menyambut kepulangannya.

Untuk mengiringi prosesi kabuenga ini, para pemangku adat kemudian berjalan mengelilingi ayunan Kabuenga tadi sambil mengalunkan kidung-kidung tradisional.

Setelah pemangku adat menyelesaikan alunan kidungnya kemudian dilanjutkan oleh kaum wanita yang juga mengelilingi ayunan tadi sebanyak tujuh kali sambil juga mendendangkan lagu-lagu tradisional Wakatobi dengan membawa minuman ringan yang pada saatnya akan diberikan kepada pria yang dicintainya. Kaum perempuan yng berada dalam barisan ini disebut sebagai kelompok Kadandio.


Ketika menjalankan prosesi ini kaum wanita yang tergabung dalam kelompok Kadandio diharuskan untuk berperilaku sopan santun kepada seorang laki-laki yang akan diberi minuman persembahan tadi agar sang lelaki menjadi terkesan dan mau menerima minuman pemberian sang wanita. Prosesi pemberian minuman ini disebut sebagai adat Pasombui.

Setelah kaum perempuan selesai kini giliran sang lelaki melakukan hal yang sama yaitu mengelilingi ayunan sebanyak tujuh kali. Tapi berbeda dengan sang wanita yang membawa minuman ringan, para lelaki ini sambil melantunkan pantun membawa semacam parcel yang berisi macam-macam kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan hingga pakaian.

Yang menarik dari prosesi ini adalah setelah sang lelaki menyerahkan barang-barang yang dibawanya kepada sang perempuan, dilanjutkan dengan berbalas pantun. Dalam berbalas pantun ini pantun-pantun yang dilantunkan oleh kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) berisi tentang ungkapan-ungkapan cinta kepada pasangannya hingga kemudian keduanya berikrar untuk hidup bersama sehidup semati.

Setelah keduanya berikrar maka keduanya pun diantar oleh pemangku adat menuju ayunan kabuenga. Setiap pasangan yang duduk di atas ayunan itu kemudian diayun oleh sang pemangku adat tadi sambil dinyanyikan irama syair dan pantun.

Setelah melewati prosesi ini setiap pasangan selanjutnya berpisah dan kembali pulang ke rumah masing-masing sambil menunggu pembicaraan antar kedua keluarga untuk kemudian menuju pelaminan.

8. Upacara Adat Karia, dari Wangi-wangi di Kabupaten Wakatobi;


Pesta adat Karia’a merupakan tradisi sunatan khas masyarakat Kaledupa. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh keluarga di suatu tempat, yang kemudian secara beramai-ramai mengusung anak yang telah di sunat, dan di arak berkeliling kampung. Kegiatan Karia’a bisa dilihat pada Agustus setiap tahun berjalan atau pada bulan Februari.

Dan masih banyak lagi Upacara adat dan kegiatan kebudayaan yang terpendam yang perlu digali dan dilestarikan.

Komentar kamu?