Kepingan Awal Manuskrip – Patriot Nusantara (Part 1 – 03)

Aku terperangah kalau di masa lalu sudah ada agen rahasia terselubung dalam peperangan di Indonesia. “Ini aneh dan berbahaya untuk Nusantara, juga kedamaian dunia”

423 views
0

PATRION – Suasana hening dalam perpustakaan Leiden di negeri Belanda mengingatkan diriku akan kampung halamanku di Yogya ketika aku kecil. Perpustakaan dengan jutaan buku yang seluruhnya berasal dari penjuru dunia, tersimpan dalam sebuah data base besar, dimana setiap orang sangat mudah mendapatkan buku yang diiginkannya dengan hanya mengklik petunjuk dalam layar komputer. Berbanding terbalik dengan kondisi aku di kampung yang dulu hanya dapat buku bekas dari sisa-sisa punya orang.

Aku Arum Hapsari, aku menjadi penjaga perpustakaan ini sudah setahun, disini aku mengisi waktu luang sekaligus mencari penghasilan tambahan untuk bisa membayar kuliahku. Melalui taktik Pedekate militan ala pejuang empat lima ke misis Sandra, petugas senior perpustakaan ini, aku bisa berada disini dengan kesepakatan khusus yaitu harus bekerja setiap pulang kuliah.

Jleb ! Seekor burung menabrak sebuah jendela tepat dimana arah mataku memandang keluar ketika aku sedang memperhatikan gemuruh di langit menjadi kelabu. Tiada isyarat apapun yang aku rasakan, hanya saja seperti tak biasa kejadian itu. Sore itu datang seorang tua veteran perang asli Belanda, sangat tua dan keriputnya berlipat pekat yang menegaskan bahwa orang tua ini usianya sudah lebih dari sembilan puluh tahun. Anehnya matanya masih tajam dengan langkah yang tidak goyang seperti kakek lain pada umumnya.

Sehari dua hari aku melihat sosok kakek tua itu, dia hanya berseliweran di sekitar area buku lama bertema sejarah lama Dunia. Dia selalu membuka dan membaca buku pilihannya dengan penuh ketelitian. Dugaanku, dia hanya kangen saja dengan masa lalu, mungkin mengingat memori tua saat menjadi seorang tentara. Tapi tunggu dulu, bisa saja dia dulunya pernah bertempur degan kakekku. Atau bahkan dialah yang membuat kakek buyutku tewas di bom. Gumamku “dia kan orang belanda tua, seperti tanpa daya kini namun penuh dengan pengalaman berat dimasa lalu”. Aku tersentak saat dia menanyakan sebuah buku soal Nusantara. Wow ini kan tanah kelahiranku, gumam dalam hatiku, tapi aku penasaran apa yang ingin dia ketahui soal Indonesia. Aku membantunya mengambilkan buku-buku Indonesia yang ada dalam labirin perpustakaan, seluruhnya bertema nusantara. Aku berikan ke dia, tapi tidak ada satupun yang sesuai dengan yang dia inginkan.

Kesal nampak jelas di wajah veteran tua belanda itu. Aku pun menerka-nerka apa yang dia mau sebenarnya. Dengan keterbatasanku berbahasa Belanda aku berdialog dengannya soal masa lalu dia. “aku mengemban misi khusus saat aku dulu bertugas di Indonesia, usiaku saat itu masih dua puluh tahun, dan tidak ada seorangpun yang tahu kecuali Jenderal Besar belanda Van Gordehnk yang menugaskanku kala itu apa tugasku sebenarnya”. Dia menjelaskan dengan penuh antusias. Aku terperangah kalau di masa lalu sudah ada agen rahasia terselubung dalam peperangan di Indonesia. “Ini aneh dan berbahaya untuk Nusantara, juga kedamaian dunia” pungkasnya memotong diamnya diriku. Aku penasaran apa yang aneh dan bertanya balik ke dia dengan bahasa belanda “keanehan apa di dalam sesuatu yang aneh dalam diri anda”. Dia menatap heran pada diriku, seraya berbisik pelan dan tajam “kamu harus menemukan manuskrip kuno itu segera!”.

Sadar sepenuhnya diriku saat itu, saat aku melihat jam di penghujung penutup perpustakaan di hari itu beberapa menit lagi. Namun kakek tua itu tetap saja masih sibuk mencari-cari di bagian khusus manuskrip lama yang berjumlah enam puluh ribu lembar. Aku bantu dia mencari dan memintaku harus mencocokkan dengan sebuah simbol gambar Atlantis yang ada di balik lengan yang keriputnya. Gambar itu seperti sebuah prisma segi delapan dengan gambar burung phoenix di tengahnya. Kakek tua itu memberikanku selembar kertas kosong berisi cek sambil berucap “kamu tulis berapapun angka yang kamu inginkan, asalkan kamu bantu aku menemukan buku itu malam ini juga”. Aku masih berpikirin naif kala itu dan asal menulis saja sejumlah 10 juta rupiah saja yang aku harapkan untuk membayar kos yang terlambat bulan kemarin. Tapi belakangan aku baru menyadari bahwa angka 10 juta itu bukanlah rupiah melainkan Gulden. ini merupakan kisah tersendiri yang nantinya akan membuat perjalananku berbeda, tidak hanya sekedar menjadi penjaga perpustakaan tapi seorang terpenting dalam dunia ini.

Bersambung ke Part 1 – 04


Kembali ke cerita awal (Part 1 – 01)

Komentar kamu?