Manuskrip Dalam Kereta – Patriot Nusantara (Part 1 – 02)

Dia sudah menemukanku, aku sudah melakukan tugasku dan waktunya harus pergi. Ingatlah kemenangan Liverpool melawan kuda troya, jangan sampai salah pada pujangga

336 views
0

PATRION – Pagi itu aku harus mengejar kereta ke Yogyakarta demi mengejar tugas praktekku untuk magang menjadi seorang pemandu wisata. Lewat jalur pamanku sebagai salah seorang penari senior di Sendratari Ramayana Prambanan, aku direkomendasikan ke temannnya yang menjadi seorang pengurus di sana.

Meski nafas ini sedikit tersengal karena lari mengejar kereta, akhirnya aku bisa duduk nyaman juga sambil mengatur irama nafasku yang selaras dengan bunyi peluit masinis memberi aba-aba berangkat. Mataku tanpa sadar sedikit lelah, sepintas sebelum aku menutup kedua mataku, aku melihat seorang tua yang menatap tajam ke arahku. Pikirku mungkin aku mirip dengan salah satu cucunya atau teman anaknya, atau apalah. Aku tak perduli. Aku lanjut memejamkan mata berusaha terlelap berharap aku nanti bangun saat kereta ini sampai di Purwokerto lima jam lagi, dan aku bisa menikmati pemandangan hamparan padi serta perbukitan dari balik jendela.

Gunarto Bin Helsing – Seorang kakek tua jawa keturunan belanda yang masih terlihat bugar, baru saja duduk di kursi dalam kereta api. Tatapannya ke arah luar jendela melihat satu persatu penumpang lainnya naik. Saat seorang berpakaian jas rapih bergaya pengusaha naik, wajah Gun terlihat gusar. Sebuah gulungan kecil yang terbuat dari kulit hewan berisi tulisan palawa di genggamnya erat-erat. Di melihat kanan kiri berusaha menyembunyikan benda itu dari orang asing tersebut. Kebetulan aku yang sedang celingukan mencari nomor kursi lewat di depannya.

Gun memasukkan benda itu kedalam tasku yang resletingnya sedikit terbuka. Lalu dia duduk lagi dan berusaha untuk tenang. Tiba-tiba orang asing yang dikhawatirkannya itu duduk disampingnya sambil menawarkan sebuah kotak bakpia yang sudah terbuka. Gun tahu bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Orang asing itu dengan ekspresi marah tidak mendapatkan apa yang dia cari. Gun sambil menikmati bakpia melihat kearahku dengan tajam. Langsung saja orang asing itu mengajak Gun keluar dari dalam kereta tepat sebelum kereta berangkat. Gun pergi melihat diriku yang terlelap tidur dari balik jendela sambil pasrah dirinya dibawa oleh orang asing.

Di luar stasiun kereta, Gun terburu-buru menuju halaman luar stasiun. Sementara orang asing itu hanya melihat Gun dari kejauhan. Gun masuk bergegas ke dalam taxi dan meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit terdekat, dia menekan keras dadanya agar masih bisa mengalirkan udara ke jalur pernapasannya akibat makanan beracun yang diberikan orang asing itu. Gun menghubungi seseorang dengan HP-nya “Dia sudah menemukanku, aku sudah melakukan tugasku dan waktunya harus pergi. Ingatlah kemenangan Liverpool melawan kuda troya, jangan sampai salah pada pujangga”. Gun lekas menutup koneksi selularnya, membuang simcardnya dan langsung menyetel kesetelan pabrik. Taxi gun sampai didepan ruma sakit. Gun memberikan HP-nya ke supir Taxi. “ini hadiah buat kamu, dan ini ongkosnya”. Supir Taxi diam terbengong sambil memegang HP dan uang. Gun berbegas menuju pintu UGD RS.

Arum Hapsari – Gadis elegan berusia dua puluhan tahun itu sedang duduk di Gazebo mewah pinggir Pantai. Dengan selendang tipis bermotif khayangan yang menyelimuti bawah pinggangnya, sementara kemben modern Versace yang membungkus tubuhnya menunjukan dia adalah wanita berkelas. Wajahnya sangat kesal setelah mendapat telpon dari Gun. Air matanya perlahan menetes sambil memendam amarahnya. Meski demikian, paras cantik alaminya tidak tertutupi. Arum menghela nafasnya dan berpikir sejenak semua yang dikatakan Gun “Selamat jalan Pak Gunarto, semoga kamu mendapat tempat yang terbaik”. Arum mengambil HP-nya dan menghubungi seseorang “Kirim karangan bunga duka cita kerumah pak Gun, masukan sepuluh persen sahamku untuk dibagikan ke pewarisnya”. Arum menutup komunikasinya kemudian mengambil secarik kertas dan pulpen dari sebuah bar kecil didekatnya. Dia mulai menulis deretan angka 7 – 6 – 11 lalu berpikir sejenak dan kemudian menuliskan kata – Gerbong ke 7 Bangku F11 Arya Dwipangga.

Bersambung ke Part 1 – 03

Komentar kamu?