Patrion Nusantara (Part 1 – 04)

Terimakasih kamu telah membantuku menemukannya. Mulai sekarang kamu harus melupakan semua kejadian hari ini dan pertemuan kita ini

230 views
0

PATRION – Tak cukup waktu lama aku bisa menemukan manuskrip yang diinginkan, karena aku termasuk cepat mengingat sebuah simbol dan mendata dengan rapih yang pernah aku catat. Jujur saja aku memang malas membaca dan hanya melihat buku dari sampulnya, seperti kebanyakan orang Indonesia yang minat bacanya kurang.

Sampai aku tak menyadari bahwa kakek tua itu sangat berterimakasih padaku dan meminta semua dataku serta email untuk memastikan bahwa aku berhak mendapatkan apa yang sudah semestinya aku dapatkan.

“Terimakasih kamu telah membantuku menemukannya. Mulai sekarang kamu harus melupakan semua kejadian hari ini dan pertemuan kita ini”. Terang kakek tua itu dalam logat aksen Belanda. Aku pun pulang dan entah apa yang dilakukannya kemudian. Setahuku dia hanya membaca sejenak dan menaruhnya kembali.

Aku keluar dari perpustakaan melewati detektor, sambil sejenak memperhatikan kebelakang ke arah kakek tua itu agar jangan sampai dia mencuri sesuatu. Toh pun dia tidak akan bisa mencurinya, karena kalau dia berniat membawa manuskrip itu dan menyembunyikannya akan mudah dideteksi oleh detektor canggih ini. Jadi aku tak perduli dia mencuri atau tidak, dia tidak akan berhasil. Itu kesimpulanku.

Sejenak dari kejauhan dia menunjukkan padaku tanda dilengannya sambil tersenyum ke arahku. Aku pun tersenyum memberikan isyarat kalau orang indonesia juga ramah senyum. Aku pun pergi meninggalkan perpustakaan seperti hari biasanya.

Aku sampai di rumah temanku, bernama Hilda. Dia seorang kelahiran Jawa yang menikah dengan bule asli Belanda. Aku disini karena hanya dia yang bisa membantuku di negeri asing ini. Tapi aku tetap membayar kos yang dimana itu milik mertuanya. Meski aku temannya aku tetap bayar namun diberi diskon harga teman. Kamarku hanya cukup untuk tidur dan nonton tv, karena disebelah kamarku ada bebeberapa TKI Indonesia ilegal yang juga menetap, aku berbagi ruangan dengan mereka dan hanya disekat oleh tembok kayu.

Kadangkala petugas imigrasi belanda datang memeriksa, tapi karena kamarku ini seperti kamuflase jadi mereka bisa aman. Beberapa TKI silih berganti berdatangan setiap 3 bulan sekali. Umumnya setelah beberapa bulan mereka dapat green card atau izin barulah mereka pindah. Ini adalah kisah singkat kesulitan hidupku sebelum semuanya berubah gara-gara sebuah manuskrip kuno. Karena manuskrip kuno itulah aku meninggalkan semua impianku selama ini dan aku mendapat tugas berat seolah-olah hanya aku saja di dunia ini yang mengembannya, yaitu mencari dan mengumpulkan kepingan manuskrip kuno yang akan mengupas rahasia terbesar Planet Bumi ini dari sebuah titik yaitu Nusantara.

Bersambung ke Part 1 – 05


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?