Mengarungi Tujuh Samudera

188 views
0

WartaWisata.ID Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Pinisi menggunakan jenis layar sekundar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia.

Konon, nama Pinisi ini diambil dari nama seseorang yang bernama Pinisi itu sendiri. Suatu ketika dia berlayar melewati pesisir pantai Bira. Dia melihat rentetan kapal sekitar laut sana, dia kemudian menegur salah seorang nahkoda kapal tersebut bahwasanya layar yang digunakannya masih perlu diperbaiki. Sejak saat itu orang Bira berfikir dan mendesain layar sedemikian rupa dan akhirnya berbentuk layar Pinisi yang seperti sekarang ini. Atas teguran orang tersebut maka orang-orang Bira memberi layar itu dengan nama Pinisi.

Kapal kayu Pinisi ada di Nusantara sejak berabad-abad yang lalu, dari berbagai naskah Lontarak Babad I La Lagaligo (abad ke 6), cikal bakal kapal Pinisi sudah ada sebelum tahun 500an. Catatan pembuatan Pinisi yang masuk dalam Babad I La Lagaligo, untuk pertama kali dibuat oleh Sawerigading (Pendiri Agama Lokal – yang lahir tahun 564 M, atau 7 tahun lebih dahulu dari kelahiran Nabi Muhamad yang lahir pada tahun 571 M).
Dari catatan sejarah pembuatan Kapal Pinisi sendiri, tercatat pertama kali bahwa pembuatan kapal tersebut diperuntukan bagi Sawerigading yang Putera Mahkota Kerajaan Luwu, untuk berlayar menuju negeri Tiongkok, dalam rangka meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Sejarah Kearifan Lokal dan Gotong Royong masyarakat setempat, terlihat ketika merekamembangun perahu pinisi. Orang-orang Ara bergotong-royong untuk membuat badan kapal, sementara orang-orang di Tana Lemo yang merakit badan kapal tersebut (hasil buatan orang-orang desa Ara), dan terakhir orang-orang Bira merancang tujuh layar yang hingga kini dipakai oleh kapal Pinisi. Kemudian masyarakat ketiga desa tersebut menamakannya sebagao Kapal Pinisi.

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok, dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah sempat menetap lama di Tiongkok, Sawerigading beserta istri dan anaknya berniat kembali ke Luwu “kampung halamannya” dengan menggunakan kapat yang digunakannya ketika ia berangkat ke Tiongkok dahulu. Menjelang memasuki perairan Luwu, Pinisi diterjang gelombang besar, dan akhirnya terbelah menjadi tiga bagian.

Di era globalisasi pinisi sebagai kapal barang berubah fungsi menjadi kapal pesiar mewah komersial maupun ekspedisi yang dibiayai oleh investor lokal dan luar negeri, dengan interior mewah dan dilengkapi dengan peralatan menyelam, permainan air untuk wisata bahari dan awak yang terlatih dan diperkuat dengan teknik modern. Salah satu contoh kapal pesiar mewah terbaru adalah Silolona berlayar di bawah bendara.

Komentar kamu?