Selasar Peristiwa – Patriot Nusantara (Part 1 – 01)

“Indonesia tidak dibangun dalam semalam seperti cerita candi prambanan. Dan satu hal yang pasti sejak jaman leluhur kita ribuan tahun lalu hingga kini. Bangsa luar akan selalu berusaha memiliki tanah kita, Nusantara ini”. Sesaat itu hal biasa buatku, namun ibarat sebuah bom kecil petasan mercon dia menambahkan “tidak, bukan rempah-rempah atau kekayaan emas permata ataupun lainnya mereka menjajah Indonesia, tapi karena Mustika Kuno yang telah tertanam lama di setiap penjuru Nusantara ini”.

614 views
0

PATRION – Seorang guru sejarahku ketika aku SMP pernah berkata “Indonesia tidak dibangun dalam semalam seperti cerita candi prambanan. Dan satu hal yang pasti sejak jaman leluhur kita ribuan tahun lalu hingga kini. Bangsa luar akan selalu berusaha memiliki tanah kita, Nusantara ini”. Sesaat itu hal biasa buatku, namun ibarat sebuah bom kecil petasan mercon dia menambahkan “tidak, bukan rempah-rempah atau kekayaan emas permata ataupun lainnya mereka menjajah Indonesia, tapi karena Mustika Kuno yang telah tertanam lama di setiap penjuru Nusantara ini”.

Boom! Itu hal tak biasa yang aku dengar, pikirku itu hanya cerita karangan guruku saja. Dia mengkhayal atau mencari sensasi. Tapi kalau dilihat dari latar belakangnya, pendidikan guruku itu sarjana cumlaude, dan mengambil S-2 di Russia. Bahkan kudengar dia hampir mendapat penghargaan nobel. Itu cerita mustahil lain bagiku. Mana ada dalam sejarah dunia ini, orang Indonesia bisa meraih nobel.

Entah tak berapa lama setelah dia menjelaskan soal bom sejarah itu saat belasan tahun lalu, mantan guru sejarahku itu hilang seperti ditelan bumi. Padahal meski dia hanya guru tamu luar yang diundang mengajar sekitar dua bulan saja. Tapi Koran-koran sempat ramai memberitakan soal kehilangan dia. Tiada yang tahu dia berada dimana, semoga dia baik-baik saja pikirku saat itu. Tinggallah aku yang kini teronggok gelisah karena memperoleh sebuah pelajaran belum selesai soal Indonesia. Aku masih penasaran hingga kini karena hal itu menarik bila digali lagi lebih dalam apa kelanjutan cerita tersebut.

Itulah awal napak tilas soal kenanganku terhadap Indonesia. Dimana saat itu aku belajar di sebuah sekolah bonafid yang jauh dari mengenal Indonesia. Ketika sekolah lain mengajarkan lagu-lagu daerah Indoensia. Sekolahku memaksa muridnya menguasai lagu-lagu barat. Tujuannya sepele hanya agar anak Indonesia bisa bersaing secara global menggunakan bahasa Inggris. Namanya murid kita nurut aja pokoknya. Saat itu.

Kini aku adalah mahasiswa pariwisata tahun ke tiga di sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Selatan Jakarta. Bidang ini aku ambil berawal dari sebuah harapan supaya aku bisa keliling Indonesia. Aku tak mau hanya menjadi pendengar dan pemerhati saja ketika banyak orang asing menikmati Indonesia dengan menyusuri pesona alamnya.

Di sisi lain aku yang memiliki darah murni Indonesia merasa malu karena hanya bisa diam melongo menonton TV program luar yang mengeksplor Indonesia. Satu hal kekhawatiran lain, aku tak yakin Indonesia ini akan bertahan berapa puluh tahun lagi dengan kekayaan yang beragam ini. Beda suku beda bangsa, beda bahasa dan benar-benar luar biasa.  Alasanku jelas, nyaris hampir 95 persen keseharian yang aku lihat di mana-mana, semua orang menyukai segala sesuatu yang serba luar negeri. Pertanyaan sederhana apakah sepuluh tahun lagi anak-anak Indonesia benar-benar tahu apa itu Indonesia dan bisa jadi karakter mereka bukan lagi bukan karakter Indonesia. Kita lihat saja nanti.

Bersambung ke Part 1 – 02

Komentar kamu?